Queen Of Life

Queen Of Life
WolongpulohSongo


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


.


.


.


.


Para tetua lain tidak ada yang berani angkat bicara. Karena cuaca juga semakin buruk dan pasti murid baru dari benua lain juga telah sampai di Sekte Awan.


****


Sekte Awan~


Hening


Hanya terdengar suara hujan yang membasahi seisi bumi dan sesekali petir dan guntur yang saling bersahutan.


Sangat sepi jika dilihat dari luar, dan sangat ramai jika dilihat dari dalam. Tidak ada yang berada diluar kecuali 9 orang bertopeng yang duduk dengan santai di bawah pohon besar.


Mereka saat ini sedang menunggu rombongan yang seharusnya bersama dengan mereka bersembilan.


Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah portal. Untuk yang pertama keluar dari portal adalah para Tetua yang diikuti murid baru dari sekte Awan.


"Mengapa tidak dari tadi saja kita pergi?!!"Kesal seorang gadis dengan perhiasan se-toko.

__ADS_1


Namun saat mereka menatap ke bangunan yang ada dihadapan mereka, semua tercengang kecuali para Tetua yang sedang saling berargumen tentang murid yang mereka perebutkan saat di tempat seleksi.


Mata mereka berbinar ketika bangunan yang sangat indah dan elegan. Ada beberapa bangunan lagi yang tak kalah besar dan mewah nya dengan bangunan utama.


"Woww ini bahkan berlipat lipat lebih besar dari Istana Kekaisaran ku"ucap salah satunya dengan kagum.


"Ya! Aku akan benar benar nyaman tinggal di sini"


"Sangat indah"


"Cepatlah sedikit! Aku ingin masuk dan melihat yang ada didalam nya!"


"Ah aku sangat senang mendapat kesempatan untuk belajar di Sekte Awan ini"


Semua terkagum kagum dengan bangunan di Sekte Awan itu. Hanya 1 orang yang merasa kesal karena tidak ada yang memperhatikan dirinya. Mungkin dia telah lupa, Sekte Awan adalah tempat dimana berkumpul nya orang kuat di seluruh dunia bawah ini.


"Hei bukankah itu mereka?"Tanya salah satu Tetua menunjuk kearah Tasya dan teman teman nya.


Tetua pertama, atau tetua yang memiliki posisi lebih tinggi dari yang lain menghela nafas lega kemudian berteriak, "Kalian!!.."


Ke sembilan orang itu menoleh dengan kompak.


"Eh mareka sudah sampai"ucap Quon.


Tasya berdiri dan berjalan ke hadapan para Tetua dengan santai dan diikuti teman teman nya. Saat sampai didepan para Tetua, mereka membungkuk dengan sopan.


"Dari mana saja kalian! Kami menunggu kalian di tempat itu! Kalian mengapa bisa berada disini?"Tanya Tetua pertama.

__ADS_1


Jiao menjawab dengan santai, "Kami hanya ingin pergi terlebih dahulu karena sudah tidak sabar"


'Sungguh omong kosong!!' Batin teman teman nya yang lain memutar bola mata malas.


Benar memang, mereka ingin secepat nya ke Sekte Awan. Akan tetapi itu hanya untuk meraih tujuan mereka. Bahasa kasarnya adalah "Sekte Awan sebagai batu loncatan"


Jahat? Egois? Mereka tak peduli itu, toh mereka juga pasti akan memberi SEDIKIT keuntungan untuk sekte Awan nantinya.


Yihua menggeleng pasrah lalu berkata, "Bisakah kita masuk? Kau tahu? Di sini sangat dingin"


"Ah hampir lupa"


Mereka melangkah masuk ke dalam Sekte Awan. Para murid baru merasa marah saat Tasya dan teman teman nya berada disana. Namun semua perasaan marah dan kesal itu mereka tahan.


Mereka berhenti ketika sampai di ruangan yang sangat luas, seluas samudra, canda:'v


Ribuan orang berada disana dengan ekspresi gembiranya. Tasya dan teman teman nya berada di barisan paling belakang untuk mencari ketenangan dan menghindari perhatian orang orang.


"Aku yakin kita akan mendapat hukuman karena kita adalah penyebab terlambat nya tim benua tengah"Ucap Jingmi pelan.


Shaosheng menyeringai, "Itupun jika mereka berani"


Quon yang berada di tengah tengah Jingmi dan Shaosheng mengernyit, "Mengapa tidak berani? Mereka adalah orang orang terkuat di dunia bawah ini".


Shaosheng terkekeh pelan seraya melipat tangan di depan dada kemudian tersenyum aneh, "Coba tebak mengapa mereka memperlakukan kita seperti berlian yang sangat berharga"


"Jangan bermain main! Aku sedang tidak ingin berpikir saat ini"ucap Quon kesal.

__ADS_1


Jingmi menggeleng pelan. Ia baru tahu kemana jalan pembicaraan mereka saat ini. Dengan malas ia berkata, "Itu karena mereka tidak tahu di level mana kultivasi kita dan pasti mereka tahu tentang bakat kita walaupun kita telah menutupi nya. Bukankah orang yang lebih lama hidup nya dari kita adalah orang yang lebih berpengalaman menilai seseorang?"


Quon mengangguk paham dan menggumamkan kata 'oh'. Ia cemberut mendengar kalimat terakhir Jingmi. Hei apanya yang lebih berpengalaman? Mereka hanya orang orang tua yang bodoh! Pikir nya.


__ADS_2