
" Kalau kamu tetap disini, aku tidak akan bisa tidur"Jawab Rania.
"Kalau aku tidak disini, aku pun tidak akan bisa tidur. Aku akan menjagamu dan memastikan keadaanmu baik - baik saja barulah aku bisa tenang."Kata Jovan.
Rania hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apa - apa. Ia lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan mencoba untuk bisa tidur.
Jovan duduk disofa. Ia duduk dengan gelisahnya. kadang - kadang ia berdiri dan berjalan mondar - mandir didalam ruangan itu. Kadang - kadang ia menghampiri Rania dan meraba dahi gadis itu.
Kondisi Rania sudah mulai stabil. Suhu tubuhnya sudah mulai normal. Hanya saja Jovan tidak bisa tidur. Gadis yang ia cintai ada didepan matanya. Sedang tidur atau pura - pura tidur ia tak thau. Yang ia tahu hanyalah keinginannya yang sangat kuat untuk mendatangi gadis itu, memeluk gadis itu dan membiarkan gadis itu tidur dalam dekapannya.
Tapi akal sehatnya menolak dengan kerasnya. Ia takut kalau nantinya gadis itu akan menolaknya dan semakin membencinya.
__ADS_1
Jovan pun memilih keluar sebentar untuk mengisap rokok. Sudah hampir sebungkus rokok dihabiskannya tetapi matanya seakan - akan tidak bisa mengantuk sama sekali.
Rania bangun untuk buang air kecil. Sedari tadi ia menahannya karena takut akan keberadaan Jovan. Begitu menyadari bahwa Jovan tidak ada diruangan itu, dia pun memberanikan diri untuk bangun menuju kamar mandi.
Jovan akhirnya masik kembali kedalam ruangan itu. Mendapati tempat tidur yang kosong membuat Jovan sangat terkejut. Ahkirnya Jovan mulai berpikir bahwa mungkin saja Rania sedang berada di kamar mandi.
Ketika Rania keluar dari kamar mandi, Jovan sedang duduk disofa sambil menatap kearahnya. Tatapan itu begitu tajam menembus sum - sum tulang Rania. Tubuh Rania hampir menggigil dibuatnya.
Rania bergegas ke tempat tidur. Tiba - tiba Jovan memeluknya. Rania jatuh terduduk diatas tempat tidur. Apa yang bisa ia lakukan. Jovan sudah mulai melancarkan aksinya. Bibir lembut gadis itu sudah mulai dilumat dengan lumatan yang dalam.
Logika Jovan mulai mengalahkan emosi jiwanya yang hampir tidak terkontrol. Dia pun memeluk tubuh Rania. Posisi Rania membelakanginya membuatya merasakan harumnya rambut Rania. Wangi itu begitu sederhana namun sangat lembut dan menenangkan.
__ADS_1
Rania tidak bisa berbuat apa - apa. Ia harus segera menyetujui apa yang ingin dilakukan oleh pria itu. Rania menyadari bahwa pria itu kalau ditolak maka akan semakin melewati batasannya. Jantung Rania berpacu dengan sangat cepatnya.
Akhirnya kedua anak muda itu tertidur dengan lelapnya. Rania mulai merasakan kenyamanan berada didalam pelukan pria itu.
Jovan mula - mula tidak bisa tidur. Hasratnya kadang timbul kadang tenggelam. Tetapi ketika melihat Rania sudah tidur dengan lelapnya, dia pun mulai merasa sangat bahagia. Akhinya Jovan mulai melupakan hasratnya dan mulai terlelap disamping Rania.
Ketika Rania terbangun, Jovan sudah tidak ada dikamar itu. Dia pun segera bangun dan menyiapkan dirinya untuk segera kekantor.
Rania merasa bahwa dia tidak perlu beristerahat lebih lama lagi karena ketidak hadirannya dikantor akan memancing kehadiran sang bos dengan segala bentuk perhatiannya.
Pengelaman semalam bersama Jovan membuat ia sudah mulai bisa mempercayai pria itu. Pelukan hangat pria itu masih membekas dalam ingatannya. Ia takut kalau sekiranya ia diperlakukan seperti itu lagi, maka akan dia akan sulit terlepas dari pria itu.
__ADS_1
******
🐾🐾🐾