
"Alan malas sekali ini sekolah. Di luar negeri disuruh sekolah, di sini juga. Menyebalkan," gumam Alan yang menuruni tangga rumahnya untuk menuju ke ruang makan.
"Napa tuh bibirnya cemberut kaya gitu? Minta dicium sama nenek nih pasti," ucap Mama Anisa yang melihat cucunya cemberut.
"Ish... Malas sekali dicium sama nenek. Yang ada nanti lipstiknya nempel semua pada muka Alan. Nanti waktu sekolah dikira habis dicium sama ikan ******," ucap Alan yang langsung berlari menuju bundanya.
Nadia hanya terkekeh geli mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Sedangkan Mama Anisa sudah menggerutu tak karuan karena cucunya tak mau dicium olehnya itu. Alan segera duduk berdampingan dengan Abel yang sibuk bersama bukunya.
"Jangan belajar terus, kak. Sesekali ngobrol dan main, biar otaknya nggak disuruh bekerja terus." ucap Alan yang kemudian mengambil paksa buku yang ada di tangan Abel.
Abel sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu. Apalagi ia sedang fokus belajar untuk ujian tengah semester. Semalam ia memang sudah belajar, namun ia kembali mengulang materinya pagi ini.
"Hari ini kakak ada ujian, dek. Siniin bukunya... Kakak takut lupa," ucap Abel meminta bukunya kembali.
"Ujian ya tinggal dihadapi dan dikerjakan. Nggak usah terlalu keras dalam belajar, kak. Salah menjawab soal ujian juga bukan akhir dari segalanya," ucap Alan yang terkesan santai.
"Bunda, papa, nenek, kakek, dan kami juga tidak memaksakan Kak Bel untuk jadi yang utama di luaran sana. Yang terpenting adalah kesehatan kakak," lanjutnya saat melihat Abel yang ingin protes.
Abel hanya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Alan. Memang keluarganya sama sekali tak menuntut dia lulus dengan prestasi cumlaude atau apapun itu. Yang terpenting bagi keluarganya, Abel sehat dan nyaman dengan kegiatan kuliahnya.
"Pagi-pagi dah ceramah aja, dek." sindir Arnold yang baru saja datang.
"Iya, Alan lagi memberi siraman rohani sama orang-orang yang sok sibuk belajar. Kaya Alan ini lho, ingin belajar ya sudah tinggal dilakukan. Nggak ingin belajar, ya nggak usah. Hidup jangan dibikin susah. Lulus dengan nilai terbaik juga nggak menjamin besok cepat dapat kerja langsung jadi CEO," ucap Alan.
Mereka yang mendengar apa yang diucapkan oleh Alan ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Kadang pikiran Alan dengan yang lainnya sangat berbeda membuat mereka tak habis pikir. Akhirnya mereka hanya mengiyakan saja daripada Alan tambah lama dalam berbicara.
"Ayo semua langsung makan," ajak Papa Reza pada semuanya yang sudah berkumpul.
__ADS_1
"Sarapan yok... Memperjuangkan masa depan juga butuh tenaga," ucap Alan berceloteh sendiri.
Mereka yang ada di sana memilih diam. Mereka makan dengan tenang hingga semua selesai. Alan berangkat sekolah menggunakan sepeda listrik milik Mama Anisa dengan style helm full face milik Arnold. Baju seragam yang dikeluarkan tak membuatnya seperti seorang badboy.
"Alan, sekolah baru itu ya bajunya yang rapi dong. Atasannya dimasukkan dulu itu," tegur Nadia.
"Cama caja. Seragam nggak penting, bunda. Yang penting otaknya dibawa," ucap Alan dengan santainya.
"Kamu yakin pakai sepedanya nenek yang ini? Nggak pakai punya nenek yang satunya saja?" tanya Mama Anisa yang menatap aneh pada cucunya itu.
"Iya. Yakin dong, pakai sepeda mana pun juga santai saja asal warnanya bukan yang pink," ucap Alan.
"Tapi..."
"Udah ya, nek. Alan pamit duluan semua. Takut terlambat," serunya sambil melambaikan tangannya.
***
"Itu bukannya Cia? Bebeb Cia sekolah di sini?" gumam Alan bertanya karena melihat sosok gadis cantik yang mirip dengan sahabat kecilnya.
Sudah beberapa minggu dia tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Ia juga tak menghubungi mereka lagi terutama Cia. Kalau memang Cia berada di sini, Alan tentunya akan sangat senang.
Alan turun dari sepeda listriknya setelah memarikirkannnya di tempat parkir. Sepeda listrik itu begitu mencolok di antara semua yang ada. Pasalnya warna pink mentereng yang berbeda dengan lainnya. Sepertinya Alan juga tak menyadari kalau ia telah menggunakan sepeda listrik berwarna pink.
"Cia..." seru Alan sambil melambaikan tangannya kearah seorang perempuan yang kini mengalihkan pandangannya.
"Alan..." seru seorang gadis yang memang benar Cia.
__ADS_1
Cia langsung saja berlari mendekati Alan kemudian menatap sahabatnya dari atas ke bawah. Ia melihat perbedaan Alan yang kini jauh lebih putih dan gembul pipinya dari terakhir kali mereka bertemu.
"Alan, kamu balik ke sini kapan? Yang lain pada nyariin kamu lho," tanya Cia.
"Baru beberapa hari yang lalu, Cia. Sekarang Alan pindah ke sekolah ini. Cia juga sekolahnya di sini ya?" tanya Alan dengan santai.
"Iya, Cia sekolah di sini baru dua minggu. Ayo aku antar ke ruang kepala sekolah," ajak Cia yang langsung menarik tangan Alan.
"Cia, jangan tarik-tarik tangan Alan kayak narik ulur hati aku dong." ucap Alan.
Cia melirik sinis kearah Alan yang tak berubah sama sekali kalau sudah berurusan dengan kalimat puitisnya. Menurutnya, Alan ini merupakan bibit-bibit playboy di masa depan. Beberapa siswa yang ada di sana melihat kearah Alan dan Cia yang tampak akrab. Mereka tak mengenal siapa itu siswa yang berada di samping Cia.
"Alan, yang sukanya tarik ulur perasaan itu kan kamu. Habis didekatin terus ditinggalin. Sakitnya tuh nggak berdarah lho," ucap Cia yang ikut alur drama Alan.
"Wah... Padahal Alan ninggalinnya cuma sebentar ke pasar aja. Sudah rindu ya kamu?" tanya Alan sambil menaikturunkan alisnya.
"Nggak nyambung, Alan." seru Cia yang kesal dengan ucapan sahabatnya yang semakin aneh.
Tak berapa lama, Alan dan Cia sampai di ruang kepala sekolah. Alan harus melakukan pendaftaran ulang dengan mengisi beberapa formulir. Sedangkan Cia memilih langsung pergi ke kelasnya karena malas menunggu Alan yang cukup lama.
"Ini statusnya diisi apa, pak? Statusnya saya single alias jomblo tapi kok nggak ada pilihannya," ucap Alan sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Yang nanya statusmu itu juga siapa. Itu kan status ibu dan bapakmu," ucap kepala sekolah itu yang sepertinya mulai frustasi mendapatkan siswa seperti Alan.
"Oh... Kalau status ibu sama bapak saya ya pasti menikah atau kawin dong. Lha ya nggak mungkin ada Alan kalau nggak menikah. Aneh ini mah pertanyaannya," ucap Alan sambil geleng-geleng kepala dan menyalahkan lembaran formulir itu.
Kepala sekolah itu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Baru juga beberapa menit menghadapi Alan namun pertanyaannya sungguh menyebalkan. Lagian semua siswa di sini tak pernah sampai ada yang menanyakan hal seperti ini padanya.
__ADS_1