
H A P P Y R E A D I NG
.
.
.
.
"Kau muncul juga akhirnya"
"Ah rupanya kau hanya berpura pura" ucapnya dengan senyum jahatnya.
"Ada apa kau kemari?" ucap Tasya seraya berjalan menuju sofa dikamarnya.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk menyerah dan memberikan semua kekuatanmu dan kekuatan mereka atau aku akan menghancurkan kalian dan mengambil kekuatan kalian dengan paksa" ucapnya dengan mengeluarkan aura yang sangat kuat.
"Oh? begitukah? kurasa kau tidak hanya untuk mengatakan itu saja?"tanya Tasya sinis.
"Aku hanya ingin mengatakannya" ucapnya dingin.
"Sudahlah aku tahu kau juga ingin memantau kami dan mengawasi perkembangan kami kan? dan mencelakai kami jika kami lengah"ucap Tasya datar.
"Kau!! Aku sudah berbaik hati telah memberimu pilihan tetapi rupanya kau tak menerimanya. Jika begitu aku pergi dulu, Sampai jumpa di peperangan kita 1 tahun mendatang Adikku!!" serunya dengan ekspresi dinginnya.
"HEII AKU BUKAN ADIKMU SIALAAN"teriak Tasya menggelegar, untung saja setiap kamar di mansion ini kedap suara jika tidak maka suara Tasya akan membangunkan semua orang.
Kemudian Tasya memilih untuk tidur dari pada dia harus memikirkan perkataan orang tadi yang sebenarnya adalah Raja kegelapan atau bisa dibilang kakak tirinya. Ia sangat kesal jika Kakak tirinya itu memanggilnya Adik. Tasya sejujurnya sangat malu mempunyai kakak sepertinya itu.
Keesokan harinya~
Tasya dan yang lainnya pagi ini telah berada di lapangan latihan yang letaknya disamping Mansion.
"Baiklah untuk yang pertama kalian semuanya akan mengitari lapangan dengan membawa kotak kayu itu sebanyak 500 kali" ucap Tasya seraya menunjuk kotak kayu di depan masing masing dari mereka.
"Baik" ucap mereka bersemangat.
__ADS_1
"Tetapi tidak boleh menggunakan kultivasi kalian, walaupun kultivasi kalian menurun drastis" ucap Tasya tegas.
"Tapi guru itu mana mungkin kami mengitari lapangan ini 500 kali jika tidak menggunakan kultivasi kami" ucap Yihua protes, Bagaimana tidak protes lapangan ini sangat luas bahkan lebih luas dari stadion sepak bola.
"Kan hanya mengitari belum berlari" ucap Tasya tersenyum miring.
"Benar juga kata guru" ucap mereka kembali bersemangat dan mulai mengangkat kotak kayu kecil didepan mereka namun..
Brukkk
"Ini.. mengapa kotak kecil ini sangat berat?"
"Kotak itu berisi benda yang berat, mungkin beratnya 200 kg" ucap Tasya santai.
"Apa!!" ucap mereka kecuali Amel. Rey heran mengapa adiknya ini bisa menyuruh mereka latihan yang berat, ini bahkan dulu saat ia berlatih dengan gurunya, pelatihannya tidak begitu berat. Namun adiknya memberikan latihan berat untuk pertama kali latihan? bagaimana dengan latihan selanjutnya jika begitu.
"Sudahlah lakukan saja. Anggap saja itu sebagai pemanasan" ucap Tasya dengan santai.
"Baik guru" ucap mereka semua, ya mereka semua sekarang memanggil Tasya dengan sebutan guru tak terkecuali.
Mereka mengangkat kotak itu dengan susah payah dan mulai mengitari lapangan.
Mereka telah kelelahan tetapi bisa dilihat tekad yang kuat di mata mereka. Bahkan mereka baru mengitari lapangan 260 kali.
"Huhh mereka masih sangat lemah itu adalah pelatihan yang paling mudah"gumam Tasya yang sedari tadi mengawasi mereka dari tengah tengah lapangan.
Beberapa Waktu kemudian mereka telah menyelesaikan latihan atau bisa dibilang pemanasan itu lalu
terduduk di rerumputan lapangan dengan nafas yang tidak teratur.
"Ku beri waktu 10 menit untuk beristirahat, setelahnya kita akan berlatih dengan boneka kayu" ucap Tasya seraya bangun dari duduknya dan pergi kedalam mansion untuk mengambil peluit? ya peluit!.
"Terimakasih guru" ucap mereka karena masih untung mereka diberi waktu untuk istirahat.
Beberapa menit kemudian, Tasya keluar dari mansion dengan peluit yang dikalungkan pada lehernya.
"Guru untuk apa peluit itu?"tanya Amel bingung.
__ADS_1
"Biar kayak guru olahraga gitu, kan biasanya guru olahraga kemana mana pake peluit" ucap Tasya seraya memainkan peluitnya.
"Nahloh kau kan bukan guru olahraga buat apa tuh peluit?"tanya Amel lagi. Mereka semua kecuali Tasya dan Amel bingung dengan benda aneh itu dan apa yang di ucapkan Kedua orang itu.
"Haisss dahlah capek, ini tuh buat mengendalikan boneka kayu yang akan melawan kalian nanti. Sebenarnya sih bisa dikendalikan dengan pikiran ataupun tanganku sendiri tapi aku ingin mengendalikannya dengan peluit aja sih" ucap Tasya santai.
"Baiklah terserah mu saja" ucap Amel memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan yang lain hanya mengerti perkataan Tasya dibagian mengendalikan saja.
"Kita mulai" ucap Tasya seraya mengeluarkan boneka kayu level 3. Boneka kayu milik Tasya ini memiliki 12 level.
"Ini adalah latihan pertama jadi kalian hanya akan melawan level tiganya saja" ucap Tasya santai. Padahal boneka kayu level tiga setara dengan hewan spirit beast level 9.
Mereka berfikir hanya satu boneka kayu saja, mereka bisa mengalahkannya dengan mudah.
"Jika aku meniup peluit berarti latihan dimulai" ucap Tasya dengan senyum tipisnya.
"Baik guru" ucap mereka seraya bersiap.
"Baiklah 1..2..3.. Priiittt" aba aba Tasya lalu boneka boneka kayu itu mulai menyerang mereka satu persatu.
Rey yang diserang boneka itu hanya berusaha tetap tenang, ia merasa serangan dari boneka kayu itu cukup kuat. Dia bahkan belum bisa menguasai semua elementnya karena guru nya dulu hanya memiliki satu element yaitu Api. Jadi dia hanya bisa menyerang menggunakan element apinya.
Rey pun membalas serangan boneka itu namun dengan mudahnya boneka itu menghindarinya.
'Jika begini terus maka tenaga ku akan terkuras habis, aku hari menemukan titik kelemahannya' batin Rey yang masih mengawasi setiap gerak gerik boneka itu dan dia kurang fokus hingga..
Brukkk
"Uhuk uhuk" batuk Rey memuntahkan seteguk darah.
"Ahk aku menemukannya" gumam Rey yang telah mengetahui titik kelemahannya lalu berdiri bersiap dengan serangan boneka itu kearah nya.
Duarrr
Ledakan kecil terdengar oleh telinga Tasya dan itu berasal dari tempat Rey bertarung dan mengagetkan Tasya yang khawatir dengan keadaan Kakaknya itu.
Sedangkan yang lainnya, hanya menoleh dan melanjutkan pertarungan. Sejujurnya mereka juga sangat khawatir dengan keadaan Rey namun mereka juga masih melawan boneka itu karena boneka itu telah mulai menggila dan menyerang dengan bertubi tubi.
__ADS_1
Sedangkan di tempat Rey dipenuhi dengan kabut tebal sehingga tidak terlihat bagaimana keadaan Rey disana.