Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Clara menjual apartemen


__ADS_3

Pagi sekali Rania sudah keluar dari rumah itu menuju ke bandara. Cukup lama ia menunggu keberangkatan karena ia memang berangkat terlalu pagi agar kepergiannya tidak diketahui oleh Arkhan. Lama menunggu, akhirnya pesawat yang di tunggu datang juga. Rania menaiki tangga pesawat dengan perasaan nelangsa.


Ketika Arkhan terbangun, hari sudah sangat siang. Ia terbangun karena merasa perutnya sudah sangat lapar. Setelah membasuh mukanya dan menyikat gigi, Arkhan segera ke dapur untuk mencari makanan. Biasanya Rania memasak makanannya sendiri untuk makan siang. ia berniat untuk mengganjal perutnya dengan makanan buatan Rania.


Arkhan tidak menemukan sedikitpun makan di tempat itu. Semua peralatan masak masih tetap bersih dan berada di tempatnya. Dapur itu sangat bersih dan rapi , seperti belum pernah digunakan. Ia segera keruang tamu dan memperhatikan kearah kamar Rania. Lama sekali, akan tetapi Rania tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan mencari makan di luar rumah.


Setelah selesai mencari makan, ia memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Suasana rumah itu masih terap sepi. Arkhan lalu memeriksa keadaan didalam dapur. Masih dalam keadaan yang sama. Ia lalu mengetuk puntu kamar Rania sambil memanggil – manggil namanya.


“ Rania….!”


“ Rania…!”


Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

__ADS_1


Arkhan lalu beranjak dari depan pintu dan menuju ke kamarnya untuk mandi. Setelah selesai mandi, ia masih ke luar sebentar untuk memastikan keberadaan Rania. Rumah itu masih tetap sepi . tidak ada tanda – tanda kehadiran Rania, baik didalam dapur ataupun di ruang tamu. Ia lalu segera berangkat ke kantor.


Suasana di kantor itu tidak seperti biasanya. Selama berjalan menuju kea rah ruangannya, banyak karyawan yang melihatnya dengan ekspresi yang agak berbeda. Seolah – olah Ia telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar. Sebelum masuk ke dalam ruangannya, ia sempat menoleh ke belakang, kearah para kareyawan dengan penuh tanda tanya. Setelah itu ia pun segera masuk ke dalam ruangannya.


Ternyata, didalam ruangan itu telah menunggu seorang wanita muda yang sangat cantik. Wanita itu sedang duduk di atas sofa di ruangan itu. Pakaian wanita itu lumayan sopan. Rambutnya tetap di biarkan tergerai seperti biasanya. Riasan wajahnya yang begitu natural menambah kesan sederhana wanita muda itu.


Di hadapan wanita muda itu, telah duduk sekretaris Gosi. Rupanyanya mereka sedang menunggu kedatangan Arkhan. Di atas meja sudah terhidang dua gelas teh hangat dan sedikit camilan.


“ Clara !” Arkhan menyebut nama wanita muda itu sambil menatap heran. Setelah itu ia lalu segera duduk di kursinya. Banyak sekali berkas – berkas yang terletak di atas meja itu. Namun ia sama sekali tidak memperdulikan. Ia hanya duduk diam sambil menatap kea rah Clara.


“ Aku akan pulang !”


“ Aku ingin menjual apartemen itu sebelum pulang “ Clara berbicara dengan santai.

__ADS_1


“ Segera urus pembelian apartemen miliknya !” Arkhan berbicara sambil menatap sekretaris Gosi. Clara lalu mengangguk – anggukan kepalanya.


Arkhan dan sekretaris Gosi sudah tahu tentang asal – usul kepemilikan apartemen itu.


Apartemen itu memang bukan milik Clara. Jordy lah yang membelikan tempat itu untuk mengikat Clara. Namun, surat – surat apartemen itu semuanya atas nama Clara.


“ Setelah semuanya beres, pergilah !”


“ Jangan pernah lagi menunjukan wajahmu di kota ini !” Arkhan berbicara sambil menatap Clara dengan tatapan yang sangat tajam.


“ Baiklah !” Clara menjawab dengan santai. Ia lalu segera keluar dari ruangan itu.


Sekretaris Gosi pun segera keluar dari ruangan itu. Ia segera menuju ke dalam ruangannya untuk mengurus kelengkapan pembelian apartemen milik Clara.

__ADS_1


****


__ADS_2