
Tiba saatnya pulang kantor. Tidak ada kabar dari Jovan. Rania memilih untuk tidak memperdulikan. Berpisah dari Jovan juga ia tidak akan rugi. Rania merasa bahwa ia sudah harus mulai menyiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan terjadi.
Sore hari setelah bangun dari tidur, Rania lalu pergi mandi. Setelah mandi dan berpakaian, Rania memilih untuk diam di apartemen miliknya dan menonton televisi.
"Bilang kalau mau keluar". Tiba - tiba ada sebuah pesan masuk dari sekertaris Joy. Tanpa berpikir panjang Rania langsung menjawab, "aku tidak ingin kemana - mana ".Sekertaris Joy hanya bisa menatap layar ponselnya dengan ekapresi datar.
Hari demi hari berlalu. Rania melakukan aktifitas setiap hari seperti biasanya. Pulang pergi kantor seperti biasanya. Seolah - olah tidak ada beban didalam hatinya.
Hari libur, dia pergi ke rumah orang tuanya. Ibunya menyambut dengan penuh haru dan bahagia. Tidak banyak yang dia lakukan di rumah orang tuanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk
__ADS_1
tidur di kamarnya. Makan tidur makan tidur yang membuat tubuhnya bertambah gemuk.
Menyadari tentang perubahan yang terjadi pada putrinya, sang ibu hanya tenang - tenang saja. Wanita itu hanya berpikir dalam hatinya bahwa mungkin saja putrinya sedang menyiapkan mental untuk memasuki tahap pernikahan.
Sang ibu tidak seperti wanita lainnya yang hobinya belanja pakaian bagus atau tas yang bagus. Salah satu hobinya yang mendominasi adalah memasak. Hidangan selama satu minggu selalu saja bervariasi. Bosan dengan mwnu yang satu, dibuat lagi menu yang lain. Saat pulang begini, biasanya Rania paling suka ikut membantu ibunya memasak didapur. Banyak hal yang ia pelajari dari ibunya. Dalam hal memasak, Rania juga lumayan hebat.
Tiba di kamar, dia melihat Rania sedang tidur dengan nyenyaknya. Dia lalu memwncet ujung hidung Rania. Mata Rania segera terbuka. Dilihatnya sang ibu sedang berada disisinya dan sedang menatapnya dengan pandangan penuh kaaih sayang. "Turun dan makanlah. Ibu sudah menyiapkan semuanya di bawah"!. kata ibunya.
Rania lalu mengangkat kedua tangannya, memberikan isyarat kelada ibunya untuk menarik kedua tangannya.
__ADS_1
Wanita itu yang sedang melihat anaknya berbuat begitu, sedang menatap anaknya sambil tersenyum. Ia lalu menarik kedua tangan anaknya untuk bangun.
Setelah itu Rania segera ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Ibunya duduk diam didalam kamarnya untuk menunggu. Setelah itu mereka berdua lalu berjalan ke ruang makan sambil bergandengan tangan. Hubungan ibu dan anak yang begitu manis.
Kamar Rania berada di lantai atas. Untuk sampai ke ruang makan, mereka berdua harus melewati beberapa kamar dan ruang tamu. Sesampai di ruang makan, ternyata ayahnya sudah ada di delan meja makan. Melihat ibu dan anak yang datang samb bergandengan tangan, ayahnya hanya bisa menatap dengan tatapan yan penuh rasa haru dan bahagia. Senyum terukir di bibir nya. Suasana di ruang makan itu tiba - tiba berubah menjadi hangat dan manis.
Rania makan dengan sangat lahapnya. Sang ibu melihat anaknya hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia baru menyadari keanehan yang terjadi pada anaknya. Pipi gembul, badan berisi. Tiba - tiba ia berpikir "Mungkinkah anak gadisnya ini sedang hamil. ?". Jantung wanita itu tiba - tiba berdetak dengan irama yang sangat cepat.
🐾🐾🐾🐾
__ADS_1