
Jadwal pernikahan telah ditentukan. Rania hanya bisa diam dan mengikuti apa yanh direncanakan oleh kedua orang tuanya. Yang terlihat dirumah itu bukanlah wajah - wajah bahagia, tapi wajah - wajah yang gelisah dan ketakutan.
Yang terlihat bahagia hanyalah wajah bibi Bibi Soraya, ibunya Arkhan. Rania sempat bertanya - tanya dalam hati, mengapa wanita itu begitu bahagia ? , sedangkan anaknya akan menikah dengan perempuan yang sedang mengandung anak orang lain.
Suatu malam Rania menyempatkan diri kekamar Bibi Soraya. Bibi Soraya yang sedang berbaring diatas ranjang segera bangun dan duduk disamping Rania.
" Bi, Ayah dan Ibu sudah salah sangka padaku. Aku tidak sedang hamil Bi. Tolonglah Bi, Bilang pada anak mu, aku tidak ingin menikah !" kata Rania
" Baguslah kalau kamu tidak sedang hamil nak. Pernikahan ini sudah tidak bisa dibatalkan lagi. Menyetujui pernikahan ini berarti Bibi sudah ikhlas menerima segala kekurangan atau kelebihanmu untuk jadi menantu Bibi !"
Rania tidak pernah menyangka bahwa jawaban itu akan keluar dari mulut Bibi Soraya.
"Usia anak Bibi sudah 25 Tahun. Sampai saat ini, belum pernah ada perempuan yang dikenalkan Arkhan kepada Bibi sebagai calon menantu. Banyak rumor yang beredar kalau anak Bibi adalah seorang Gay. Bibi sangat takut dengan rumor itu Nak !"
__ADS_1
Bibi Soraya mebicarakan keadaan anaknya dengan begitu lancarnya.
" Lalu Bagaimana dengan Anak Bibi ?, Apa yang harus kulakukan selanjutnya ? " tanya Rania bingung.
Lalu Bibi Soraya pun menambahkan penjelasannya.
Arkhan menyetujui pernikahan ini tanpa ada paksaan dari Bibi maupun Ayah dan Ibumu. Dia menyetujui atas kehendaknya sendiri. Ayahmu, Ibumu dan Bibi cuma menawarkan pernikahan dan sedikit mebujuk. Seediikiit !" Bibi Soraya menjelaskan sambil tersenyum.
" Tenang saja Rania , semua akan baik - baik saja. Percayalah pada Bibi ya Nak !" kata Bibi Soraya .
Rania hanya bisa mengangguk - angguk sambil tersenyum. Senyuman yang dipaksakan. lalu ia pun pamit untuk kembali kekamarnya.
Malam itu Rania tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan tentang perjalanan hidupnya yang sangat membingungkan. Hubungannya denga Jovan yang kandas, rencana pernikahan yang sangat mendadak. Calon suami yang belum ia ketahui seperti apa karakternya ?.
__ADS_1
Rania terbangun pada pulul 07.00 pagi. Ia lalu bergegas madi. Bangun kesiangan membuat tubuhnya terasa gerah. Ia mandi dengan santainya.
Berlama - lama dikamar madi membuat pikirannya tenang dan tubuhnya terasa segar. Sedikit polesan bedak dan lipstik membuat tampilannya semakin manis. Ia pun lalu turun kedapur untuk mencari makan.
Ayah, Ibu dan tante Soraya sedang makan. Rania lalu duduk dekat Ibunya. Menu di meja makan itu membuat Rania ingin segera makan dengan lahapnya. Tumis kangkung, Sambal ikan teri, dan telur dadar.
Ibunya hanya menatapnya dengan dengan tatapan tulus penuh kasih sayang. Anak yang dihawatirkan akan membuat aib bagi keluarga, akan segera menikah. Anak yang disangkanya sedang mengandung, ternyata tidak seperti yang dipikirkan. Pria yang akan menikahinya adalah Pria baik - baik yang sangat Mapan. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan keluarganya. Apa lagi yang perlu dihawatirkan ? keadaan telah normal seperti semula.
Kakak Rania beserta suami dan anak - anaknya baru saja tiba dari Jakarta. Urusan persiapan pernikahan sudah sampai pada titik finish. Undangan untuk warga se kampung dan beberapa teman Rania dikampus dan tempat magang pun sudah dibagi.
Besok adalah hari pernikahan Rania, tapi Arkhan belum tampak batang hidungnya. Rania tidur dengan perasaaan was-was.
(Sorry, baru nulis. dalam beberapa hari ini aq sibuk..!)
__ADS_1