Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Lala


__ADS_3

Apartemen itu begitu luas dengan dua buah ruang tamu. Rania lalu duduk di ruang tamu. Jovan memilih untuk berdiri di sudut jendela untuk melihat keberadaan Arkhan. Melihat Arkhan masih tetap pada posisinya, Jovan segera mematikan salah satu lampu kamar yang jendelanya menghadap jalan.


Jovan merasa sudah menang telak dari Arkhan. Bukankah dengan mematikan salah satu lampu kamar akan membuat Arkhan berpikir berkali – kali lipat untuk berharap banyak pada hubungannya dengan Rania ? , Jovan membatin. Setelah melihat kepergian Arkhan, Jovan lalu duduk di dekat Rania.


“ aku akan menunggumu Rania !” Jovan mulai membuka percakapan. Rania hanya mengangguk – anggukan kepalanya.


“ Sudah aman, ayo kuantar pulang !” Jovan berbicara sambil berjalan keluar dari pintu apartemen itu.


Rania segera keeluar, menyusul Jovan . Mereka berdualalu masuk kedalam mobil. Mobil itu pun melaju menuju apartemen Rania.


Sementara itu di dalam apartemen Rania, Lala berjalan mondar – mandir di dalam ruang tamu apartemen . Ia sangat gelisah karena Rania belum juga pulang. Tiba – tiba saja pintu apartemen itu diketuk. Lala segera mebuka pintu karena berpikir bahwa yang datang pastinya Rania, sahabatnya. Namun, Lala menjadi sangat terkejut ketika yang terlihat didepan pintu itu adalah Dody. Ia jadi salah tingkah. Jantung nya berdetak dengan begitu cepatnya.


” Jangan masuk !” Lala berbicara spontan sambil setengah berlari, masuk kedalam apartemen. Dody yang melihat keanehan tingkah laku kekasihnya itu Cuma tersenyum simpul.

__ADS_1


“ Lalu kenapa membukakan pintu ?” tanya Dody sambl melangkah masuk dan duduk di kursi . Lala bergegas berjalanmenuju ke pojok ruangan, menjauhi Dody. Dody kembali tersenyum.


“ Ayo duduk, kenapa berdiri saja disitu !” Dody mengajak Lala untuk duduk. Namun Lala masih saja berdiam diri di tempatnya, tak beranjak sedikitpun. Lala terlihat sangat panik karena mengingat pesan dari Rania, “ingat, jangan mau di grepe – grepe”.


Dody baru saja berdiri dan hendak berjalan menuju Lala. Akan tetapi, tiba tibas saja mengangkat tangan kanannya sambil membuka telapak tangan sambil berkata “ stop…., Stop…., jangan kemari !”


Dody akhirnya kembali duduk dan tertawa terbahak – bahak melihat tingkah laku Lala yang semakin aneh.


“ Ke..kenapa ? Tanya Lala gugup.


“ Memangnya kamu tidak capek berdiri terus ?” Dody balik bertanya. Lala hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Dody lalu segera ke dapur, mengambil segelas air untuk diminum karena ia tiba – tiba saja merasa haus. Ingin sekali ia menyuruh Lala untuk mengambilkan untuknya, tapi setelah dipikirkan kembali, Lala pastinya tidak akan mau. Disuruh duduk saja ia menolak, apalagi disuruh masuk ke dalam dapur.


Baru saja Dody hendak duduk, tiba - tiba Rania melangkah masuk kedalam apartemen. Lala bergegas menyabut sahatanya itu dengan perasaan bahagia.Ia merasakan bahwa akhirnya terbebas dari marabahaya yang sedang mengintainya.

__ADS_1


“ Ada tamu rupanya !” Rania menyapa Dody sambil tersenyum. Terlihat gurat kelelahan di wajahnya. Dody hanya tersenyum. Lala segera ke dapur untuk untuk membuatkan minuman.


Tiga gelas teh hangat dan sepiring camilan sudah terhidang di atas meja.


“ Ayo, diminum !” Rania mempersilahkan Dody untuk minum. Mereka bertiga ahkhirnya minum bersama.


“ Sejak kapan kamu datang ? “ tanya Rania sambil tersenyum menatap Dody.


“ Baru beberapa menit yang lalu !” jawab Dody seadanya. Rania hanya mengangguk – anggukan kepalanya. Ia lalu segera menghabiskan teh nya dengan sangat cepat.


“ Lanjutkan ngobrolnya !” Rania berkata sambil bergegas menuju kamar. Ia merasa sangat kelelahan. Kejadian hari ini sangat menguras emosi dan tenaganya.


Setelah masuk kedalam kamar, Rania lalu bergegas tidur. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya ia terlelap.

__ADS_1


__ADS_2