
H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
.
.
"Ya Ayah terimakasih" ucap Tasya seraya tersenyum manis di balik cadar nya.
"Baiklah kapan kalian akan berangkat?" tanya Jenderal Bao.
"Sekarang" ucap Tasya singkat.
"Jadi Kak Rey bereskan barang barang mu sekarang" ucap Tasya pada Rey yang masih diam.
"Baiklah" ucap Rey lalu pergi ke paviliun miliknya untuk membereskan barang barang nya.
Mereka yang ada di aula berbincang bincang sembari menunggu Rey. Jenderal Bao juga menunda rapat keluarga.
"Kak Shen kenapa kau tidak segera menikah? lihat lah umur mu itu" ucap Tasya menggoda. Pasalnya Kakaknya itu sudah berumur 23 Tahun dan sudah seharusnya menikah tetapi kakak nya ini masih belum memiliki kekasih.
"Hei Kakak ini masih muda tau" ucap Shen dengan kesal.
"Ayah bahkan menikah saat berumur 15 tahun" ucap Jenderal Bao.
"Ah apa ingin aku carikan istri hm?" goda Tasya seraya menaik turunkan alisnya.
"Tasya berhenti menggoda ku" ucap Shen yang bertambah kesal.
"Tapi ya kalau kakak sudah ada calon istri harus meminta persetujuan ku dulu jika kakak memilih asal dan tanpa persetujuanku maka itu artinya kakak sudah tidak menghormati atau sayang lagi sama Tasya" ucap Tasya serius.
"Iya Kakak janji deh" ucap Shen bersungguh sungguh.
"Aku juga berjanji" sahut Rey yang entah datangnya dari mana.
"Ehh memang Kak Rey janji apa?"tanya Tasya polos seraya memiringkan kepalanya bingung yang terlihat lucu dan menggemaskan.
'Ah aku ingin mencubit pipinya" ujar mereka dalam hati kecuali Tasya Ok.
"Kak Rey ikutan janji dengan Tasya bicarakan tadi?"tanya Tasya lagi.
"Iya" jawab Rey tegas.
"Baiklah apa kau sudah selesai berkemas?"tanya Tasya.
__ADS_1
"Sudah"
"Yaudah ayo berangkat" ucap Tasya dan menghampiri Ayahnya.
"Ayah Tasya dan Kak Rey berangkat dulu ya"ucap Tasya lalu mencium pipi kanan Ayah dan dilanjutkan dengan mencium pipi Shen.
"Berhati hati lah" ucap mereka yang ada di aula kecuali Tasya Kakaknya dan teman temannya.
Tasya menteleportkan mereka ber 9 ke perbatasan hutan Kabut. Hutan kabut letaknya bersebelahan dengan hutan Roh. Hutan Kabut memiliki 6 lapisan yang di huni banyak hewan Roh level tinggi.
"Mengapa kita kemari?"tanya Jiao.
"Kita akan berlatih didalam hutan Kabut ini" ucap Tasya santai.
"Telanlah pil ini agar tidak terkena racun dari kabut disini" ucap Tasya seraya memberikan pil kepada mereka semua.
Mereka menelan pil itu tanpa ragu dan mereka tidak merasakan kekuatan spiritual nya. Mereka merasakan Kultivasi mereka turun menjadi level 2 tingkat 5.
"Ini.. Kultivasi ku selama ini" ucap Rey terkejut, pasalnya kultivasinya sudah mencapai level 9 tingkat 2 dan sekarang menurun drastis. Gurunya juga sudah berpetualang lagi meninggalkan Rey dan mencari seseorang.
"Aku juga.. Kultivasi ku" ucap mereka terkejut.
"Tasya/Guru" ucap mereka bersamaan dan melihat Tasya sedang duduk santai di bawah pohon.
"Hmm? apa? kalian masuklah kedalam hutan lapisan ke tiga. Kutunggu disana, aku akan berada di mansion lapisan ketiga. Daahhh" ucap Tasya lalu menghilang begitu saja.
'Ini pasti ulah Tasya' batin Amel kesal.
"Kerjasama" ucap Amel.
"Ya kita harus bekerja sama"Jingmi menyahuti.
"Ya" ucapnya Rey datar.
"Huhh yang satu sudah berubah tidak dingin lagi tapi tetap datar ehh malah nambah satu yang sama" ucap Jiao menghela nafas kasar.
"Sudahlah ayo cepat masuk, nanti kita akan menanyakan bagaimana bisa kultivasi kita menurun pada Guru" ucap Yihua.
Mereka pun mulai memasuki hutan Kabut dengan sangat waspada. Benar saja mereka di hadang oleh Ular yang ukurannya mencapai sepuluh meter.
"ular ini level 8"ucap Jiao.
Ular itu mulai menyerang mereka dan mereka hanya bisa menghindari serangan ular itu.
Mereka yang hanya menghindari serangan serangan ular itu pun membuat Ular itu geram dan mengeluarkan serangan utamanya. Yang membuat mereka ber 8 terpental dan memuntahkan seteguk darah.
Serangan utama adalah dimana hewan itu mengeluarkan seluruh kekuatan mereka untuk menyerang. Akibatnya hewan itu akan menjadi sangat lemah setelah menggunakan serangan utama. Kekuatan mereka akan memulih beberapa jam hingga bertahun tahun.
"ugh.. Kalian berdirilah cepat. Kita harus membunuhnya sebelum kekuatannya pulih" ucap Shilin seraya berdiri.
__ADS_1
Mereka mulai menyerang ular itu dengan bertubi tubi menggunakan senjata yang mereka bawa.
Pada akhirnya Ular itu mati dan terlihatlah batu kristal berwarna hitam di atas ular itu terbaring mati.
"Huh huhh ambil batu spirit itu" ucap Rey tersenggal senggal.
Jingmi pun mengambilnya dan ia masukkan di cincin ruang nya. Tasya memberikan cincin ruang pada mereka semua tak terkecuali, untuk menyimpan barang dan agar tidak merepotkan.
Mereka ber 8 melanjutkan perjalanan dengan sesekali di serang oleh hewan spirit beast tingkat menengah hingga tinggi. Bahkan ada yang telah pingsan kelelahan ataupun terluka.
Sedangkan Tasya berada di mansion lapisan ketiga dengan santai seraya memakan keripik kentang.
"Queen apa mereka akan selamat?" tanya Felix.
"Mereka tidak akan mati konyol disana tenang saja" ucap Tasya santai.
"Queen apa kau tidak keterlaluan?" ucap Gold.
"Sudahlah mereka tidak akan mati sebelum peperangan terjadi" ucap Tasya tersenyum tipis.
"Dasar keras kepala" ucap keenamnya lalu pergi ke ruang dimensi.
Tasya hanya acuh tak acuh dengan ucapan keenamnya. Tak lama kemudian Tasya masuk ke kamarnya dengan santai dan sesekali bersenandung ria.
Mansion itu diambil Tasya dari ruang dimensi dan memindahkannya di hutan Kabut.
Tasya duduk di jendela dan melihat keluar jendela seraya melamun, entah apa yang dilamunkan nya.
Seorang pemuda bertopeng yang menutupi setengah wajah nya dan berjubah ungu muncul dibelakang Tasya.
"Apa yang kau lamunkan hm?" tanya pemuda itu. Tasya akan berbalik melihat orang yang datang tak diundang itu tetapi entah mengapa ia tak bisa bergerak sedikit pun.
"Aku bukan orang jahat jadi tenang saja, aku hanya ingin memelukmu" ucapnya lalu memeluk Tasya dari belakang.
"Hei siapa kau beraninya kau memelukku" ucap Tasya geram dan akan mengeluarkan kekuatannya tapi tetap saja tak bisa.
"Percuma saja kau berusaha itu tak akan berhasil, diamlah dulu aku merindukanmu" ucap pemuda itu dan menghirup aroma yang menenangkan lalu menyelusupkan kepalanya ke ceruk leher Tasya.
"Kau!.. lepaskan aku"teriak Tasya yang geli dengan nafas pemuda itu di lehernya.
"Diamlah, nikmati saja pelukanku atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini" ucap pemuda itu seraya menciumi leher jenjang Tasya. Tasya yang mendengar itu langsung merapatkan bibirnya erat erat agar tidak bersuara.
Pemuda itu yang melihat Tasya diam pun melanjutkan aksinya, ia banyak meninggalkan tanda kepemilikan di leher Tasya.
Setelah beberapa lama kemudian pemuda itu melepaskan pelukannya pada Tasya yang masih diam membisu. Entah apa yang dia pikirkan, tapi ia merasa sangat nyaman dan familiar saat dipeluk oleh Pemuda itu.
"Kita akan bertemu lagi" ucapnya seraya tersenyum manis dan mengecup dahi Tasya lalu menghilang bersamaan Tasya yang sudah bisa bergerak.
"Sial pria itu, awas saja jika kita bertemu lagi aku akan memberinya pelajaran" ucap Tasya kesal lalu berjalan kearah kaca dan melihat lehernya yang banyak tanda kemerahan.
__ADS_1
"AWAS SAJA KAU PRIA SIALAAN!!" teriak Tasya keras.
Disisi lain seorang berjubah ungu yang berada di atas pohon melihat Tasya marah pun hanya tersenyum tipis.