
H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
.
Dengan tubuh bergetar dan wajah yang pucat seperti kertas, Tasya mengepalkan tangannya dengan kuat. Kepalanya menunduk untuk menyembunyikan ekspresi nya yang menyeramkan.
Rey mengalihkan pandangan nya dari panggung lelang dan menatap Adik nya dengan cemas. Adik nya ini sangat aneh hari ini. Perlahan Rey mendekati Tasya yang masih dalam posisinya.
Tidak ada yang memperhatikan Tasya yang aneh saat ini kecuali Rey dan Amel. Amel hanya memandang Tasya tanpa ada niat membantu. Ia tahu jika ia membantu, itu akan membuat semua orang khawatir.
"Adik apa kau baik baik saja?" Tanya Rey pelan saat berdiri di samping Tasya.
Mendengar seseorang berbicara padanya, Tasya dengan cepat menormalkan ekspresi nya kemudian mendongak untuk melihat orang yang berbicara padanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak apa apa, aku hanya merasa sedikit sakit perut" jawab Tasya dengan memaksakan senyum manisnya pada sang Kakak.
"Apa kau ingin kembali saja? Aku akan mengantarmu"Rey dengan cemas mengulurkan tangan nya untuk membelai pipi bakpao Tasya.
"Tidak apa sebentar lagi aku akan sembuh, baru saja aku telah meminum obat ketika kalian fokus dengan pelelangan"ucap Tasya menggenggam tangan Rey yang berada di pipinya.
Tasya menggertakkan giginya menahan tekanan yang semakin lama semakin kuat menekannya.
Rey kembali ke tempat duduknya setelah mendengar perkataan Tasya. Walau dia masih merasa cemas dengan keadaaan Adiknya.
Sedangkan Amel yang sedari tadi menonton drama antara adik dan kakak merasa bosan. Kemudian Tasya melirik kearahnya dan memberinya kode. Amel yang mengerti dengan keadaannya pun mendekatinya.
"Apa yang terjadi? Mengapa Guru ah maksudku Tata hanya diam sedari tadi?"Tanya Shaosheng.
"Entahlah, mungkin dia sedang tidak ingin berbicara"jawab Jiao sekenanya yang membuat Shaosheng merasa kesal hingga memukul kepala Jiao pelan.
****
Di ruang dimensi milik Tasya, Amel mendudukkan Tasya pada sofa panjang yang terletak di ruang keluarga.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu? Cepat katakan padaku!"Ucap Amel yang tak lagi menahan rasa cemasnya lagi.
Suara helaan nafas Tasya membuat para Spirit Beast nya mendatangi nya. Tasya memejamkan matanya, tak menjawab perkataan Sahabat nya.
Di ruang dimensi, ia tak lagi merasa tekanan kuat itu. Tapi ini sangat merepotkan untuk nya. Dia terlalu lemah untuk orang orang dari dunia atas. Ia pikir ia sudah cukup kuat tapi bahkan setengah dari kekuatannya yang dulu saja belum kembali pulih.
Ia telah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan kekuatannya yang dulu. Akan tetapi itu sama saja! Ingatan yang ia miliki saja belum pulih sepenuhnya.
Bagaimana wajah orangtuanya dulu, bagaimana wajah Kakak kakaknya dan teman teman nya dulu, semua nya seperti bayangan hitam tanpa warna lain di ingatan nya.
Mengingat semua itu membuatnya merasa pusing sekaligus kesal. Entah dia kesal pada siapa. Sungguh!! dia ingin sekali membuat alat yang bisa melihat masa lalu.
"Queen? Kau tak apa? Minumlah pil ini agar kau merasa baik"ucap Gold membangunkan Tasya dari lamunan nya.
"Hmm"dehem Tasya menelan pil bulat itu dengan mudah.
"Ada apa denganmu?"Tanya Amel sekali lagi.
"Bisakah kita membuat mesin untuk melihat masalalu?"Tanya Tasya memijat pelipisnya.
__ADS_1