
Setiap hari Jovan selalu membuntuti Rania. Sepulang dari kampus. Malam harinya. Jovan lagi, Dia lagi, lagi, lagi dan lagi. Hingga pada suatu malam. Malam minggu. Rania, Lala, Nova dan Adit diundang dalam sebuah acara resepsi pernikahan salah satu sahabat mereka. Pesta itu di adakan di salah satu hotel . Rania mengenakan gaun biru yang sederhana namun tetap terlihat cantik dan elegan. Dengan aksesori yang apa adanya. Bersama – sama mereka datang ke pesta itu.
Suasana di pesta itu sangat ramai. Banyak tamu yang hadir di tempat itu. Rania, Lala, Nova dan Adit asyik memperhatikan kedua mempelai yang tampak begitu serasi satu sama lainnya.Akhirnya Lala sudah pergi ke pojok ruangan, diajak Dody. Rania hanya tersenyum - senyum menatap pasangan baru itu yang terlihat sangat canggung dan kikuk. Lala dan Dody baru saja jadian beberapa hari yang lalu. Nova dan Adit juga sudah hilang entah kemana. Tinggallah Rania yang berdiri sendiri di tengah – tengah ruangan.
Rania tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasinya sedari tadi. Mata itu menatapnya dengan kilatan yang penuh cinta, kerinduan dan sedikit aura kemarahan. Itulah sepasang mata Jovan. Ia tidak fokus dan berminat dengan pesta itu. Ia hanya fokus dengan Rania yang tampak di depan matanya. Berdiri di tempat yang remang remang sambil menatap kearah Rania.
Tiba – tiba Arkhan pun muncul didalam pesta itu. Sedari tadi ia pergi ke apartemen Rania untuk mengajaknya ke pesta itu, tapi apartemen Rania terlihat kosong. Berkali – kali pintu apartemen di ketuk, teapi tidak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk sendirian datang menghadiri pesta itu. Ia sudah melihat Rania dan ingin segera menghampirinya. Tetapi tiba – tiba langkahnya terhenti karena melihat ada seorang pria yang menatap Rania dari jauh.
__ADS_1
Rania terlihat keluar dari keramaian. Jovan tetap mengawasi dan mulai mengikuti Rania. Suara langkah kakinya sangat pelan dan tidak terdengar oleh Rania. Rania tidak menyadari akan hal itu. Ia segera menuju ke toilet karena tiba – tiba ingin buang air kecil. Arkhan hanya bisa terpaku melihat keadaan itu. Rania segera membuka pintu toilet dan ingin masuk. Tiba – tiba ada sepasang tangan yang menariknya dengan sangat kuat, menyeretnya. Rania berusaha memberontak sekuat tenaga. Semakin kuat Rania memberontak, semakin kuat tangan itu menarik Rania. Ingin sekali Rania berteriak, tapi aroma tubuh orang yang menariknya sudah dihafal di luar kepala. Aroma tubuh itu. Aroma tubuh Jovan. Rania terdiam sesaat berdiri menatap Jovan. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut saja kemauan Jovan, karena ia sangat tahu karakter Jovan. Tidak pernah melebihi batasannya.
Akhirnya Jovan membawa Rania ke teras hotel. Rania berdiri memegang pagar teras sambil memandang keluar. Terlihat pemandangan di luar hotel yang tetap ramai walau malam sudah semakin larut.
“ Aku dan Erika sebentar lagi akan bercerai !” Jovan mulai berbicara.
Secercah harapan muncul kembali di dalam hati Rania. Harapan yang hampir saja ia kubur dalam – dalam. Namun ia tidak serta - merta langsung menunjukan ekspresi senang. Hanya tetap diam membisu, tanpa ada sepatah katapun.
__ADS_1
Jovan sangat memahami karakter wanita yang ada disamping nya itu. Ia hanya berusaha menjelaskan saja. Ia berencana untuk maju ppelan – pelan. Selangkah – demi selangkah. Maju untuk merebut kembali kepercayaan Rania. Merebut kembali hati Rania.
Akhirnya Rania memutuskan untuk kembali ke tempat dimana pesta berlangsung. Jovan masih tetap duduk di tempat itu. Ia memutuskan untuk tidak muncul bersamaan dengan Rania di tempat acara berlangsung. Ia sangat menyadari, kemunculannya bersama Rania, nantinya akan berakibat buruk pada nama baik mereka berdua.
Rania pun tiba di tempat acara berlangsung. Arkhan yang sedari tadi mencari – cari Rania yang tiba – tiba saja menghilang, segera menghampiri dan berdiri tepat disampingnya. Ia sudah tahu, hilangnya Rania berkaitan dengan Jovan. Namun ia tidak ingin bertanya dan mencari tahu tentang hal itu. Ia sudah mulai berusaha bersikap baik dan menunjukan kepercayaannya terhadap Rania. Walaupun ia menyadari bahwa hal itu mungkin sudah agak sedikit terlambat.
Jovan akhirnya muncul kembali di tempat itu. Menyadari kemunculan Jovan, secara spontan Arkhan memegang tangan Rania dengan erat. Seolah olah ia ingin menunjukan kepemilikannya terhadap Rania kepada Jovan. Kilatan matanya menatap Jovan dengan tatapan penuh kebencian Jovan menjadi sangat geram di buatnya. Rania menjadi sangat heran melihat kelakuan Arkhan yang secara tiba – tiba menggandeng tangannya. Namun ia tetap diam membisu, tidak bereaksi apapun. Malam semakin larut. Akhirnya Arkhan mengajak Rania untuk pulang.
__ADS_1
*****