
Malam itu mereka habiskan dengan tidur sambil berpelukan. Ada perasaan damai menyelimuti hati dua insan itu. Mereka berdua tidur dengan lelapnya sampai pagi datang.
Ketika terbangun keesokan paginya, Jovan sudah tidak ada disampingnya. Rania bergegas kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya seperlunya. Dia berencana untuk tidak kekantor hari ini karena merasa kondisinya yang kurang sehat.
Setelah itu Rania ke dapur untuk membuat sarapan seadanya. Dapurnya tidak terlalu besar tapi kebersihannya selalu terjaga. Barang - barang didapur itu pun tertata dengan sangat rapi.
Beberapa saat kemudian dua menu telah selesai dikerjakannya. Nasi dan Daging sapi rebus. Daging sapi itu dibuat dgn olahan yang sangat sederhana. Bahan campurannya hanyalah Beberapa bumbu dan sayuran yang masih tersisa didalam kulkasnya.
Dia lalu memakan sarapannya dengan begitu lahapnya. Tiba - tiba dia merasa ada seseorang yang sedang memasuki ruangan itu. Jovan telah datang dan duduk disampingnya. Ada sebuah kantung yang berisi sarapan pagi. Kantung itu pun diletakan diatas meja makan dengan begitu saja karena dia melihat Rania sudah hampir selesai dengan sarapan paginya.
" Aku akan ke Bali hari ini. Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan disana. Kamu tidak perlu masuk kantor dalam beberapa hari ini." Begitulah Jovan mulai membuka percakapan diantara mereka.
__ADS_1
"Tunggu sampai kondisi mu benar - benar stabil baru boleh masuk kantor. " lanjutya.
Rania hanya mengangguk sambil menatap Jovan. Dia lalu mengambil beberapa butir obatnya yang masih tersisa untuk di minum. Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan itu.
Tiba - tiba Jovan memeluk tubuh Rania. Rania sudah tidak terkejut lagi. Dia hanya sedikit canggung tapi kelihatannya mulai terbiasa. Rania mulai membalas pelukan Jovan dengan perasaan yang tulus.
Jovan merasa sangat bahagia. Akhirnya segala usahanya untuk menaklukan hati Rania sudah mulai menampakan hasilnya.
Ciuman perpisahan pun mendarat di bibir gadis itu. Dan Rania pun sudah mulai terbiasa dengan ciuman Jovan, mulai membalas ciuman itu. Ciuman mereka berdua semakin dalam. Irama jantung mereka pun berdetak dengan cepanya. Mereka berpelukan dengan sangat eratny.
Tubuh Rania serasa menggigil. Ada semacam hawa aneh yang tersalur keseluruh tubuhnya. Otaknya berpikir untuk menghentikan ciuman panas itu, tapi tubuhnya bereaksi lain.
__ADS_1
Tiba - tiba pintu ruangan itu terbuka. Secara refleks keduanya menghentikan ciuman itu. Sekertaris Joy sudah berada di dalam ruangan itu. Wajah sekertaris Joy merah padam. Entah ia merasa heran atau merasa kaget dengan kejadian yang terpampang didepan matanya. Dalam hati ia berpikir. Rupanya sang bos sudah berhasil menaklukan hati gadis itu. Dan dia pun merasa sangat bahagia.
"Jadwal penerbangan ke Bali sebentar lagi. Ini dokumen - dokumen yang harus tuan bawa." Sekertaris Joy berkata sambil menyerahkan sebuah Map yang berisikan beberapa dokumen ke tangan Jovan.
Jovan dan sekertaris Joy segera keluar dari apartemen itu. Rania hanya mengantar mereka sampai ke depan pintu apartemen. Sebelum Jovan benar - benar pergi memasuki mobinya, ia menatap Rania dengan tatapan penuh rasa cinta.
Rania membalas tatapan itu dengan tatapan yang tulus. Akhirnya Jovan masuk kedalam mobil dan segera menuju ke bandara.
Rania melihat mobil itu sampai mobil itu benar - benar hilang dari pandangannya. Ada semacam perasaan kehilangan yang melanda hatinya seketika.
*****
__ADS_1
🐾🐾🐾