Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Menghibur Kakak


__ADS_3

Semua urusan pendidikan Rania akhirnya tuntas. Tinggal menunggu hari saat mereka akan wusuda. Rania memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Lala sudah pulang kerumah orang tuanya sejak kemarin.


Suasana rumah itu begitu ramai. Terlihat kedua keponakannya sedang bermain di ruang tamu , diawasi ayah dan ibunya. Wajah kedua orang tua itu terlihat sangat murung. Ketika melihat kedatangan Rania, kedua anak kecil yang sedang bermain itu menghentikan aktifitas mainnya sejenak dan berhamburan ke pelukan Rania.


“ Bibi…..!” pangggil mereka berdua secara bersamaan. Rania segera memeluk kedua keponakannya dengan hangat.


“ Rania…., kapan pulang nak ?” ibunya yang baru menyadari kedatangan Rania segera menyambut putrinya. Sejenak wanita itu tersenyum menyambut kedatangan Rania. Senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.


Rania segerak masuk kedalam kamarnya dan menyimpan tas ransel yang ia bawa. Saat keluar dari kamarnya, ia melihat kakak perempuannya yang baru keluar dari dalam dapur. Sonia terlihat agak kurus. Badannya yang dulu pada berisi, terlihat sudah berubah drastis. Wajah cantiknya terlihat mulai tidak terurus. Wajah itu terlihat sangat murung.


“ Kakak….!” Sapa Rania sembari memeluk kakaknya dengan hangat.


“ Sejak kapan kakak disini ?” lanjut Rania. Sonia hanya tersenyum getir dan menundukan wajahnya.


“ Sudah waktunya makan siang, ayo panggil ibu dan ayah !” Sonia berbicara pelan. Rania segera ke ruang tamu dan memanggil kedua orang tuanya dan keponakannya untuk makan siang.

__ADS_1


Meja makan itu penuh dengan berbagai macam makanan. Aroma nya tercium sangat harum. Dengan bersemangat, Rania lalu mengambil makanan beserta lauknya. Suasana di ruang itu terasa begitu hambar. Terlihat Sonia dengan wajahnya yang muram. Ayah ibunya yang terlihat tidak bersemangat. Sedangkan kedua keponakannya, berceloteh seperti biasanya.


Rania tidak ingin bertanya tentang keadaan yang terjadi. Ia sudah mulai menduga tentang permasalahan yang terjadi. Namun ia merasa bahwa belum saatnya untuk membicarakan masalah itu. Ini ruang makan. Ia tidak ingin selera makan semua orang menjadi berkurang.


Selesai makan, Rania segera memantu kakaknya membereskan piring – piring kotor, membawanya ketempat cuci piring, lalu mencucinya pelan – pelan, dan menyusunnya di rak piring. Kakaknya hanya duduk dan memperhatikan saja.


“ Ada apa kak ? Rania mulai membuka percakapan. Air mata kakaknya tiba – tiba saja menetes dari kedua kelopak matanya.


“ Kakak iparmu punya wanita simpanan !” jawab Sonia singkat.


“ Tenang saja kakak…, semua pasti ada jalan keluarnya !” kata Rania menguatkan, walaupun dilalam hatinya terasa sangat perih. Ingin rasanya ia menagis sejadi – jadinya. Namun, kesedihan itu harus ia simpan didalam lubuk hatinya. Ia hanya bisa menampilkan ekspresi yang datar dan tegar.


“ Lalu bagaimana dengan anak – anak Ran ?” Sonia bertanya sambil terisak mengingat nasip kedua anaknya. Begitulah seorang istri, hal pertama yang dipikirkan adalah anak – anaknya. Apapun yang terjadi, anak – anak adalah prioritas dalam hidupnya.


“ Kamu harus kuat kak…, demi anak – anak !” Rania menguatkan kakaknya. Ia lalu duduk di samping kakaknya karena aktifitas membereskan piring kotor telah selesai. Sonia lalu mengangguk – anggukan kepalanya.

__ADS_1


“ Banyak sekali orang tua tunggal yang mengurus anaknya dengan baik. Kakak ini wanita yang tangguh !” Lanjut Rania.


“ Ayolah, jangan tunjukan wajah murungmu di depan ayah ibu dan anak – anak !” Rania lalu mengajak kakaknya keluar dari ruangan itu.


Mereka berdua bersama – sama menuju ke ruang tamu. Wajah Sonia yang tadinya murung, kini terlihat mulai bersemangat. Ia lalu bermain bersama kedua anaknya. Rania memilih duduk di dekat ayah dan ibunya sambil memperhatikan ibu dan anak – anak itu bermain.


Setelah puas berkumpul bersama, Rania lalu berjalan menuju ke araha kamarnya. Ia segera masuk kedalam kamar, mandi dan beganti pakaian. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin sekali mandi. Namun, situasi dan kondisi menuntutnya untuk tetap berada disamping kakak, ayah dan ibunya. Setelah selesai mandi, Rania lalu lalu merebahkan badan nya diatas tempat tidur.


Belum sempat ia tidur, tiba – tiba saja ibunya masuk kedalam kamar. Wanita tua itu lalu duduk di samping Rania. Rania pun segera bangun dan duduk berdampingan dengan ibunya.


“ Jangan berlama – lama disini nak, wanita itu tempatnya adalah berada disisi suaminya !” Wanita tua itu berbicara sambil menatap putrinya dengan raut wajah penuh dengan kesedihan. Mata tua itu terlihat berkaca - kaca.


“ Ibu tidak ingin melihat nasip mu sama seperti Sonia !” Ibunya mulai terisak. Rania memeluk ibunya dengan perasaan bercampur aduk. Dan akhirnya Rania pun menagis tersedu – sedu memikirkan nasip pernikahannya dengan Arkhan.


“ Aku dan Arkhan baik – baik saja ibu !” Rania meyakinkan ibunya. Ia tidak ingin ibunya menjadi khawatir dengan nasip pernikahannya. Cukup kakanya saja yang membuat ibunya bersedih.

__ADS_1


*******


__ADS_2