
Jantung Rania berdetak dengan sangat cepat. Suasana hatinya tiba - tiba menjadi sangat berantakan. Sepertinya ada semacam firasat buruk. Tetapi Rania dengan cepat menenangkan suasana hatinya. Rania segera berpikir dengan cepat untuk menenangkan suasana hatinya. Bukankah sebentar lagi dia dan Jovan akan segera menikah. Dan sikap Jovan padanya belakangan ini juga tetap hangat seperti biasanya. Berpikir seperti itu membuat segala pikiran buruk akhirnya hilang semua.
"Bolehkah aku nginap di apartemen mu malam ini ? ". Tiba - tiba Erika meminta kesediaan Rania.
" Sangat nyaman kalau tidur ada sahabat di samping". Tambah Erika sambil menatap Rania dengan penuh senyuman.
Rania sedikit heran mendengar keinginan Erika. Ia merasa merasa mereka berdua belum terlalu dekat untuk saling berbagi kamar. Ditambah lagi ia khawatir kalau nantinya Jovan datang seperti biasanya untuk nginap di apartemen nya.
Dengan berat hati akhirnya Rania menyetujui permintaan Erika. Erika menatapnya tatapan datar sambil tersenyum. Mereka pun segera pulang karena hari sudah makin larut.
Sementara itu didalam gedung kantor, Jovan sibuk menandatangani dokumen - dokumen perusahaan. Sebenarnya pekerjaannya tidak terlalu banyak. Selebihnya ia hanya duduk diam dengan perasaan gelisah. Ruangan kantor itu dipenuhi dengan asap rokok. Jovan adalah tipe pria yang jarang merokok. Suasana hatinya yang sangat berantakan membuat ia merokok dengan gencarnya. Habis sebatang, dibakar sebatang lagi. Habis lagi, dibakar lagi. begitulah seterusnya. Asbak diatas meja itu sudah dipenuhi banyak puntung rokok. Terlihat sekali seperti ada beban yang sangat besar didalam hatinya.
Tiba - tiba Ponsel Jovan bergetar. Ada pesan masuk dari Erika.
__ADS_1
" Malam ini aku nginap di tempat Rania. Gadis bodoh ini sudah setuju dengan permintaan ku untuk nginap bersamanya. "
Jovan melihat pesan itu dengan tatapan kosong. Trik apa yang akan dimainkan oleh gadis ini ? pikir Jovan didalam hatinya.
Jovan mengirimkan pesan pada Rania bahwa ia tidak bisa mengunjungi Rania malam ini. Pekerjaan kantor yang sangat banyak menjadi alasan bagi nya. Jovan bersikap seolah - olah ia tidak tahu tentang Erika yang nginap di apartemen Rania.
"Tidak apa - apa, aku punya sudah punya teman untuk tidur bersama malam ini. Jadi kamu tidak usah khawatir." Itulah balasan dari Rania.
Rania menunggu reaksi dari Jovan. Tapi balasan dari Jovan hanya ada satu kalimat. " Baguslah kalau begitu. "
Rania menunggu sesaat lagi. Mungkin saja ada pesan yang lain dari Jovan. Tapi setelah itu tidak ada satu pesan pun yang masuk. Merasa ada yang berbeda, Rania hanya bisa menatap layar ponselnya dengan dengan pandangan tidak puas.
Erika yang melihat Rania sedang menatap layar ponselnya lalu bertanya " Ada apa didalam ponsel itu sehingga kamu menatapnya begitu lama ?"
__ADS_1
Rania yang merasa bahwa Erika hanyalah orang luar, tidak memberikan penjelasan apa - apa padanya. Dia hanya menggeleng - gelengkan kepalanya sambil berkata, " bukan apa - apa. "
"Baiklah kalau tidak ada apa - apa " Kata Erika.
"Aku sudah sangat ngantuk. Kedua kaki ku juga terasa sangat pegal. Apa aku sudah bisa mulai tidur. ?" Tanya Erika.
" Ayo kita tidur, aku juga sudah sangat mengantuk. " Jawab Rania dengan ekspresi yang lesu.
Mereka berdua lalu masu kedalam kamar dan merebahkan badannga diatas tempat tidur.
Capek berkeliling di pusat perbelanjaan dan perut yang kenyang membuat kedua gadia itu tidur lebih awal.
******
__ADS_1
🐾🐾🐾