Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Bab. 23. Sekertaris Joy Sudah Tahu


__ADS_3

Keesokan harinya Rania pergi ke kantor seperti biasanya. Tidak banyak yang ia kerjakan. Hatinya merasa sangat gelisah karena sejak pagi dia belum melihat batang hidung Jovan sedikit pun. Layar ponsel ditatap berulang - ulang, tidak ada satupun pesan dari Jovan. Dia lalu menarik nafas dalam - dalam dan menghempaskan sengan sekuat tenaga. Seolah - olah dengan berbuat demikian, sebahagian ganjalan dihatinya juga terbang pergi bersama hembusan nafas itu.


Sampai tiba saatnya makan siang, Rania sedikitpun tidak melihat batang hidung Jovan. Dia duduk sendiri di pojok kantin sambil menatap makanannya tanpa ada selera makan.


Tiba - tiba Vanya datang dan duduk di samping Rania.


"Aku temani kamu makan yaa...! " begitu kata Vanya. Rania menatap gadis itu sebentar. Dia lalu menganggukan kepalanya pertanda setuju. Vanya makan dengan sangat lahap tanpa peduli dengan Rania yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Rania sedikit heran dengan sikap Vanya yang tiba - tiba menjadi lumayan hangat.


"Ku dengar tuan Jovan sedang dinas luar." Vanya membuka percakapan setelah selesai makan. Dia lalu meneguk habis segelas air mineral. Membersihkan bibirnya dengan tisu. Rania menatap gadis itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Hati - hati dengan Erika, kulihat sepertinya perempuan itu punya niat yang buruk. Beberapa hari ini dia datang dikantor untuk mencari tuan Jovan." Vanya lalu melanjutkan kata - katanya.

__ADS_1


Rania sejenak merenung. Ternyata bukan hanya dia yang berpikiran seperti itu. Orang lain yang melihat Erika juga berpikiran sama denganya. Rania membatin. Akhirnya dia menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang di katakan Vanya.


Dia dan Vanya sebenarnya hubungan mereka tidak terlalu dekat. Tapi Rania sangat tahu dengan jelas bahwa Vanya sebenarnya adalah gadis yang baik. Mungkin gadis itu memang hobinya adalah berpakaian sedikit menyolok. Tetapi dalam berperilaku dan berinteraksi dengan orang - orang disekitarnya, Vanya selalu terlihat baik dan tulus.


Rania lalu menyelesaikan makan siangnya dengan hati yang terpaksa. Sementara makan, datang lagi Sekertaris Joy untuk duduk disamping Rania. Dia datangvdengan botol air mineral ditangannya . Raut wajahnya terlihat agak lesu. Seperti kemarin, Sekertaris Joy menatap Rania dengan pandangan kasihan.


" Bisakah kamu memberitahu ku, Jovan sedang dinas luar kemana? "Tanya Rania pada sekertaris Joy.


"Calon suamimu pergi kemana kamu tidak tahu? "Cerocos Vanya.


"Bagaimana aku bisa tahu. Tidak mungkin setiap harinya aku menanyakan dia akan kemana." Jawab Rania dengan nada kesal.

__ADS_1


Mulut Vanya melongo. Sedangkan Sekertaris Joy hanya diam dan tenang tanpa ekspresi apa - apa.


"Kamu tenang saja, dia pergi juga untuk masa depan kalian. "Vanya lalu menghibur Rania.


"Benarkah? kulihat dalam beberapa hari ini Erika selalu menempel kepadanya. Masa depan dengan aku atau masa depan dengan Erika ?"Rania lalu bicara sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyuman pahit dan getir.


Vanya menatap Rania dengan pandangan kasihan. Sekertaris Joy hanya dia dan menunduk. Setelah makan, mereka bertiga lalu berjalan kembali ke ruangan nya.


Mengenai kepergian Jovan, Sekertaris Joy sangat tahu dengan jelas. Jovan pergi bersama Erika untuk melangsungkan pernikahan. Dan sebab akibat dari pernikahan itu, Sekertaris Joy sudah tahu karena Jovan sudah menceritakan semuanya. Apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Takdir sudah menemukan jalannya sendiri ketempat tujuannya...!


******

__ADS_1


🐾🐾🐾


__ADS_2