
Hari ini Rania tidak makan siang didalam gedung kantor. Jovan mengajak nya makan diluar. Bukan hanya mereka berdua, Erika dan sekertaris Joy juga ikut makan bersama. Mereka berempat makan bersama di Restoran terdekat dari gedung kantor.
Suasana pada saat makan bersama terasa begitu hangat. Rania merasa sangat bahagia karena mendapat perhatian lebih dari Jovan. Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran, Jovan menggandeng tangannya dengan begitu hangat dan mesra. Saat sedang makan, Jovan meletakan beberapa potong daging kedalam piring Rania. Selera makan Rania semakin bertambah - tambah. Rania makan dengan sangat lahap. Erika dan sekertaris Joy hanya bisa memandang kedua sejoli itu dengan masing - masing ekspresi. Erikan dengan senyuman yang agak dipaksakan. Sekertaris Joy dengan senyuman yang sangat tulus.
Sepulang dari kantor, Rania tidur dengan lelapnya. Suasana hati yang baik dan perut yang kenyang membuat dia tertidur sangat lama. Tidak terasa sudah pukul lima sore. Rania segera bangun dan mandi seperti biasanya. Setelah mandi, dia lalu berpakaian seadanya. Celana pendek selutut dan baju kaos lengan pendek jadi pilihannya. Tidak lupa menyapukan sedikit bedak pada wajahnya dan juga pelembab pada bibirnya. Setelah itu ia lalu duduk dengan santai sambil menonton televisi.
Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu apartemennya. Sebelum ia pergi untuk melihat siapa yang datang, tiba - tiba Erika masuk tanpa permisi dan duduk didekatnya. Rania sangat heran dibuatnya. Bukankah ini pertemuan mereka yang ke tiga? Dan mereka berdua juga belum begitu dekat. Angin apakah yang membawanya datang ?.
" Ayo kita keluar untuk jalan - jalan. Aku baru tiba kembali di kota ini. " kata Erika.
__ADS_1
"Dan aku pun belum ada teman untuk diajak jalan - jalan. " lanjut Erika.
Rania hanya bisa tersenyum memandang nya.
Rania sekarang juga tidak sedang sibuk. Dia lalu mengangguk sambil masuk kedalam kamarnya untuk mengganti celananya dengan celana jeans panjang dan memakai jaket kulit dan topi. Walaupun dia dan Erika tidak terlalu dekat hubungannya, tetapi Erika adalah sahabat baik Jovan. Dan Rania merasa punya kewajiban untuk memperlakukan Erika dengan baik. Walaupun sebenarnya didalam hati Rania tidak terlalu suka dengan Erika.
Tidak banyak barang yang mereka beli di pusat perbelanjaan itu karena mereka hanya berniat untuk berjalan - jalan. Selama di pusat berbelanjaan pun mereka berdua kurang terlibat pembicaraan.
Hari sudah mulai gelap. Dan mereka berdua segera melaju ke arah sebuah restoran untuk makan malam. Erika tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya. Rania yang tidak terlalu cepat akrab dengan orang lain membuat suasana tetap datar seperti biasanya.
__ADS_1
" Erika, apakah kamu ada mempunyai seorang kekasih. ? " Rania mencoba untuk membuka percakapan setelah mereka selesak makan.
" Aku ada mempunyai kekasih. Tetapi kekasih aku juga ada mempunya kekasih yang lain" Erika menjawab sambil membersihkan wajahnya dengan lesu.
" Kekasih aku lagi bingung membuat keputusan. Jadi aku hanya bisa menunggu sampai dia ada keputusan yang jelas". Lanjut Erika dengan ekspresi yang agak putus asa. Wajah murung gadis itu sangat jelas kelihatan. Gadis itu lalu menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskannya dengan sekuat tenaga. Dengan berbuat begitu, dia merasa ganjalan dihatinya agak sedikit berkurang.
*****
🐾🐾🐾🐾
__ADS_1