
H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
.
.
Tasya dan yang lainnya saat ini sedang berada di ruang makan dan duduk dengan rapi.
"Emmm guru apa kita akan memakan ini saja?"tanya Quon ketika melihat yang di meja makan hanya ada bubur ayam yang dibuat oleh robot maid seperti di zaman modern.
"Ya itu saja, setelah kita selesai pelatihan maka akan aku traktir makan sepuasnya di restoran Ye" ucap Tasya seraya memakan bubur didepan nya.
"Baiklah guru" ucap mereka lalu mulai memakan bubur didepan masing masing dari mereka.
Keesokan harinya~
Mereka semua telah berada di lapangan latihan setelah sarapan pagi bersama.
"Baiklah untuk latihan hari ini akan sama seperti kemarin selama 5 bulan kedepan tapi untuk mengitari lapangan 500 kali aku akan menambahkan kotak setiap harinya dan boneka kayu juga akan bertambah level setiap harinya.
Juga untuk naik turun bukit, akan aku berikan beberapa rintangan yang akan bertambah setiap harinya. Berburu juga harus kalian perhatikan waktunya, waktu kalian berburu akan dikurangi setiap harinya. Apa kalian mengerti?" jelas Tasya panjang lebar.
"Mengerti guru"ucap mereka kompak.
"Baiklah mulai" seru Tasya lalu mereka memulai mengitari 500 kali dan kotaknya ditambah menjadi dua kotak. Mereka awalnya memang kesusahan tetapi seiring berjalannya waktu mereka akan terbiasa pikir Tasya.
'Haiiisss dimana para hewan kontrak ku.. mengapa hanya pergi makan saja selama ini?.. awas saja jika mereka kembali'batin Tasya kesal.
Mereka menyelesaikan mengitari lapangan lebih lama dari sebelumnya. Tetapi itu hanya berbeda beberapa menit dari kemarin.
Satu per satu dari mereka selesai mengitari lapangan lalu menuju tempat Tasya dan tergeletak di rerumputan dekat Tasya dengan nafas yang kurang beraturan.
"Huhh huh.. guru rintangan apa yang akan kau beri saat fyuhhhh.. saat nanti di perjalanan naik turun gurun?" tanya Yihua dengan nafas tak beraturan.
"Mungkin beberapa monster dan ya rintangan rintangan itu akan sulit dilalui jika kalian tidak menggunakan otak"ucap Tasya santai.
"Aku tahu kalian cerdas dan pintar jadi kalian akan mendapat rintangan yang akan bertambah sulit untuk kedepannya" lanjut Tasya dengan sedikit memuji.
"Baik guru" ucap mereka bersemangat, pasalnya orang yang dianggap guru itu sangat jarang memuji dan mungkin hampir tidak pernah.
"Waktu istirahat kalian sudah selesai, jadi lanjutkan latihan kalian aku ada sedikit urusan dan mungkin akan kembali besok. Tetaplah menjalani latihan dengan disiplin, ingatlah aku menyuruh seseorang untuk mengawasi dan menyiapkan untuk beberapa hal dalam latihan kalian"ucap Tasya seraya melemparkan sebotol yang berisi pil penyembuh 10% kemurnian pada salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih guru"
Tasya hanya tersenyum tipis lalu menghilang tanpa jejak dari hadapan mereka. Dan berteleport ke Ibu Kota lebih tepatnya lagi dia menuju tempat pembuatan senjata. Dia memang punya banyak senjata diruang dimensi tetapi tidak bisa digunakan sembarang orang dan hanya bisa digunakan olehnya saja.
Tasya Ke pembuatan senjata dengan berjalan kaki setelah ia mendarat dengan mulus di tempat sepi.
"Ah aku akan membeli beberapa kain untuk jubah khusus yang terpilih dan topeng. Emm kalau topeng lebih baik Yuan saja yang membuat biar lebih aman"monolog Tasya seraya memilih kain dan pandangannya terpaku pada kain berwarna silver itu.
"Nona apakah anda menginginkan kain ini?"tanya pekerja di toko tersebut.
"Ya berapa harganya" ucap Tasya datar.
"Itu adalah kain yang jumlahnya terbatas disini dan kain itu juga sejuk dan lembut saat digunakan jadi harga satu kain kami hargai 20 koin emas" ucapnya menjelaskan.
"Baiklah aku ingin 9 gulung kain ini dan 10 gulung benang emas" ucap Tasya dingin.
"Tapi disini tidak menjual benang emas nona" ucapnya ragu.
"Panggil pemilik toko ini" ucap Tasya dingin.
"Tap.."
"Cepat!!" ucap Tasya dingin yang membuat orang disekitarnya merasa merinding dan tertekan padahal Tasya sama sekali tidak mengeluarkan aura miliknya.
Tak lama kemudian datanglah seorang pria paruhbaya dengan pakaian sepertinya bangsawan. Mungkin orang ini bangsawan tingkat rendah pikir Tasya.
"Ya saya hanya ingin membeli 10 gulung benang emas "ucap Tasya santai namun juga datar dan dingin.
"Ah tapi kami tidak menjualnya tetapi untuk membuat pakaian" ucapnya dengan hati hati.
"Tidak masalah, saya akan membayar 3 kali lipatnya bagaimana" ucap Tasya yang mulai kesal karena diperhatikan banyak orang disana. Untung nya dia selalu memakai cadar walaupun itu saat tidur sekalipun.
"Baiklah jika begitu nona, saya akan menyuruh seseorang untuk membungkus kain dan benang emas untuk nona. Silahkan nona menunggu sebentar" ucapnya dengan pasrah, Ia tahu bahwa nona ini tidak bisa disinggung. Dari ekspresi nya yang mulai kesal itu, pemilik toko langsung menyerah dari pada ia akan menyesal.
Beberapa waktu kemudian seorang wanita membawa bungkusan yang dipesan oleh Tasya dengan menunduk dan menyerahkannya pada pemilik toko.
"Nona" ucap pemilik toko seraya menyodorkan bungkusan itu didepan Tasya dengan sopan.
"Baiklah terimakasih, ini untuk mu" ucap Tasya lalu memberikan 1000 koin emas pada pemilik toko dan pergi begitu saja.
Tasya keluar dari toko tanpa memperdulikan orang orang disekitarnya yang melihat kejadian itu.
Setelah Tasya keluar dari toko, ia langsung melemparkan bungkusan tadi ke ruang dimensinya.
'Buat senjata dimana ya?' batin Tasya seraya menoleh kekanan dan kekiri.
Tasya hanya bisa mengandalkan kemampuan bertanya nya pada seseorang.
__ADS_1
"Hei adik kecil apa kau tau dimana tempat pembuatan senjata?" tanya Tasya pada anak kecil berumur 4 tahun.
'**** napa jadi tanya sama anak balita kek gini sih astaga' batin Tasya.
Dia memang suka anak kecil jadi saat melihat anak kecil didepan nya sendirian, ia langsung menghampiri nya dan malah menanyakan tempat.
"Ah maksudku dimana orang tua mu adik kecil?, mengapa kau sendirian" ucap Tasya lagi.
Anak itu hanya menggeleng kan kepalanya bertanda ia tak tahu. Tapi dilihat dari pakaiannya yang mewah, dia pasti bangsawan tinggi pikir Tasya.
"Memang kau kesini dengan siapa?" tanya Tasya seraya menyamakan tingginya dengan berjongkok.
"Kakak, disana"Ucap anak kecil itu seraya menunjuk kearah wanita paruhbaya di salah satu toko kain lainnya yang menggunakan pakaian sederhana namun terlihat kualitasnya yang lumayan baik.
'Aih disini napa banyak orang nyamar sih, kan jadi bingung' batin Tasya kesal.
"Baiklah ayo kakak antar" ucap Tasya pada anak kecil yang cantik itu.
"Ayo kak" ucap anak itu seraya menarik Tasya lebih tepatnya lagi menyeret Tasya dan berlari menuju wanita paruhbaya itu.
"Hei jangan berlari pelan pelan saja" ucap Tasya lalu menghentikan anak itu dan menggendongnya lalu meloncat keatap menggunakan ilmu peringan tubuh dan menuju toko yang lumayan jauh itu.
"Wahhh kakak bisa telbang" ucapnya dengan suara cadelnya.
"Iya dong nanti kalau sudah besar kamu bisa belajar terbang" ucap Tasya tersenyum manis dibalik cadar nya.
"Oiya kakak namanya siapa?"tanya nya dengan polos.
"Ah kakak ini namanya Tasya. Lalu adik namanya?" ucap Tasya.
"Emm biasanya kakakku memanggilku dengan sebutan Lin"ucapnya dengan polos.
"Baiklah aku akan memanggilmu Lin" ucap Tasya.
"Bukan itu" protes nya.
"Bukan? kalau begitu yang benar apakah Rin?"tanya Tasya dan menebak.
"Iya" ucapnya seraya menganggukkan kepala.
"Baiklah kita sudah sampai, dimana ibumu?" ucap Tasya yang mengira wanita tadi ibunya.
"Ibu sudah meninggal jadi aku dilawat kakak tapi kakak pulangnya tidak seseling dulu. Kakak pulang hanya 3 hali sekali sampai 1 minggu dan aku dilumah sama bibi An" ucapnya seraya tersenyum manis.
"Begitukah? apa kau tidak sedih kakak mu jarang pulang?"tanya Tasya.
"Tidak Lin kan mandili" ucap Rin polos dan bersemangat.
__ADS_1