
Rania tidak pernah menduga bahwa pria itu akan muncul didekatnya secara tiba - tiba seperti itu. Wajah gadis itu pucat pasi dan jantungnya berdebar - debar. Secara refleks dia berdiri dan menatap pria itu dengan ekpresi terkejutnya.
Sebelum gadis itu berkata - kata, tanganya sudah ditarik keluar ruangan itu. Rania mencoba untuk memegang pintu ruangan agar bisa tetap bertahan didalam ruangan itu tapi sia - sia. Kekuatan penuh amarah itu ternyata tidak bisa ia lawan sedikitpun.
Gadis itu keuar ruangan dengan tatapan heran dari semua karyawan yang hadir disitu. Dengan refleks dia menggigit tangan pria itu, tapi pria itu tetap menariknya. Bahkan tangan gadis itu sudah sangat sakit karena cengkeramannya yang sangat kuat.
Beberapa menit kemudian gadis itu sudah dibawa ketempat parkiran. Pintu mobil dibuka dan .... dugghhhhh. ! Tubuh Rania sudah dihempaskan kedalam mobil. Sang bos pun masuk kemobil dan duduk disampingnya.
Sekertaris Joy melihat mereka berdua lewat kaca. Setelah itu mobil pun melaju dengan santai.
Tubuh Rania bergetar. Jantungnya berdebar dengan kencangnya. Wajahnya pucat pasi. Gadis itu pun segera merapat kesisi mobil untuk menjauh dari sang bos. Roknya yang sedikit terangat memamerkan pahanya yang putih secara refleks ditarik untuk menutupinya.
Jovan melihat gadis itu dengan tatapan tajam penuh amarah. Rania pun semakin ketakutan dibuatnya.
"Jadi begitukah caramu? karena tidak setuju dengan perjodohan itu, keluar dari perusahaanku untuk mencari perhatian pria lain ?" Jovan berbicara dengan lantang sambil menatap ujung rok Rania. Yang ditatap semakin menunduk tidak bisa berkutik.
__ADS_1
Mobil pun memasuki area parkir kantor yang lama. Rania kembali diseret memasuki gedung itu. Terakhir dia dibawah keruangan sang bos, tubuh gadis itu dihempaskan diatas sofa. Pintu dikunci.
Sementara itu Sekertaris Joy tetap duduk didalam mobil. Dia memilih untuk tidak ikut campur atasannya yangbkelihatan sedang kalap.
"Satu minggu saya bertahan dengan perasaan berdosa. Rasa berdosa karena telah menyakiti perasaan perempuan yang telah dijodohkan dengan saya."
"Saya berfikir bahwa perempuan tidak tahu apa - apa tentang perjodohan ini. Karena pakaiannya sangat sederhana, penampilanya sangat sederhana."
"Tapi ternyata saya salah sangka. Perempuan itu tau tentang perjodohan itu."
"Begitukah caramu menolak ku. Apa hak mu menolak ku. ? Apa hak mu menolak ku. ? "
Nyawa Rania seperti mau terbang. Kalau saja dia bisa lari, mungkin saja dia akan segera lari dari tempat itu. Selain pintu ruangan itu sudah terkunci, kaki gadis itu pun terasa sangat lemah.
Sang bos menghapiri gadis itu. Dia pun mulai **** tubuh gadis. Mencium wajah gadis itu dengan begitu rakusnya. Bibir gadis itu sudah dilumat dengan penuh amarah.
__ADS_1
" Hentikan !, kumohon hentikan ! "kata Rania. Tangis Rania memecah ruangan itu.
" Inikah yang kau cari ditempat itu ? cara berpakaian yang seperti ini bukankah untuk menggoda pria ditempat itu. ?"
Kemeja Rania sudah dirobek dan dilemparkan kelantai. Untung saja gadis itu mengenakan singlet. Tapi Jovan tidak kehilangan akal. Dia memasukan tangannya kedalam singlet gadis itu dan mulai bergerilya.
Gadis itu menangis dan memohon ampun kepada sang bos.
" Tolong, tolonglah aku, aku mohon." Rania meminta ampun sambil memegang lutut sang bos.
Akan tetapi......
****
Para pembaca yang budiman. Mohon Kritik dan sarannya ya !
__ADS_1
Biar tambah semangat nulisnya. Salam hormat. !
🐾🐾🐾