Queen Of Life

Queen Of Life
SatusPitu


__ADS_3

[HAPPY READING]


.


.


Kecurigaannya pada Amelia meningkat beberapa persen.


Namun tidak peduli seberapa curiganya dia, dia tidak bisa menanyakannya secara langsung. Jika Amelia benar-benar berasal dari zaman yang sama, maka itu bagus.


Tetapi jika Amelia bukan dari zaman modern, maka dirinya akan dianggap sebagai orang gila.


....


Di sebuah toko penjual sayuran, seorang pemuda dengan pakaian lusuh berjalan tertatih-tatih menghampiri Kakek penjual.


Wajahnya tertutup lumpur dan seluruh tubuhnya mengeluarkan aroma yang membuat orang merasa tidak nyaman.


Ketika Kakek penjual melihat pemuda itu menghampirinya, dia tidak bisa untuk tidak mengerutkan keningnya.


"Apakah kau butuh sesuatu?" Tanya Kakek penjual tersenyum. Dia telah banyak melihat orang-orang seperti pemuda ini yang meminta beberapa sayuran.


Pemuda itu menggeleng, "Aku.. aku hanya ingin bertanya."


Kakek penjual tersenyum tipis. "Tanyakan!"


"Umm.. adikku menghilang sejak empat hari yang lalu. Saat itu dia marah padaku karena tidak mendapat makanan untuknya. Dan dia bersikeras untuk pergi mencari makanan sendiri. Namun sampai saat ini, dia tidak kembali padaku. Apakah Kakek melihat gadis kecil yang memakai pakaian biru? Dia juga memilki bekas luka panjang di wajahnya."


Kakek penjual menatap pemuda yang menyedihkan di depannya. Dia tidak berharap, pemuda ini menanyakan tentang adiknya, bahkan dia tidak peduli dengan perutnya yang tengah berbunyi.


"Maaf mengecewakanmu, aku tidak tahu dimana adikmu,"


"Tapi aku bisa memberimu makanan. Kau mau?" Kakek penjual melanjutkan.

__ADS_1


Pemuda itu tampak berpikir, lalu dia berkata, "Tidak! Aku tidak lapar!!"


Dia menggeleng keras dan mencengkeram perutnya.


"Jika Kakek penjual melihat adikku, tolong beritahu aku. Terimakasih!"


Dengan langkah kaki yang tidak beraturan, pemuda itu berjalan menuju tempat lain seraya terus memegang perutnya.


Kakek penjual hanya bisa menghela napas berat. Anak yang begitu muda ini, demi adiknya, dia tidak peduli dengan hidupnya sendiri. Dia menebak bahwa anak muda itu bahkan belum memakan apapun setelah adiknya menghilang.


Melihat punggung pemuda itu yang semakin jauh, dia terpaksa mengalihkan pandangannya pada suara keributan di depan toko roti.


Di sana, ada seorang gadis berusia sekitar 16-17 tahun yang duduk di tanah dengan memeluk sebuah roti. Beberapa orang telah mengerumuninya.


"Kau adalah seorang gadis kecil! Bagaimana bisa kau mencuri rotiku? Apakah orangtuamu tidak mengajarimu hal-hal baik?" Seorang wanita paruhbaya menatap rendah gadis itu.


"Kembalikan rotiku! Atau aku akan memukulmu!! Beraninya kau mencuri? Pencuri kecil, cepat kembalikan rotiku!!" Wanita paruhbaya itu berteriak.


Tidak mendengar jawaban dari gadis pencuri, wanita paruhbaya mencoba meraih roti yang di peluk. Tapi gadis pencuri menghindar. Seolah dia telah memeluk harta yang sangat berharga.


Melihat tangannya yang menggantung di udara, wanita paruhbaya mendengus marah dan memukul wajah gadis pencuri.


Dan saat itulah Kakek penjual melihat wajah gadis itu yang dari awal telah menunduk.


Kakek penjual dengan cepat menghampiri gadis itu dan menatapnya lebih dekat. Benar saja, gadis itu memiliki luka panjang di wajahnya dan hanfu berwarna biru pudar. Dia adalah gadis yang dicari oleh pemuda tadi.


"Nyonya Wu, biarkan aku membayar roti itu. Aku mengenal gadis ini." Kakek penjual merogoh sakunya dan menyerahkan koin logam pada Nyonya Wu.


"Aku akan membiarkannya karena kau telah membayar dan mengenalnya! Jika aku melihatnya lagi, aku tidak akan melepaskan gadis pencuri ini!! Hmph!"


Nyonya Wu berbalik dan masuk ke toko lagi. Sedangkan orang-orang di sekitar telah kembali ke aktivitas yang tertunda.


"Gadis kecil, kau baik-baik saja?" Kakek penjual membantu gadis itu berdiri.

__ADS_1


Namun gadis itu hanya menunduk dan berterimakasih.


Di atap suatu rumah yang berada di dekat keributan, berdirilah 4 orang yang sedang menonton pertunjukan dari awal hingga akhir.


"Apakah kita benar-benar bisa mempercayainya?" Tanya pemuda tampan yang adalah Rey.


Amalia mengangguk. "Yah kita memang baru mengenal dia, tapi aku yakin dia pasti bisa di percaya."


"Baiklah, itu bagus!"


Amalia mengalihkan pandangannya dan menatap Quon yang dengan sedih berbaring di atas atap.


"Dan kau Quon! Cepat bersihkan dirimu!! Menjijikan!"


Quon memandang Amelia dengan sedih. Ya, dia adalah pemuda yang menemui Kakek penjual dengan penyamaran sebagai pengemis.


Dia terpaksa melakukannya! Lihat tubuhnya yang kotor dan bau! Ah! Wajah tampannya telah hilang. Dia sangat sedih.


Memang topeng wajah yang digunakan Quon adalah wajah yang jelek. Dia ingin cepat-cepat melepasnya jika teman-temannya tidak menghentikan.


"Lihat! Chen Xinyi berhasil dan Kakek penjual membawanya pulang!! Hahah.. tugas kita akan segera terselesaikan." Shaosheng tertawa puas melihat gadis yang bersama Kakek penjual.


Benar, gadis itu adalah Chen Xinyi yang juga tengah menyamar. Mereka tahu, keberadaan buronan yang mereka cari memiliki hubungan dengan Kakek penjual.


Mereka membiarkan Chen Xinyi untuk mendekati si Kakek dan mencari tahu tentang hubungan si Kakek penjual dengan buronan itu. Dan cari tahu dimana buronan yang merepotkan itu!


"Akting yang sangat bagus! Jika dia pergi ke zaman modern, pasti dia akan menjadi aktor teratas." Amelia tertawa kecil.


"Apakah kau memuji aktingku?" Tanya Quon bersemangat dan menatap Amalia dengan wajah anak anjing.


"Cih! Menjijikan!!" Amelia dengan acuh mengabaikan Quon.


Percayalah! Dengan topeng wajah yang jelek seperti itu, Quon memang terlihat sangat menjijikan.

__ADS_1


__ADS_2