Queen Of Life

Queen Of Life
Suwidaklimo


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


.


.


.


.


Tasya dan Amel mendadak diam, entah mengapa mereka lansung kicep saat Rey angkat bicara. Sungguh sebuah prestasi untuk Rey karena bisa menghentikan perdebatan antar sahabat itu dengan sangat mudahnya.


Satu persatu dari mereka mulai keluar dari portal dan langsung menuju ke tempat Tasya berada. Itu sangat mengejutkan untuk orang orang disana. Namun mereka dengan sangat santai melangkah meninggalkan tempat seleksi setelah mereka semua lengkap.


Yah mereka akan kembali ke tempat seleksi setelah 1 minggu. Mereka tidak ingin membuang waktu hanya untuk menunggu peserta lainnya. Terlihat para Tetua berebutan untuk membawa salah satu dari mereka menjadi murid pribadi.


Lain hal nya dengan kehebohan di tempat seleksi, 9 orang yang menjadi pusat kehebohan malah bersantai di salah satu hutan yang memiliki padang rumput lumayan luas. Disana juga terlihat banyak sekali bunga, diantaranya adalah bunga mawar dari merah hingga hitam. Sangat indah!.


"Guru, bagaimana dengan mansion kita yang berada di hutan Roh?"tanya Jiao.


Jiao teringat dengan mansion yang ia tinggali 1 bulan itu. Mansion itu sangat nyaman hingga dia enggan melepas mansion itu.


"Biarkan Spirit Beast ku yang memasukkan nya ke dalam ruang dimensi ku"ucap Tasya seraya memetik bunga mawar berwarna biru.


"Hmmm baiklah tapi apakah 1 minggu ini kita akan berlatih lagi?"tanya Jiao lagi.


"Ya tapi jangan terlalu memaksakan diri"jawab Tasya yang kini tangannya telah penuh dengan bunga mawar biru yang ia petik.

__ADS_1


Tasya sangat suka dengan warna biru apalagi bunga mawar yang berwarna biru. Dulu saat di zaman modern, taman yang ada di mansion nya dipenuhi dengan mawar biru yang ia pesan dari luar negeri. Sungguh dia sangat terobsesi dengan mawar biru ini.


Di ruang dimensi nya juga dipenuhi bunga mawar biru. Pernah sekali Blue memetik nya untuk sekedar mencium bau nya karena warna keduanya yang sama. Saat Tasya tahu salah satu bunga nya dipetik, Tasya dengan marah menghukum Blue untuk memakan pare sekarung. Uhhh betapa pahitnya itu!.


Mereka sangat santai sore hari ini karena besok mereka akan mulai berlatih lagi.


"Aku jadi ingin membuat parfum dari bunga ini"gumam Tasya mencium bau bunga mawar di tangan nya.


"Adik, kau sangat suka bunga itu?"tanya Rey yang sedari tadi memperhatikan Tasya.


"Ya Kau benar, dari dulu Nanta memang menyukai bunga itu"sahut Amel.


"Kalau begitu nanti saat pulang, Kakak akan menanam banyak bunga mawar biru di kediaman" ucap Rey tersenyum tipis.


"Emm"gumam Tasya mengangguk ragu.


Entah mengapa ia merasa jika dia tidak akan kembali ke kediaman Ayah mereka. Walau kembali pun, pasti itu hanya sebentar.


"Baiklah lalu kami harus memanggil mu apa?"tanya Jingmi.


"Tasya"ucap Tasya singkat.


"Emm bagaimana dengan Tata"ucap Shilin dengan nada datar.


Semua mengalihkan pandangannya dan menatap Shilin dengan wajah cengo.


"Apa?"tanya Shilin menaikkan sebelah alis nya.

__ADS_1


"Ah tidak, tidak ada"ucap Amel tersenyum kikuk.


"Baiklah kami akan memanggil mu Tata"ucap Yihua.


"Ya Tata"ucap Quon semangat.


"Mengapa aku merasa jika panggilan itu seperti panggilan anak kecil?"gumam nya.


"Ah terserah kalian saja lah"ucap Tasya mengangkat bahu nya acuh.


'Haah Ella memanggil ku Nanta dan mereka memanggil ku Tata, nama ku mengapa kau selalu dipotong?' batin Tasya merasa lucu.


Hari sudah mulai gelap, mereka bergegas kembali namun saat mereka akan berteleport, muncul sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan menggenggam pedang yang dapat dipastikan jika pedang itu sangat tajam.


"Biar aku saja"ucap Sheng mengeluarkan pedang nya.


Yah cukup 1 orang dari mereka ber sembilan saja untuk mengalahkan pembunuh bayaran itu. Dengan santai Shaosheng maju untuk menghadapi pembunuh bayaran itu dan yang lainnya menonton dari belakang.


"Hahahah.. apa kalian takut? Hanya berlindung dari Pemuda yang lemah ini?"ucap Ketua nya.


"Heh kalian bukanlah lawan ku, hanya butuh satu serangan dari ku maka kalian akan habis"ucap Sheng tersenyum miring.


"Hahahah.. jangan bercanda! kalian hanyalah orang orang lemah dan entah apa yang kalian lakukan hingga bisa melewati 3 tahap seleksi dengan mudah"ucap salah satunya mengejek.


"Lihat bagaimana cara orang yang kalian anggap lemah menghabisi kalian"ucap Sheng.


Dengan cepat Sheng mengangkat pedang nya dan menebas kearah para pembunuh bayaran itu. Beberapa detik kemudian kepala dari sekelompok pembunuh bayaran itu jatuh ke tanah dengan banyak sekali darah yang keluar.

__ADS_1


Habis sudah para pembunuh bayaran itu. Tasya dan yang lainnya hanya bersandar pada pohon dengan santai seraya melipat tangan didepan dada.


"Kau terlalu lembut dengan mereka"ucap Tasya saat Sheng sampai di depan mereka.


__ADS_2