Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Bab. 5. Pelampiasan


__ADS_3

Rania memasuki ruangan dengan begitu tenang. Dia disambut dengan tatapan sang bos yang dingin dan mematikan. Sementara sekertaris pribadinya hanya diam dan mengamati pemandangan didepan matanya.


Sekertaris pribadi itu seorang pria yang sangat tampan. Mungkin dia tidak setampan sang bos. Tapi kharisma pria itu begitu kuat dan memikat. Sudah bertahun - tagun dia bekerja mendapingi sang bos karena sang bos tidak ingin mempunyai sekertaris seorang wanita. Bagi sang bos, berurusan dengan wanita itj sangat merepotkan. Ada beberapa wanita yang pernah menjadi sekertarisnya tetapi berakhir dengan PHK karena wanita - wanita itu sepertinya tidak datang untuk bekerja tetapi datang untuk menggoda sang bos.


Sang bos. : " Rania, buatkan aku segelas kopi. Aku ingin minum segelas kopi buatanmu".


Rania pun membatin. Kenapa harus dia? dia datang toh hanya untuk magang, mencari pengalaman kerja. Kalau membuat kopi itu lain urusannya. Tapi setelah menimbang sesaat, dia pun segera keluar untuk membuat kopi.


Sang bos menatapnya keluar ruangan itu dengan tatapan yang tajam penuh amarah. Dalam hatinya dia berkata, aku akan membuatmu keluar dari kantor ini dengan sukarela. Hari ini akan menjadi hari terakhirmu ditempat ini.


Dalam ruangan itu kembali sepi. Sekertaris itu menanyakan permasalahan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua tetapi dia memilih diam. Pria itu sudah paham bahwa dia tidak akan mendapatkan penjelasan apa - apa sebelum kemarahan pria dihadapan itu sudah dilampiaskan sampai tuntas.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian Rania datang membawa segelas kopi kedalam ruangan itu. Sang bos menerima gelas kopi itu, meminumnya seteguk. Rasa kopi itu tidaklah buruk. Bahkan menurutnya rasa kopi itu sungguh nikmat. Takaran kopi itu sangat sesuai dengan seleranya.


Tapi situasi kali ini sangat berbeda. Tujuannya menyuruh Rania membuat kopi juga hanyalah sebuah alasan untuk mengerjainya. Beberapa menit kemudian dia gelas kopi beserta isinya sudah mendarat diatas lantai ruangan itu. Dia membanting gelas itu dengan sekuat tenaga.


Praangg. !!!


" Kopi ini tidak enak. Rasanya terlalu aneh. Buatkan lagi segelas kopi yang baru ". Dia mengucapkan kalimat itu dengan lantangnya sambil menatap Rania dengan tatapan yang tajam seperti tadi.


Sudah berulang kali Rania keluar masuk ruangan itu untuk membuat kopi. Tapi anehnya, sang bos hanya meneguk sedikit saja isi gelas itu, lalu kembali membanting gelas itu dilantai. Rania pun tetap membersihkan tempat itu, dan kembali membuat kopi yang baru.


Air mata Rania hampir tumpah. Kesabarannya sudah mulai terkikis habis. Tapi dia tetap berjalan tanpa ekspresi.

__ADS_1


Lelah bolak balik ruangan. Keringat ditubuhnya lun mulai bercucuran.


Sekertaris hanya bisa melihatnya dengan tatapan iba. Dia pun mulai mengakui kesabaran gadis yang ada dihadapannya itu.


Amarah sang bos sepertinya sudah mulai reda. Dia menatap gadis itu dengan tatapan yang mulai normal. Sesekali dia tersenyum bahagia menikmati pertunjukan yang ada didepan mata. Dan akhirnya dia pun mulai menyadari kesalahannya karena memperlakukan mahasiswa magang seperti itu. Bukankah dia harus profesional. ?


****


Nantikan kelanjutannya ya. !


Bab berikutnya, sungguh diluar dugaan.

__ADS_1


Salam hormat. ! 🐾🐾🐾


__ADS_2