
Dua hari Rania sudah tidak lagi bekerja. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidur - tiduran dikamar apartemennya. Pulang kerumahnya juga tidak mungkin ia lakukan. Ia hanya bisa menyimpan kesedihannya sendiri.
Capek menangis terus. Perut juga sudah minta diisi. Rania lalu pergi mandi. Berlama - lama di kamar mandi membuat ia lebih fresh. Keramas... berendam.....!
Sambil berendam ia pun merenungi nasibnya. Mengenang pertemuannya dengan Jovan. Kisah cintanya yang manis. Dan manis yang berujung kepahitan.
Didalam merenung, ia menemukan setitik cahaya. Yaitu rasa syukur yang tak terhingga karena ia masih menjadi wanita yang utuh.
Dan ia pun menyadari satu hal. Bahwa Jovan memang sangat mencintainya. Jovan adalah pria yang baik. Karena selama ini, Jovan tidak pernah melangkahi yang belum menjadi hak nya. Dan mungkin saja memang benar. Jovan melakukan kesalahan dibawah pengaruh minuman keras.
Dan satu kesimpulan yang diambil Rania adalah, Jovan bukanlah jodohnya. Mungkin saja Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lain untuknya. Rania lalu berbicara sendiri didalam kamar mandi itu.
" Rania... Semangat..! "
"Rania... Semangat..! "
"Rania.. Semangat..!
Dan ia pun tertawa terbahak - bahak sendiri dikamar mandi , memikirkan kegilaannya itu.
Selesai mandi, Rania lalu berpakaian. Baju hitam, celana jeans hitam, rambut dikuncir, topi hitam. Bedak dan lipstik alakadarnya. Hanya satu yang berlebihan. Aroma parfum yang bisa memperbaiki suasana hatinya.
__ADS_1
Rania lalu pergi ke salah satu tempat kesukaannya yaitu tempat makan Mi ayam bakso. Ia lalu memesan Bakso danbsegelas es teh.
Beberapa menit kemudian, Bakso dan es teh sudah tersedia. Rania lalu makan dengan lahapnya.
Selesai makan bakso, Rania lalu mengunjungi salah satu mini market untuk membeli persediaan bahan makanan dan juga cemilan. Beberapa hari tinggal dirumah membuat persediaan makanan dan cemilan ludes.
Hari sudah mulai gelap. Rania pun segera kembali ke apartemennya. Persediaan makanan ditatanya dengan rapi. Begitu juga dengan beberapa cemilan.
Setelah menata persediaan makanan dan cemilan. Rania lalu mencuci pakaian. Cuci pakaian sambil menonton televisi dan ngemil.
Kesibukan itu tidak juga menghilangkan kesedihan Rania sepenuhnya. Bayangan Jovan masih saja bekeliaran di alam pikirannya. Jovan yang selalu menemani kesepiannya di kamar itu. Yang selalu memeluknya, menemani tidur malamnya.
Jovan yang sopan...
Dan airmata Rania pun mengalir lagi...
Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu apartemen. Dan Rania pun seakan bangun dari kesedihannya. Ternyata sekertaris Joy dan Vanya yang datang. Mereka berdua datang membawa makan malam dan juga beberapa cemilan.
Rania sangat beruntung memiliki dua sahabat ini. Mereka selalu hadir disaat - saat seperti ini. Saat Rania memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi dan berkeluh kesah.
"Kamu tidak usah kekantor lagi. Semua urusan yang berkaitan dengan kantor akan saya bereskan !". Kata sekertaris Joy.
__ADS_1
"Kamu tinggal tahu beres saja! " . lanjut sekertaris Joy.
"Baiklah, terima kasih! " jawab Rania.
" Besok aku akan pulang. Aku rindu rumahku! !" kata Rania.
" Baguslah kalau begitu, kamu butuh hawa yang segar !" kata Vanya.
Vanya ingin mengatakan bahwa Rania butuh keluar dari tempat ini untuk melupakan Jovan. Tapi ia hanya bisa menelannya didalam hati. Vanya tahu betul, tempat ini akan membuat Rania sulit melupakan Jovan. Dan salah satu cara yang paling ampuh adalah pergi dari tempat ini, dari kota ini.
Bukan untuk beberapa waktu saja. Tapi untuk waktu yang lama.
Mereka bertiga berkumpul sampai larut malam. Menemani Rania makan, mengajak Rania ngobrol. Dari satu topik berganti topik yang lain. Sekertaris Joy dan Vanya segera pulang saat Rania sudah terlihat benar - benar mengantuk.
Pagi - pagi sekali Rania bangun dan bersiap - siap untuk pulang. Entah mengapa. Tiba - tiba saja ia merasa sangat merindukan ibunya. Kerinduan itu membuat ia terburu - buru untuk segera pulang.
🐾🐾🐾
Setor lagi...!
Krisannya dong...!
__ADS_1