
Pagi sekali Arkhan sudah terbangun. Ia segera mandi dan bersiap – siap menuju ke bandara. Tidak butuh waktu yang lama. Arkhan sudah keluar dari kamarnya.
Tiba – tiba saja ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari ibunya panggilan dari ibunya. Arkhan segera menerima panggilan itu. Suara batuk – batuk terdegar dari seberang sana.
“ Halo ibu, apakah ibu baik – baik saja ?” Arkhan bertanya dengan perasaan cemas.
“ Ibu sedang sakit nak, bisakah engkau dan Rania pulang sebentar ?” terdengar suara yang pelan dari seberang. Arkhan menjadi sangat terkejut. Wajahnya menjadi pucat pasi.
“ Baiklah Ibu, aku akan segera pulang !” Arkhan menjawab singkat.
“ Bersama Rania “ terdengar lagi suara dari seberang.
“ Ia Ibu, bersama Rania” Arkhan alu segera mematikan ponselnya.
Sesuatu yang tidak terduga tengah terjadi. Ia harus memilih antara mencari Rania atau segera pulang menemui ibunya. Kepergian Rania belum di ketahui Ibunya. Sejenak, Arkhan menjadi sedikit bimbang.
Beberapa saat kemudian, Arkhan lalu membawa barang – barangnya kedalam mobil. Arkhan segera mengendarai mobilnya menuju ke rumah Ibunya. Mengenai kepergian Rania, Arkhan berencana untuk menjelaskan perihal yang terjadi antara dia dan Rania.
__ADS_1
Mobil itu melaju dengan agak cepat . Arkhan mengendarai mobil dengan perasaan gelisah. Di satu sisi ia sangat menghawatirkan kondisi ibunya. Di sisi lain, ia sangat menghawatirkan Rania. Ia belum tahu kemana Rania pergi saat ini. Dan ia belum mengetahui dengan jelas, mengapa Rania pergi meninggalkannya begitu saja.
Akhirnya Arkhan tiba juga di rumah ibunya. Raut wajah wanita tua itu terlihat sangat pucat. Arkhan sangat terkejut melihat kondisi ibunya saat ini. Arkhan segera mengajak ibunya kerumah sakit.
“ Dimana Rania ?” tanya Ibunya dengan suara yang sangat pelan.
“ Kerumah orang tuanya, ada sedikit urusan keluarga !” Arkhan menjawab sambil memapah ibunya menuju ke mobil. Ia segera melarikan ibunya ke rumah sakit terdekat.
Setelah tiba di rumah sakit, ia segera membawa ibunya untuk memeriksakan kesehatannya. Proses administrasinya berjalan dengan lancar. Setelah melalui proses pemeriksaan, dokter memberikan beberapa butir obat. Arkhan merasa sangat bersyukur karena kondisi ibunya ternyata tidak separah yang ada didalam pikirannya. Ia lalu segera membawa pulang Ibunya.
Arkhan lalu segera mengabil ponselnya dan berencana untuk menelpon Rania. Perasaan Was – was yang menyelimuti hatinya membuat ia memberanikan diri untuk menelpon dan menanyakan keberadaan istrinya.
Terdengar deringan dari sebrang. Namun, Rania tidak menjawab panggilan itu. Arkhan sudah menelpon berulang – ulang. Yang terdengar hanya suara deringan. Arkhan menjadi sangat cemas. Akhirnya Arkhan memutuskan untuk mengirimkan pesan. Hanya satu kata,
“ Maaf “
Arkhan berjalan mondar – mandir di dalam kamarnya. Sejenak Arkhan berpikir, Kalau saja ibunya tidak sakit, mungkin saat ini ia sudah pergi mencari Rania. Pria itu mengacak – ngacak rambutnya pertanda ia merasakan suasana hati yang sangat kacau. Setelah beberapa saat, Arkhan memilih untuk beristerahat di kamarnya . Walaupun matanya sulit sekali terpejam, pria itu berusaha untuk tidur.
__ADS_1
Arkhan terbangun dari tidurnya ketika cahaya matahari menembus jendela kamarnya. Dengan tergesa – gesa ia lalu menuju ke kamar ibunya. Wanita separuh baya itu tengah duduk dikursi yang ada didalam kamar itu. Arkhan lalu segera menghampiri ibunya.
“ Pergilah….”
“Bawa Rania kembali !” wanita itu berbicara sambil menatap lemah kearah Arkhan.
“Nanty, setelah Ibu benar – benar pulih.” Arkhan berbicara sambil menundukan kepalanya.
“Ibu sudah mulai pulih”
“Bukankah ada ART yang bisa membantu Ibu ?”
“ Tidak baik membiarkan masalah berlarut – larut “ wanita separuh baya itu berbicara tanpa menatap wajah anaknya. Pandangan mata wanita separuh baya itu menuju ke luar jendela. Pandangan yang menyiratkan kekosongan dan kekhawatiran.
Arkhan lalu segera beranjak dari kamar itu.
*********
__ADS_1