
H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
"Satu.. dua.. mulai!!" Ucap Ana.
Ana maju selangkah dan memukul pria yang sedari tadi mengoceh.
Namun sebelum pria itu menangkis pukulan Ana, tangan Ana telah lebih dulu mendarat di wajah pria itu, Yan Hu.
Yan Hu terlempar ke samping dan dengan cepat Ana memberikan pukulan lagi sebelum Yan Hu sempat bereaksi.
"Ka--"
Ucapan Yan Hu terpotong ketika tangan Ana meninju perutnya. Sudah di pastikan bahwa salah satu tulang rusuk nya patah.
3 detik lagi!
Kemudian Ana mengangkat kaki nya dan menendang tepat di dada Yan Hu.
"Akh!!" Jerit Yan Hu ketika tubuhnya menampar pohon di beberapa meter dari posisi semula.
Salju yang berada di atas pohon rontok dan menimpa Yan Hu hingga tubuhnya tak terlihat.
Dan dua orang lagi berlari ke arah nya dengan pedang di masing masing tangan. Pedang itu di selimuti oleh cahaya merah menyala.
"Heh!" Ana tersenyum sinis dan mulai bergerak cepat hingga orang mungkin tidak bisa melihat gerakannya.
Ia memukul, menendang dan yang terakhir ia menjewer telinga keduanya lalu melemparnya ke tumpukan salju.
"Selesai!" Ana tersenyum seraya melipat tangan nya di depan dada.
Ia melihat sekeliling nya.
Pemandangan yang cukup indah!
__ADS_1
Ya Indah! Dengan beberapa orang yang telah terbaring dengan tak sadarkan diri dan bahkan ada juga yang sudah tidak bernafas.
Ana terkekeh melihat hal itu.
"Nahkan, benar apa yang ku katakan. Mereka menjadi samsak!"Ucap Felix menggeleng.
Para Spirit Beast Ana saat ini sedang berkumpul di gazebo sambil minum teh.
"Sudah?"Tanya Ana saat ke tiga temannya berhenti.
"Tepat 5 detik." Sambung Ana tersenyum.
"Cukup untuk olah raga di pagi hari." Jiao tersenyum senang.
"Pagi, kata mu? Sudah siang bodoh!" Jingmi memukul kepala Jiao pelan.
Ana dan Shilin hanya merotasikan bola mata malas dan meninggalkan keduanya.
"Hei tunggu!!" Teriak Jiao dan Jingmi mulai berlari.
Xixi yang berada di dahan pohon mendengus kesal. Hei bukankah dia selalu terlupakan? Itu benar benar menyebalkan.
****
Di sebuah taman yang gelap, berdirilah seorang pria dengan mata merah.
Angin berhembus melewati wajah tampan nya. Wajah yang putih halus dan bibir yang tipis itu terlihat sangat lembut. Berkebalikan dengan matanya yang tajam dan manik merah nya.
Namun jika Ana melihat ini, sudah pasti ia akan berlari kearahnya dan membunuhnya berkali kali.
Aura yang di bawa oleh nya terasa sangat dingin dan mengerikan.
"Bagaimana keadaannya." Suara datar dan dingin terdengar di telinga seorang berpakaian serba hitam yang tengah berlutut.
"Yang Mulia, 'dia' saat ini baik baik saja dan tanpa di temani oleh Suaminya." Ucap bawahan itu dengan suara bergetar.
"Hm."
"Yang Mulia, A--apakah anda ingin berkunjung di kediaman Selir Agung? Selir.. Selir Agung menunggu anda sejak beberapa hari yang lalu." Ucapnya takut.
__ADS_1
Pria itu berbalik dan menuju tempat dimana ia meraih kesenangan.
Bawahan yang berlutut menghembuskan nafas lega.
Berbeda dengan Pria itu yang akan meraih kesenangan nya.
Liu Yaoshan dan beberapa Tetua sedang mengadakan pertemuan. Liu Changhai hanya mendengarkan dan tidak berbicara sepatah kata pun.
Sampai pertemuan itu berakhir, Liu Changhai menghela nafas berat.
"Selalu awasi pergerakan 3 Tetua itu! Jika ada hal yang terlewat maka kau tahu sendiri apa akibatnya!" Dengan dingin Liu Yaoshan berkata pada Liu Changhai.
"Ba--baiklah"
"Umm kapan aku bisa ke dunia bawah?"Tanya Liu Changhai takut takut.
Liu Yaoshan menatap tajam Liu Changhai.
"Setelah masalah ini selesai." Empat kata yang di ucapkan oleh Liu Yaoshan membuat Liu Changhai melemas.
Dia ingin segera bertemu lagi dengan Istri cantiknya! Tapi apa ini?!
Liu Changhai menyalahkan 3 Tetua itu yang membuat nya tidak bisa bertemu dengan Istri nya.
Tidak jauh berbeda dengan Liu Changhai, Liu Yaoshan juga sama kesalnya. Bahkan beberapa hari ini ia selalu uring uringan.
Terkadang emosinya tidak terkontrol dan memaki semua orang yang berada di dekatnya.
***
Hari sudah mulai gelap, namun Ana dan teman temannya masih setia berjalan tanpa lelah.
Yang mengakibatkan mereka terlambat sampai ke tujuan adalah karena para ahli dan pendekar yang ingin menjadi samsak selalu muncul di perjalanan mereka.
"Xixi! Apa yang kau lakukan? Jangan di kepalaku! Kau akan ku bakar jika berada di kepalaku lagi!" Ucap Jiao kesal.
Xixi cemberut dan terbang ke arah Ana.
"Sudahlah, biarkan dia. Kemungkinan kita akan sampai di sana besok pagi. Jadi, malam ini kita beristirahat di sini saja." Ana menatap datar sekeliling nya.
__ADS_1
"Buat tempat tinggal sementara sana! Aku ingin mengambil beberapa tumbuhan racun." Ucap Ana.