
H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Tasya dan Amel keluar dari ruang dimensi dengan Sky yang selalu mengoceh karena perihal tekanan yang Tasya alami.
Mereka keluar dari ruang dimensi dan muncul di gang yang sangat sepi dan gelap. Gang itu hanya disinari oleh bulan yang terang malam ini.
"Ini dimana?"Tanya Amel mengedarkan pandangan nya ke sekeliling nya.
Pandangan nya terpaku pada dua sosok yang berada di ujung gang gelap itu. Salah satu sosoknya telah diikat dan terduduk di tanah dengan sebuah kotak yang berada di pelukan nya. Dan sosok lainnya berdiri dengan aura membunuh di sekitar tubuhnya.
Kedua tangan Amel meraih kepala Tasya yang sedang berbicara dengan Sky. Ia membawa kepala itu untuk melihat kearah matanya memandang.
"Ada ap--?"Tanya Tasya terpotong ketika ia melihat kearah yang di tunjukkan oleh Amel.
Matanya menyipit untuk melihat lebih jelas. Aura dari sosok itu sangat familiar. Kemudian ia dengan kesal menghela nafas. Dia menepuk dahi nya pelan dan menatap Amel dengan tatapan penuh arti.
"Haahh.. kukira ada apa ternyata hanya orang yang berebut mainan"ucap Amel ikut menghela nafas.
Kedua sosok itu adalah seorang Nona Muda dan Tuan Muda yang berebut ginseng seribu tahun di pelelangan hari ini. Apa pentingnya ginseng kecil itu? Pikir Tasya dan Amel.
Tapi ada suatu hal yang membuat Tasya tertarik. Dia berjalan anggun ketempat dua orang yang sedang perang mulut di ujung dan meninggalkan Amel yang menatap malas.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mu membawa barang milik ku!"Ucap Gadis yang terikat itu melotot.
"Biarkan aku memilikinya dan kau bisa bebas dari ku"ucap nya dengan ekspresi buruk.
__ADS_1
"Jika aku mati sekalipun, aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki nya"ucap gadis itu menggeram marah.
Ginseng yang ia bawa adalah obat untuk Ayah nya yang sedang sekarat dirumah, tapi setelah ia mendapatkan ginseng itu malah ingin direbut oleh orang di depan nya.
Ayah nya adalah seorang pejabat kekaisaran yang di percayai oleh sang Kaisar. Untuk mendapatkan ginseng ini, ia mengeluarkan tenaga yang sangat banyak.
Tidak mungkin baginya untuk menyerahkan ginseng itu pada orang lain walau nyawa taruhan nya, karena dia telah mencari nya lebih dari 2 bulan.
"Kau!!"Seru pria itu melayangkan tinju nya ke wajah gadis di depan nya.
Namun sebelum mengenai wajah gadis itu, seseorang menahannya dan menggenggam pergelangan tangan pria itu dengan sangat kuat.
"Siapa--"
"Berani merampok dan memukul seorang gadis? Betapa buruknya itu"ucap Tasya tak melepaskan genggaman tangan nya.
Tasya mengeluarkan sedikit aura nya untuk menakuti pria didepan nya. Pria itu membatu saat merasakan aura yang sangat ia kenal dan ia rindukan.
Pria itu menatap Tasya dengan pandangan menyelidik. Tasya menaikkan sebelah alis nya bingung. Orang di depan nya ini kenapa hanya menatapnya dan tidak terpengaruh oleh aura yang ia keluarkan?
Dirinya akan membunuh semua orang yang akan menghalangi nya. Tapi apa ini? Dia berusaha menjelaskan masalahnya pada orang yang berusaha menghalangi nya? Apalagi hatinya yang menuntunnya untuk bersikap baik pada gadis yang menghalanginya ini.
"Hah.. kau ini bisakah tidak berbuat kasar?"
"Dan kau, apakah ginseng kecil itu lebih berharga dari nyawamu? Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian "ucap Tasya bersandar pada tembok.
"Kau bilang ginseng kecil? Ini adalah satu satunya yang bisa menyelamatkan Ayah ku dari mautnya! Aku akan mempertaruhkan nyawa ku karena dengan ini aku bisa menyelamat kan Ayah ku!!"
Tasya berjalan mendekat kearah gadis itu. Dia berjongkok dan mulai melepaskan tali yang mengikat gadis itu.
"Kau dengar? Apa kau masih ingin memiliki ginseng itu?"Tanya Tasya pada pria yang diam.
"Aku.."
__ADS_1
"Kau boleh pergi, biarkan aku yang mengurus pria ini"perintah Tasya yang di angguki oleh gadis itu.
Beberapa saat setelah kepergian gadis itu, Tasya dan pria itu kembali bertatapan.
'Sikap ini, wajah yang acuh ini, caranya menatap, gerak gerik nya, dan aura nya seperti dia. Perasaan dingin yang berada disekitar membuat ku merasa tidak nyaman. Tapi apakah gadis ini benar benar dia?' Batin Pria itu terdiam.
'Mengapa aku merasa aku mengenal nya? Dan aura nya yang SEDIKIT mirip dengan Shan Shan yang bersikap lembut? Apakah dia ada hubungan nya dengan Shan Shan? Sungguh membingungkan' Batin Tasya.
Ekspresi pria itu berbinar saat memikirkan gadis didepan nya. Senyum lembut terbit di bibir nya. Dia sama seperti seorang anak kucing yang sedang bertemu induk nya setelah sekian lama.
Tangan Tasya terulur untuk mengusap kepala pria itu. Kristal bening meluncur dari mata indah milik pria itu ketika merasakan usapan yang sangat ia rindukan.
Tasya tersenyum hangat seraya mengusap pipi pria itu yang di banjiri air mata.
"Mengapa menangis? Apa aku menyeramkan?"Tanya Tasya menarik tangan nya kembali.
"Tidak. Aku hanya.."Ucapnya mejeda.
'Benar benar dia! Aku mengenalinya! Gadis ini adalah dia! Tapi mengapa dia tak mengenali ku? Padahal wajah ku masih tetap sama seperti dulu. Apakah dia hilang ingatan atau dia memang tidak ingat' Batinnya.
"Aku Zhuting.. Kau?" ucap Zhuting tersenyum lebar.
"Oh aku emm.. aku.."ucap Tasya bingung.
Tidak mungkin kan? jika dia memberi tahu namanya yang pasti akan dianggap aneh oleh orang disini. Ia dengan cepat memutar otak nya dan memutuskan untuk..
"Ah.. panggil saja aku Ana"ucap nya.
Zhuting tersenyum dan mengangguk. Ia tahu nama Tasya bahkan nama lengkap nya ia tahu.
"Baiklah aku--"
"Hei!! sudah selesai berbicara? Kita telah ditunggu oleh mereka"ucap Amel memotong yang mengacu pada teman teman nya.
__ADS_1
"Merepotkan"gumam Tasya.