
Rania berencana akan berangkat ke rumah Lala hari ini. Pagi – pagi sekali mereka sudah bersiap – siap. Taksi yang mengantarnya mulai melintasi daerah persawahan dan keluar dari kawasan tempat tinggal Rania. Sebenarnya Rania ingin berangkat menggunakan Bus agar lebih aman. Namun, ayahnya merasa keberatan karena merasa akan kerepotan memindahkan barang – barang bawaan. Akhirnya Rania memesan Taksi untuk mengantar mereka. Rania tidak ingin mengendarai mobil sendiri karena perjalanannya cukup jauh dan medannya cukup sulit.
Taksi yang mereka tumpangi berjalan dengan santai. Alunan musik yang lembut menemani dalam mobil. Sudah satu jam perjalanan yang di tempuh dan membuat Rania merasa jenuh. Rania memutuskan untuk tidur sejenak. Ayah dan ibunya sedang berbincang - bincang.
Manusia hanya bisa berencana, hanya Tuhanlah Sang penentu segala takdir. Tiba – tiba, dari arah yang berlawanan, muncul sebuah Bus dengan kecepatan tinggi. Sopir taksi sangat terkejut dengan situasi yang tak terduga. Ia sudah berusaha untuk menghindari. Namun, Takdir berkata lain.
__ADS_1
Taksi yang di tumpangi Rania dan kedua orangtuanya tergelincir kedalam jurang. Jurang itu berada di tepi sungai yang cukup dalam dan aliran airnya cukup deras. Untunglah ada sebuah pohon yang menahan mobil itu, sehingga tidak jatuh kedalam sungai.
Bus pun berhenti seketika untuk melihat dan memberikan pertolongan seadanya. Beberapa saat kemudian, hiruk - pikuk mobil patrol polisi dan mobil ambulans pun berdatangan di lokasi kecelakaan. Ayah Rania dan sang sopir dibawa kedalam ambulans dan segera dilarikan ke ruah sakit. Sedangkan Ibunya, duduk diam terpaku di tanah. Terlihat dua orang tim medis sedang menemaninya dan memberikan dukungan moril. Mata wanita tua itu menatap hampa ke dalam arah sungai.Polisi dan Tim sar sedang melakukan pencarian di seputaran sungai. Cukup lama. Namun, Jasad Rania belum juga ditemukan.
Ibu Rania segera menuju ke rumah sakit karena harus menjaga suaminya yang sedang kritis. Arkhan memutuskan untuk terus mencari bersama Adit dan Lala. Adit dan Lala yang baru mendengar kabar duka itu, segera menuju ke lokasi kecelakaan. Mereka bersama beberapa warga memutuskan untuk membuat tenda darurat di sekitar lokasi untuk bermalam. Mereka berencana untuk melanjutkan pencarian keesokan harinya.
__ADS_1
Arkan merasa sangat terpukul dengan peristiwa itu. Ia menyesali kecerobahnnya karena membiarkan Rania harus berangkat sendiri ke rumah Lala. Seandainya ia sendiri yang mengendarai mobil dan mengantar istri dan mertuanya, mungkin saja peristiwa seperti ini tidak akan terjadi. Pria itu menangis dalam diam. Namun, ia masih berharap agar dalam pencarian besok, istrinya dapat ditemukan dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
Malam itu Arkhan tidak dapat memejamkan mata. Bayangan Wajah Rania selalu saja terlintas didalam pikirannya. Selera makan Arkhan hilang dengan sendirinya. Ia hanya bisa duduk bersila sambil sebelah tangannya menopang dagunya. Ia bertanya – tanya dalam hati. Mengapa Rania tidak dapat ditemukan ? bukankah aliran sungai ditepi jurang itu tidak cukup deras ?.Malam itu terasa sangat panjang baginya. Ia tertidur dengan sendirinya karena sangat kelelahan.
Dalam tidurnya Arkan bermimpi tentang Rania. Ia bermimpi istrinya itu sedang melambaikan tangannya dari dalam sungai. Wanita itu berenang dengan lincahnya dan tertawa bahagia.
__ADS_1