
Arkhan segera menuju ke apartemen Rania. Lama sekali ia berdiri di depan apartemen itu. Menatap pintu apartemen itu dengan bebagai macam pikiran berkecamuk. Pikiran buruk terlintas didalam otaknya. Apa yang telah dilakukan Rania dan pria itu ? didalam apartemen itu. Pria dan wanita saling bertemu. Apa lagi yang akan dilakukan selain…? Otak Arkhan semakin kacau memikirkannya. Amarahnya semakin bertambah – tambah. Kebeciannya terhadap Rania semakin memuncak. Ia lalu mengetuk pintu apartemen itu sambil memanggil – manggil nama Rania.
Rania…, Rania…, buka pintunya !” . Terdengan suara Arkhan memanggil - manggil nama Rania. Rania sangat terkejut. Rania terpaku.Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia berdiri menatap pintu apartemen itu dengan penuh kekhawatiran. Suara ketukan pintu terdengar terdengar semakin kuat seperti hendak di dobrak dari luar.Lala ikut terkejut dibuatnya.Karena saking terkejutnya, Ia segera berlari kekamar mandi untuk buang air kecil. Rania segera membukakan pintuk untuk Arkan.
“ Kenapa lama sekali ?” Arkhan berbicara dengan suara yang sangat lantang. Matanya menatap tajam kearah Rania, seolah – olah ingin menelannya bulat – bulat.
“ Masih berusrusan dengan pria itu ?, belum bisa melupakannya ?” Arkhan berbicara sambil menatap Rania dengan tatapan mencemooh. Rania kembali duduk . Ia terlihat tenang. Walaupun didalam hatinya penuh rasa was – was dan ketakutan yang luar biasa. Ia tidak menjawab sepatah katapun. Arkhan duduk dihadap Rania dan masih menatapnya dengan tatapan seperti tadi. Tatapan mencemooh.
__ADS_1
Rania sama sekali tidak menggubrisnya. Rania segera berlalu ke dapur untuk membuatkan Arkhan segelas teh. Ia tetap bersikap tenang karena merasa bahwa didalam apartemen itu, ia tidak sendirian. Arkhan adalah suaminya, dan didepan Lala, ia harus tetap memperlakukannya dengan penuh rasa hormat. Segelas teh hangat akhirnya terhidang untuk Arkhan.
Lala yang merasa sangat terkejut dan takut, memutuskan untuk mengintip dari dalam kamar mandi. Merasa suasana diluar sudah agak tenang, Lala segera keluar dari kamar mandi. Rania memberikan kode kepada Lala untuk duduk bersama. Lala yang merasa iba melihat sahabatnya itu, lalu duduk disamping Rania, menemani kedua pasutri itu.
Arkhan yang melihat Lala yang muncul tiba – tiba, merasa sangat terkejut. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil sesekali tangan kanannya mengusap dahinya. Setelah beberapa saat, ia lalu meminum teh hangat yang disediakan oleh Rania. Arkhan merasa sangat menyesal dan merasa sangat berdosa. Sedari tadi ia sudah berpikiran buruk tentang Rania, memarahi Rania, mencemooh Rania. Tapi wanita yang ada dihadapannya tetap tenang. Untungnya wanita yang ada di depannya itu tidak tahu – menahu tentang apa yang ada di pikiran Arkhan.
“ Pakailah sesekamu, kamu sekarang masih tanggungjawabku !” kata Arkhan singkat. Rania hanya menatap kartu ATM yang ada di meja itu dengan perasaan heran.
__ADS_1
“ Pin nya ulang tahunmu !” lanjut Arkhan. Setelah itu Arkhan segera keluar dari apartemen itu .
“ jangan pernah ,menampung pria manapun, segera kunci pintu !” suara Arkhan terdengar bernada memerintah. Rania hanya bisa mengangguk – anggukan kepalanya pertanda menyetujui.
Rania lalu mengambil kartu ATM yang terletak di atas meja. Menatap kartu itu sejenak, lalu menarik napas begitu dalam dan menghempaskannya. Rania merasa semakin bibgung dengan sikap Arkhan. Datang dengan penuh kemarahan, lalu dengan baik hati memberikan kartu ATM. Sikap yang ditampilkan itu terasa begitu bertentangan. Malam pun semakin larut, akhirnya kedua sahabat itu saling mengajak untuk segera tidur. Rania tidur dalam keadaan gelisah. Lama sekali ia membolak – balikan badannya. Setelah cukup lama, barulah ia bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi sekali Rania bangun. Ia segera membuat nasi goreng ala kadarnya. Setelah itu ia segera membangunkan Lala untuk sarapan. Setelah sarapan, mandi dan berganti pakaian, keduanya lalu berboncengan menuju kampus.
__ADS_1
******