
H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
.
Rey yang menatap interaksi antara Adik Perempuan nya dan Pria yang ia anggap nya Bajin*an itu dengan tatapan tajam. Sungguh cari mati!
****
Seorang gadis meringkuk di bawah selimut tebal nya. Cuaca pagi ini sangat mendukung untuk seseorang berdiam diri di kamar seraya menonton film.
Langit yang mendung dan terkadang kilat muncul secara tiba tiba. Cuaca yang buruk untuk mengawali pagi baik mereka. Membuat orang malas dan ingin selalu menempel dengan tempat tidur.
Kringggg
Suara alarm kecil di sebuah meja kecil sebelah tempat tidur Tasya. Jam menunjukkan pukul 7 pagi.
Tasya mengerjapkan matanya pelan seraya meraba meja kecil itu untuk mematikan alarm. Ia terduduk dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Tak lama kemudian ia turun dari tempat tidur dan melangkahkan kaki nya ke jendela kamar.
"Hoaamm.. Aku pikir hari ini akan menjadi hari yang cerah, tapi malah kebalikannya"ucap nya kemudian membersihkan diri dan memakai jubah hitam dan topeng seperti biasa.
Dia berjalan dengan aura yang mengagumkan. Entah mengapa aura yang menekannya kemarin telah menghilang. Tapi ia masih tetap berjaga jaga memakai gelang berwarna putih gradasi hitam yang dapat menyerap aura hingga ia tak akan merasa tertekan.
__ADS_1
"Sudah siap? Barang kalian tidak ada yang tertinggal kan? Jika ada silahkan di ambil"ucap Tasya ketika sampai di tempat mereka berkumpul.
"Tidak"Jawab mereka serempak.
"Ingin makan?"Tanya Tasya lagi.
"Tidak perlu"
"Tidak lapar"
Jawab mereka yang membuat Tasya mengangguk. Ia melemparkan beberapa pil makanan untuk mereka dan meminta mereka untuk memakannya.
Sembilan orang keluar dari penginapan dengan tatapan santai walau ada yang berekspresi datar. Tepat di depan pintu, mereka antre untuk keluar.
Banyak orang yang keluar masuk ke sana untuk berteduh maupun untuk menghangatkan diri dan memakan sup di rumah penginapan lantai satu yang artinya rumah makan.
Kegunaan nya sama seperti payung namun yang bisa melihat nya hanya orang tertentu. Dihadapan orang lain, mereka berjalan di tengah hujan tanpa terkena air sedikit pun.
Dengan santai mereka berjalan di tengah hujan dengan berbincang ringan. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan kagum.
"Aku tidak sabar ingin sampai disana. Bukankah lebih baik kita langsung ke Sekte Awan saja? Ratusan orang berkumpul di suatu tempat dan ke Sekte dengan satu portal.."
".. pasti berdesakan apalagi sedang hujan. Sangat menyebalkan" ucap Sheng cemberut.
Teman teman nya juga sepemikiran dengannya. Tasya tersenyum mendengar hal itu. Yah begitulah mereka, tak menyukai hal yang merepotkan. Tasya mengajak mereka untuk ke tempat sepi.
"Ingin teleport atau portal?"Tanya Tasya pada teman teman nya.
__ADS_1
"Sebaiknya portal, dengan teleport bisa saja kita ketempat lain selain Sekte Awan... Ntar nyasar baru tau rasa "ucap Amel.
"Baiklah"Tasya melambaikan tangannya dan muncullah portal yang berwarna putih sesuai keinginan nya.
Mereka masuk ke dalam portal dan muncul di depan Sekte Awan. Setelah portal itu menghilang, mereka berjalan menuju tempat duduk yang bersebelahan dengan pohon besar.
****
Ratusan orang berkumpul di suatu tempat yang sangat luas dan basah terkena air hujan. Semua orang menggunakan payung yang menghalangi air hujan.
Tampaknya ratusan orang itu tengah menunggu orang untuk secepatnya ke Sekte Awan. Suasana ramai menyamarkan suara derasnya air hujan.
Para tetua yang ada disana menjadi gelisah karena takut orang orang itu tidak datang. Murid baru memprotes dengan keras karena tidak segera berangkat dan hujan semakin deras.
"Apakah kita menunggu seseorang yang belum hadir? Bukankah itu hanya murid biasa? Jika tidak mereka tidak datang maka tinggalkan saja!! Untuk apa menunggu orang yang tidak dapat menghargai waktu"
"Dalam hidupku, baru kali ini aku diperlakukan seperti ini! Ini adalah penghinaan!! Aku adalah Pangeran ke-3!!"Ucap Pangeran ke-3 dari Kekaisaran Liu.
"Ingat! di Sekte Awan tidak ada yang memandang status! Walau kau seorang Kaisar pun, kau tak akan diperlakukan dengan sangat hormat oleh para Tetua Sekte Awan"ucap gadis yang berjarak dua meter dengan nya.
"Orang orang sampah itu sangat tak tahu malu!! Membuatku, sang Tuan Muda menunggu!"
"Putri ini sangat marah! Jangan sampai aku melihat mereka, jika tidak cambuk api ku akan melahap mereka!!"
Suara riuh membuat para Tetua semakin pusing. Disisi lain mereka tidak ingin kehilangan para jenius itu dan disisi lain mereka juga sangat pusing dengan ocehan murid baru. Apalagi hujan semakin lebat.
Dengan cepat seorang Tetua dengan status lebih tinggi dari yang lain mengumumkan untuk pergi dan membuat portal besar di sisinya.
__ADS_1
Para tetua lain tidak ada yang berani angkat bicara. Karena cuaca juga semakin buruk dan pasti murid baru dari benua lain juga telah sampai di Sekte Awan.