
Keesokan harinya.....
Kedua Keluarga itu berkumpul dirumah Rania.Rumah itu terletak di pinggiran Kota. Halamanbrumah itu begitu luas. Diluar pagar rumah itu terhampar sawah yang luas. Panorama yang hijau dan udara yang segar.
Rencana pernikahan mulai dibahas. Rania ngotot tidak ingin menikah. Tapi apa mau dikata. Mereka sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalau kedua anaka muda itu sudah sangat dekat. Atau mungkin saja lebih dari sekedar dekat. Ketakutan dua keluarga membuat mereka harus mengambil keputusan itu. Menikahkan kedua anak itu secepatnya.
Sedangkan Jovan...
Pria itu juga tidak menyetujui rencana kedua keluarga itu. Ia sangat menyayangi Rania. Dan ia ingin mendukung pendidikan Rania. Ia menginginkan pernikahan setelah Rania di wisuda.
Keputusan itu akhirnya dibuat. Mereka akan menikah setelah Rania selesai magang. Pesta pernikahan akan dibuat sederhana. Dan Resepsi pernikahan akan dibuat meriah setelah Rania diwisuda.
****
Rania kekantor seperti biasanya. Wajahnya tidak terlihat seperti biasanya. Akhir - akhir ini dia menjadi lebih pendiam.
__ADS_1
Pada jam makan siang pun Rania kelihatan tidak bergairah. Wajahnya memancarkan aura kesedihan.
Jovan hanya bisa menatapnya dari jauh. Dia merasa sangat bersalah. Perasaan bersalah karena membuat kedua keluarga mempercepat pernikahan.
Keesokan harinya...
Sudah jam 10.00, Rania tidak menampakan batang hidungnya dikantor. Jovan sangat gelisah. Dia mondar - mandir beberapa kali didalam ruangannya. Berharap kehadiran Rania, walaupun sudah sangat terlambat.
Akhirnya pada jam makan siang. Jovan meluncur ke apartemen Rania untuk memastikan keadaan Rania. Pintu diketuk berulang - ulang. Tapi tidak ada yang membuka pintu untuknya. Jovan akhirnya menelpon Rania. Bunyi hp Rania terdengar dari dalam apartemen itu. Berarti Rania tidak kemana mana. Jovan merasa sangat cemas. Mungkinkah Rania sedang sakit. ?
"Rania......! "
Tiba - tiba pintu dibuka. Setelah membuka pintu, Rania kembali tidur lagi. Jiwa Rania sangat lelah. Akhir - akhir ini banyak sekali kejutan yang terjadi didalam hidupnya. Pertemuannya dengan Jovan sampai pada rencana pernikahannya.
Kecurigaan Jovan ternyata benar adanya. Rania sedang sakit. Dahi Rania sangat panas. Wajah yang putih itu kemerah - merahan karena suhu tubuhnya yang sangat panas.
__ADS_1
Jovan segera keluar mencari makanan. Setelah itu dia pun mulai menyuapi Rania. Mengambil sisa obat yang pernah dibelinya dan diberikan kepada Rania untuk diminum.
Selimut yang menutupi tubuh Rania di bukanya. Dan akhirnya dia naik keatas tempat tidur dan memeluk Rania dengan eratnya.
Rania tidak menolaknya lagi. Toh akhirnya mereka akan menikah juga. Itulah yang ada dalam pikiran Rania. Dan Rania juga tahu dengan sangat jelas. Jovan tidak akan pernah melewati batasannya.
Malam akhirnya datang....
Jovan pulang kerumahnya untuk mandi. Setelah itu dia mampir ke sebuah restoran untuk membeli makanan. Sesampai di apartemen Rania, gadis itu tidak terlihat. Mungkin saja dia ke kamar mamandi. Itu yang dipikirkan Jovan.
Rania keluar dengan mengenakan handuk. Melihat keberadaan Jovan, Rania sangat terkejut. Ia pun berlari kembali kedalam kamar mandi. Jovan lebih terkejut lagi. Melihat Rania keluar dengan mengenakan handuk membuat jangtungnya berdetak dengan sangat cepatnya.
Namun Logikanya bergerak dengan cepat.
"Keluarlah, aku akan menunggu diluar. Keluar dan pakai pakaianmu. Kalau sudah selesai, panggil aku. " begitu kata Jovan sambil membawa sebatang rokok untuk diisapnya. Dia lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1
*****
🐾🐾🐾