Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Jovan datang Berkunjung


__ADS_3

Rania dan Lala terbangun karena suara ketukan pintu apartemen yang berulang – ulang. Rupanya hari sudah malam. Rania lalu segera membuka pintu apartemen itu. Arkhan berdiri di depan pintu dengan kantung berisi makanan untuk makan malam dan camilan. Rania terlihat begitu canggung menerima kehadirannya.


Lala yang melihat kedatangan Arkhan, membiarkan pasangan suami istri itu menghabiskan waktu dengan berbincang – bincang di ruang tamu. Ia lalu masuk kekamar mandi. Sengaja ia berlama – lama di kamar mandi. Menghabiskan waktu untuk memanjakan dirinya di kamar mandi.


Sedangkan Rania…….


Ia segera melangkahkan kaki kea rah dapur untuk membuatkan Arkhan segelas teh hangat. Arkhan pun ikut melangkahkan kakinya ke dapur dan berdiri menyaksikan Rania membuatkan teh untuknya. Rania berpura – pura tidak melihatnya.ia segera membawa teh hangat yang dibuatnya itu ke ruang tamu.


Hati Rania merasa sangat gelisah. Ia bertanya – tanya didalam hati, mengapa Lala belum juga kekuar dari kamar mandi. Ia duduk dengan canggung menemani Arkhan.


Arkhan melahap teh hangat yang dibuat Rania dengan begitu tenang. Tiba – tiba terdengar suara ketukan pintu. Rania lalu segera mebuka pintu apartemen itu. Jovan muncul secara tiba – tiba sambil membawa sekantung camilan. Jantung Rania berdengup dengan sangat kencang. Ia menjadi sangat terkejut dan canggung. Yang satunya suaminya, dan lainnya adalah mantan kekasihnya.


Namun, Rania berusaha untuk bersikap tenang. Ia segera menuju ke dalam dapur untuk membuat segelas teh hangat untuk Jovan. Setelah the hangat udah disiapkan, Rania menyempatkan diri untuk memanggil Lala agar segera keluar dari dalam kamar mandi. Dan lala pun segera keluar dengan terburu – buru. Rania segera membawa segelas teh keluar dari dapur.

__ADS_1


Rania merasa sangat heran karena kedua pria itu didapati sedang berbincang satu sama lainnya dengan tenang. Ia lalu meletakan teh diatas meja dan duduk di samping Arkhan untuk menutupi keadaan yang ada. Entah apa topik pembicaraan kedua pria itu. Akan tetapi, yang Rania ketahui adalah suasana tenang dan aroma perdamaian yang begitu kental.


Tak lama kemudian, Lala pun muncul dari dalam kamar. Ia lalu duduk di samping Jovan. Terlihat Jovan meminum teh nya dengan terburu – buru. Jovan pun akhirnya pamit untuk pulang. Rania dan Arkhan mengantar kepergiannya sampai ke depan pintu apartemen.


Jovan lalu membuka kantung makanan yang ia bawa. Lala segera ke dapur untu menyiapkan peralatan makan. Akhirnya mereka bertiga mulai menukmati makan malam bersama alakadarnya. Rania tidak banyak bicara. Lala pun diam saja. Lala yang mulai memahami situasi dan kondisi yang ada. Setelah makan malam, ia lalu berpamitan ke Rania dan Arkhan untuk menjenguk keluarganya yang sedang berada di hotel.


“ Aku akan keluar sebentar untuk menjenguk ayan dan ibuku !” Lala mulai angkat bicara.


“ Aku ikut, aku juga akan mungunjungi kedua orang tuaku !” Rania berusaha agar bisa keluar bersama Lala. Namun, tiba – tiba pintu apartemen diketuk lagi. Lala segera mebuka pintu karena ia tahu kalau yang datang itu adalah Dody.


“ Aku akan pergi bersama Dody ” Lala masuk bersama Dody dengan wajah yang begitu bahagia. Rupanya sepasang kekasih itu sudah mulai dekat satu sama lainnya. Keduanya sudah tidak terlihat malu – malu kucing.


Wajah Rania memerah penuh kecemasan. Arkhan menatapnya dengan tatapan yang datar. Ia tidak ingin wanita yang ada dihadapannya menjadi semakin cemas. Lala dan Dody akhirnya pergi dengan menggunakan sepeda motor.

__ADS_1


“ Ayo ” Arkhan mengajak Rania untunk keluar. Rania semakin kikuk.


“ Ke…Kemana ?” Rania bertanya penuh rasa takut. Ia takut kalau – kalau Arkhan akan mengajaknya untuk nginap di apartemennya. Wajahnya semakin merah padam.


“ Ke tempat orang tua kita ” Jawab Arkhan datar. Rania mengangguk dengan cepat. Ia lalu segera berlari kekamar, mengambil tasnya .


“Jangan tergesa – gesa ” Arkhan mengingatkan Rania untuk tidak terburu – buru.


Sesampainya mereka di dekat mobil, Arkhan lalu membukakan pintu depan untuk Rania. Rania menggelengkan kepala dan memilih untuk duduk di belakang.


“Ingat statusmu, kamu istriku, sampai kapanpun kamu tetap istriku !” Arkhan berbicara dengan penuh ketegasan. Wajah Rania pucat pasi. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia lalu mengikutui kemauan Arkhan untuk duduk disampingnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2