Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Membeli Motor Baru


__ADS_3

Rania keluar dari pintu kampus bersama ketiga sahabt karibnya. Lala, Nova dan Adit. Lala adalah sosok nyang cupu, lucu, berkacamata tebal, dan berambut sebahu. Nova adalah sosok yang ramah dan periang. Dan Adit adalah sosok yang ramah dan lucu. Adit adalah kekasih Nova. Berempat mereka keluar dari kampus itu dengan mengendarai sepeda motor. Adit dengan Nova, Rania diboncengi si cupu Lala. Mereka tidak langsung pulang ke tempatnya masing- masing, tetapi haris singgah di salah satu Dealer Motor. Hari ini Rania berencana membeli sebuah sepeda motor untuk dipakainya pulang pergi kampus. Motornya buntutnya yang dulu sudah diberikan kepada Lala. Motor yang sekarang mereka pakai untuk berboncengan.


Dealer Motor itu tidak begitu ramai. Rania segera memilih salah satu sepeda motor. Sepeda motor berwarna merah menjadi pilihannya. Rania lalu membayar ke kasir dan segera membawa pulang sepeda motor itu. Dalam perjalanan, mereka singgah di tempat penjualan helm untuk membeli helm baru. Sepeda motor berwarna merah dan helm pun berwarna merah. Setelah itu mereka bersama – sama singgah di salah satu warung di pinggir jalan untuk makan siang. Warung itu begitu sederhana, namun pengunjungnya begitu ramai.


Rania dan para sahabatnya mulai memesan makanan. Sudah lewat jam makan siang. Setelah makanan dihidangkan, mereka makan dengan sangat lahapnya. Sehabis makan, mereka masih duduk sejenak sambil menikmati segelas minuman dingin.


“ Suamimu kan kaya, kenapa tidak beli mobil saja sekalian ?” Lala mulai membuka percakapan.


“ Ia Rania, kan bagus. Kita bisa berangkat kampus bareng – bareng !” Nova menimpali.


“ Adit mau ditaruh dimana ?” Rania menjawab sambil melototkan matanya kea rah Adit dan tertawa.

__ADS_1


Mereka ber empat lalu tertawa bersama – sama.


“ La, nanti kamu pindah ya ke apartemen ku. Aku kan sudah punya suami. Nah, kamu yang jagain aku sementara !” Rania mengajak sahabatnya untuk tinggal di Apartemennya.


“ Lalu, kalau suamimu datang bagaimana ?” Balas Lala.


“ Tenang saja La, suamiku juga punya apartemen di sekitar sini. Nah, kalau dia datang, pasti dia nginap di apartemenny !” lanjut Rania.


“ Nanti ku pikir – pikir dulu !” balas Lala.


Setelah selesai dengan segelas minuman dingin dan sedikit perbincangan, mereka ber empat lalu pulang ke tempat tinggalnya masing masing. Hari yang cukup melelahkan. Setelah sampai di dalam kamar apartemenya, Rania segera mandi, berganti pakaian seadanya, dan tidur.

__ADS_1


Malam hari pun tiba, Rania tidak kemana mana. Ia hany duduk diam didalam apartemennya. Duduk sambil nonton televisi. Seperti biasanya, Rania memilih film kartun untuk bahan tontonannya. Duduk menonton sambil memakan camilan memang paling disukainya. Tiba – tiba terdengar suara panggilan dari luar apartemen.


“ Rania…, Rania…., buka pintunya. Aku ingin bicara !” suara Jovan terdengar samar – samar memanggil namanya. Jantung Rania berdebar – debar. Namun ia tidak mau membuka pintu. Volume suara televisi di kecilkan, lampu di ruang tamu dimatikan. Terdengar pintu di gedor – gedor semakin kencang. Rania tidak merespon sedikitpun. Akhirnya suara ketukan pintu itu berhenti dengan sendirinya. Begitu juga dengan suara panggililan, sudah tidak terdengar lagi.


Malam itu Jovan datang ke apartemen Rania dalam keadaan mabuk. Ia datang mencari Rania untuk meminta maaf dan menjelaskan tentang masalah yang terjadi diantara ia dan Rania. Namun Rania tidak menggubrisnya sedikitpun.


Rania segera mematikan televisi. Ia lalu duduk temenung. Merenungkan kembali kisahnya bersama Jovan. Kenangannya bersama Jovan. Airmatanya tergenang didalam kelopak matanya. Ia segera menyekanya dengan kedua jari telunjuknya. Dadanya terasa begitu sesak.


Sebenarnya Rania tidak ingin lagi kembali ke apartemen ini. Akan tetapi, ia harus mengesampingkan masalah pribadinya. Ia harus melanjutkan pendidikannya. Hanya beberapa bulan lagi. Ia harus bertahan sampai gelar sarjana diraihnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2