
Setelah ibunya keluar dari kamar itu, tangisan Rania semakin menjadi jadi. Ia menjadi sangat dilema memikirkan jalan mana yang akan ia pilih. Jovan yang sedang menunggunya, ataukah Arkhan yang sikapnya tidak menentu. Akhirnya, setelah menumbang baik buruknya, Rania mengambil keputusan untuk tetap bertahan dengan Arkhan dan akan melupakan Jovan. Ia ingin membahagiakan ibunya, walaupun jalan yang dipihnya itu akan membuatnya semakin terluka.
Pagi harinya, Rania sudah siap dengan tas ranselnya untuk kembali ke Jakarta untuk menemui suaminya. Ia berangkat ke bandara pagi pagi sekali. Cuaca pagi itu sangat cerah. Namun tidak secerah suasana hatinya yang sedang berkabut. Ia ke Jakarta dengan modal nekat. Ia ingin menuntaskan semua permasalahan yang terjadi . Ia ingin memastikan hubungannya dengan Arkhan tetap aman dan baik - baik saja. Demi ibunya. Demi ayahnya. Dan juga demi ibu mertuanya. Ia tahu dengan jelas bahwa ibu mertuanya sangat menyayanginya.
Pesawat akhirnya tiba di bandara dengan selamat. Rania segera mencari taksi untuk pulang karena ia memang tidak perlu mengantri untuk mengambil barang . Setibanya di rumah, Rania segera masuk kedalam kamar. Ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Ia memutuskan untuk mengenakan kaos oblong dan celana selutut .Sewaktu ia masuk tadi, Arkhan tidak terlihat batang hidungnya. Tetapi ketika ia akan keluar, pria itu sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi.
Ia melihat kea rah Arkhan sebentar, berharap pria itu melihat ke arahnya karena ia ingin meminta izin untuk keluar sebentar. Dulu, ia sering mengabaikan pria itu. Tapi, kali ini ia datang dengan sebuah tekat, tetap tinggal di rumah ini, di sisi pria itu.
Seperti ada telepati yang menghubungkan mereka berdua, tiba – tiba saja Arkhan berbalik dan menatap kearah Rania. Rania mendadak gugup dan kelabakan. Padahan sedari tadi, ia sudah menunggu pria itu melihat ke arahnya.
“ Aku…..keluar sebentar !” pamit Rania canggung. Arkhan menjadi sangat keheranan melihat tingkah Rania. Namun, ia tidak memperdulikan wanita itu, tetapi kembali dengan aktifitasnya menonton televisi.
__ADS_1
Rania sedikit kecewa. Ia segera keluar dengan langlah gontai karena taksi yang di pesannya sedang menunggu. Mendengar langkah kaki Rania semakin menjauh, Arkhan lalu menoleh kearah pintu. Ia mendapati punggung Rania yang mulai menghilang.
Arkhan lalu mematikan televisi. Setelah itu ia berjalan mondar – mandir didalam ruang tamu. Ia merasa sangat bingung dengan sikap Rania tadi. Ia kembali teringat akan kejadian malam itu. Penolakan Rania. Penghianatan Rania malam itu. Arkhan menjadi sangat geram. Ingin sekali ia mengusir wanita muda itu dari rumahnya. Namun apa daya, ia masih harus meminta persetujuan ibunya.
Beberapa jam kemudian, Rania masuk dengan tampilan yang berbeda. Rambutnya yang tadinya di ikat seadanya, suda dipontong rapi dan di biarkan tergerai. Rambutnya yang sudah panjang sampai ke pinggangnya itu membuat Rania terlihat sangat berbeda.
Arkhan yang masih tetap berada di ruang tamu, memandang Rania dari ujung rambut sampai ujung kaki. Makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang terlihat sangat cantik. Baru kali ini ia melihat betis Rania yang kecil dan putih mulus. Ia mengamati Rania dengan seksama.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Rania lalu keluar dari kamarnya. Karena melihat Arkhan sudah tidak ada lagi di ruang tamu, Rania memberanikan untuk menemui Arkhan di dalam kamarnya. Pintu kamar itu tidak terkunci. Rania lalu segera masuk. Arkhan tidak telihat batang hidungnya. Mungkin ia berada di dalam kamar mandi. Rania lalu memberanikan diri untuk merebahkan diri diatas tempat tidur.
Bukankah ini yang di inginkan Arkhan ? menjadikan Rania sebagai istri seutuhnya. Rania berpikir dalam hati dengan perasaan gugup. Memikirkan yang akan terjadi selanjutnya, wajah Rania menjadi merah padam.
__ADS_1
Arkhan akhirnya keluar dari kamar mandi. Ternyata pria itu baru selesai mandi. Ia keluar masih dengan mengenakan handuk dan rambut yang masih basah. Arkhan sempat terkejut melihat keberadaan Rania di kamarnya. Rania lebih terkejut lagi karena melihat Arkhan hanya mengenakan handuk. Ia segera bangun dari tempat tidur dan hendak berlari keluar dari kamar itu.
Namun, langkahnya tiba – tiba terhenti karena mengingat rencananya semula, yaitu ingin menyerahkan dirinya kepada Arkhan seutuhnya. Ia membalikan badan dan berusaha memberanikan diri berhadapan dengan Arkhan. Dalam hatinya berkata, demi ibu….., demi ayah….., demi ibu mertua. Kakinya gemetaran.
Reaksi Arkhan sangat tidak terduga. Arkhan menatap wanita muda dihadapannya dengan tatapan jijik. Ia lalu menghampiri Rania, mencengkeram rahang Rania dengan sekuat tenaga. Rania merasa sangat kesakitan.
“ Pria itu tidak membuatmu puas ?” Arkhan bertanya dengan penuh amarah.
“ Wanita tak tahu malu…, pergi….!” Arkhan mengusir Rania dari kamar itu.
Bukan hanya rahang Rania yang sakit. Rasa sakit itu menjalar sampai ke dalam hatinya, merasuk kedalam sum – sum tulangnya. Rania berlarian keluar dari kamar itu sambil berlinangan air mata. Rania merasa sangat kecewa dengan penolakan Arkhan. Air mata nya semakin berlinang, saat ia mengingat kedua orang tuanya, dan juga ibu mertuanya.
__ADS_1
******