
"Hali ini nenek dan akek ulang ke lumah tan, unda?" tanya Alan dengan raut wajah penasarannya.
"Iya. Ini sedang dijemput sama papa," jawab Nadia sambil tersenyum.
Bahkan Nadia langsung menarik tubuh Alan masuk dalam pangkuannya. Alan ingin memberontak, namun elusan lembut dari sang bunda itu membuatnya tenang. Alan rindu dengan sentuhan dan elusan lembut ini. Bahkan tanpa Nadia sadari, mata Alan sudah berkaca-kaca.
"Anak bunda yang paling kecil tapi pemberani ini. Semoga jadi anak yang baik, nurut, omongannya lembut dan sopan, juga jadi laki-laki yang sholeh." ucap Nadia yang terus mengucapkan do'a baik-baik kepada anak bungsunya yang aktif itu.
"Alan cudah choleh, unda." ucap Alan yang seakan tak terima dengan ucapan bundanya.
"Maksud bunda, tambah sholeh kelak. Harus rajin ngaji dan sholat, juga wajib menghormati orangtua." ucap Nadia.
Alan menganggukkan kepalanya seakan menyetujui apa yang diucapkan oleh bundanya. Walaupun dalam hatinya seakan memberontak karena kurangnya kasih sayang. Apalagi dulu waktu kecil, ia sama sekali tak mendapatkan kasih sayang bundanya yang tengah koma.
"Unda, cayang ndak cama Alan ini?" tanya Alan yang masih berada dalam pelukan bundanya.
"Sayang dong. Masa iya sama anaknya sendiri nggak sayang sih," ucap Nadia dengan yakin.
Nadia diam-diam tersenyum mendengar pertanyaan dari Alan yang ditujukan kepadanya. Ia berharap dengan kondisi dan situasi seperti ini, Alan mau bercerita juga terbuka terhadapnya. Tentu ini hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Nadia. Ia ingin Alan ini bisa mengungkapkan permasalahan atau yang mengganjal dalam hatinya.
"Talo cayang cama Alan, napa watu tecil atu ndak minum ACI?" tanya Alan dengan tatapan penasarannya.
Deg...
Mendengar ucapan dari Alan itu, sontak saja membuat Nadia shock. Waktu itu Alan memang tidak minum ASI karena kondisi Nadia yang koma. Bahkan setelah koma pun, ASI Nadia sama sekali tak keluar. Sehingga setiap kali mau Nadia menyusui Alan, pasti selalu diatasi dengan tetesan susu formula.
"Eh... Alan tahu ASI darimana?" tanya Nadia berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya.
__ADS_1
"Tuh... Di cekolahna abang Anol," ucap Alan.
Nadia kini paham dengan apa yang dialami anaknya. Ia pasti terdoktrin dengan ucapan ibu-ibu itu. Mungkin ibu itu tahu tentang riwayat keluarga Farda yang Nadia koma selama hampir satu tahunan. Sehingga saat bertemu Alan, ibu itu menanyakannya.
"Maksudnya Alan tahu dari sekolahnya abang Alan itu dari guru atau siapa?" tanya Nadia yang semakin penasaran.
"Butan. Ibu-ibu temanna abang Anol. Meleta ilang talo Alan atan dadi nanak akal kalna ndak minum ACI dali ibuna. Alan ndak ada yang cayang," jawab Alan.
Nadia menghela nafasnya kasar. Ia tak menyangka kalau ada ibu-ibu yang tahu tentang seluk beluk keluarganya. Apalagi saat dirinya yang koma dan tak bisa memberikan ASI. Walaupun begitu, Nadia sangat menyayangi Alan sebagaimana anaknya yang lain. Apalagi ini darah dagingnya sendiri.
Kini ia tahu mengapa Alan sekarang menjadi pribadi yang sangat aktif dan terkesan nakal. Sepertinya Alan yang bermulut pedas itu untuk melindungi diri dari orang-orang yang ingin mempengaruhi pikirannya. Sepertinya otak Alan sudah terdoktrin dengan ucapan ibu-ibu bermulut pedas itu. Apalagi sampai bilang tak ada yang menyayangi dirinya.
"Enak aja bilang gitu sama anak bunda. Siapa ibu-ibu itu, sini biar lawan bunda. Bunda itu sangat sayang sama Alan. Bahkan bunda rela kalau harus mengorbankan nyawa hanya demi Alan," ucap Nadia dengan tegas.
Mendengar hal itu, Alan langsung menegakkan tubuhnya. Ia menatap Nadia yang tersenyum lembut kepadanya. Alan pun langsung memeluk Nadia dengan erat. Alan sedikit tak percaya kalau selama ini dia salah paham dengan kasih sayang bundanya.
Alan tak menjawab apapun, hanya anggukan kepala saja untuk mewakili jawaban dari pertanyaan itu. Alan sedikit menghela nafasnya lega karena ternyata apa yang diucapkan oleh ibu-ibu itu tak benar adanya. Ternyata sang bunda dan papanya menyayangi dirinya juga.
Apalagi mendengar kemarahan Nadia yang seakan membela dirinya. Alan juga merutuki kebodohannya sendiri karena percaya dengan ucapan ibu-ibu itu. Seharusnya ia menanyakan langsung pada keluarganya, bukan malah mempercayai orang yang tak bisa dipercaya.
"Jadi den Alan sekarang sudah tobat kan ya ngomong pedasnya? Nggak lagi mau jadi badboy dan rajin sekolah," ucap Ridho berceletuk.
"Woh... Alan atan tobat ndak nomong pedas agi, tapi hali ini caja. Talo ada yang danggu Alan dan kelualga atu, atan tetap atu balas." ucap Alan dengan berapi-api.
Ridho yang mendengar hal itu hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sepertinya omongan Alan yang pedas itu takkan pernah menghilang dari bocah cilik itu. Tinggal orang-orang di sekitarnya saja yang mengarahkan kearah sesuatu yang baik.
***
__ADS_1
"Nenek... Akek... Wel al yu?" seru Alan dari pintu rumahnya.
Setelah sampai di rumah, ternyata mobil sang papa sudah terparkir apik di halaman. Alan langsung saja turun dari mobil kemudian memasuki rumahnya. Alan benar-benar rindu dengan nenek dan kakeknya, apalagi hari ini semua akan berkumpul kembali.
"Bahasa apa itu, Alan? Kenapa kacau begitu?" ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.
"Bahaca tayak yang tita di lual negli temalin," jawab Alan santai.
Alan dan Nadia langsung saja menuju ruang keluarga. Ternyata di sana sudah ada Andre, Mbok Imah, Mama Anisa, dan Papa Reza. Alan langsung berlari kearah sang nenek yang duduk di kursi sofa.
"Lual biaca... Nenek cudah ndak patek kulci loda? Padahal nenak lho patek kulci loda, ndak ucah dalan. Tindal didolong..." ucap Alan setelah mengamati sekitarnya karena tidak ada kursi roda lagi.
"Memangnya kamu mau dorong nenek kalau masih duduk di kursi roda?" tanya Mama Anisa.
"Ndak duga. Alan tan cuma baca-baci caja," jawab Alan.
Mama Anisa sungguh gemas dengan tingkah cucunya itu. Mama Anisa langsung menarik tangan Alan untuk duduk dipangkuannya. Mama Anisa dan Papa Reza langsung menciumi pipi Alan bertubi-tubi.
"Ini Anara dan Abel kemana?" tanya Nadia yang tak melihat kedua anak perempuannya.
"Kami di sini, bunda." seru Anara dan Abel bersamaan dari arah belakang Nadia.
Nadia langsung mengalihkan pandangannya dan melihat Anara juga Abel tengah berjalan kearah ruang keluarga sambil bergandengan tangan. Tadi mereka sedang bermain bersama di halaman samping. Keduanya dipanggil Ridho agar segera masuk rumah karena nenek dan kakeknya sudah datang.
"Ugh... Anak-anak gadis bunda, sini." ajak Nadia dengan memberi kode melalui tangannya.
"Wah... Ni kulang abang Anol. Paman Lidho..." teriaknya yang langsung memanggil sopir keluarganya dengan kencang.
__ADS_1