
Hari pertama Alan masuk sekolah barunya. Seperti biasa, penampilannya berbeda dengan siswa unggulan lainnya. Penampilan urakan dengan seragam yang dikeluarkan, bahkan sepatunya berwarna. Padahal hari senin itu wajib menggunakan sepatu berwarna hitam.
"Alan, itu seragamnya dimasukin. Ganti juga itu sepatunya jadi warna hitam. Ini hari senin, harus rapi." tegur Nenek Hulim yang melihat Alan keluar dari kamarnya.
"Alan nggak punya cat buat bikin sepatunya jadi warna hitam, nek." ucap Alan dengan santainya.
"Astaga... Bukan itu maksud nenek. Kamu itu ganti sepatunya yang warnanya hitam, bukan malah mau dicat." ucap Nenek Hulim yang geram.
"Alan nggak suka, nek. Ini sajalah daripada nanti terlambat," ucap Alan yang langsung melenggang ke ruang makan.
Nenek Hulim hanya bisa mengelus dadanya sabar karena melihat tingkah Alan ini. Bahkan semua ucapannya dengan mudah ia patahkan. Nenek Hulim pun berjalan menyusul Alan yang sudah memasuki ruang makan. Di sana ada Nadia dan Fikri juga yang telah duduk.
"Nadia, memangnya Alan kalau pakai seragam nggak pernah rapi gitu ya?" tanya Nenek Hulim pada Nadia.
"Iya, nek. Susah ngubahnya. Mau sampai mulut ngomong sampai berbusa pun takkan membuatnya menurut," ucap Nadia.
"Ngomongin Alan terus. Nasib jadi orang ganteng ya gini, digosipin sama emak-emak." ucap Alan dengan sedikit menyindir bunda dan neneknya itu.
"Ganteng kaya pantat panci gitu aja sombong," ucap Nenek Hulim.
"Ganteng kaya pantat panci gini aja banyak fans yang antri tandatangan dan foto sama Alan lho," ucap Alan dengan percaya dirinya.
Nenek Hulim yang ingin menyahuti ucapan Alan pun langsung dipegang tangannya oleh Nadia. Ia tak ingin kalau pagi ini sudah diawali dengan perdebatan diantara keduanya. Nenek Hulim menghembuskan nafasnya pasrah kemudian segera memulai sarapan pagi ini.
***
"Alan, ingat pesan bunda. Sekolah yang benar. Buktikan kalau kamu bisa sukses tanpa papa dan keluarga kita yang lain. Bunda hanya bisa mendo'akanmu dan bekerja keras agar masa depanmu terjamin," ucap Nadia memberi pesan kepada anaknya itu.
__ADS_1
"Bunda nggak perlu kerja terlalu keras. Alan nggak mau bunda sakit. Bunda cukup lihat saja dan duduk manis. Alan akan berusaha meraih cita-cita Alan dan membuktikan pada dunia bahwa aku adalah seorang anak yang genius," ucap Alan dengan tekad yang kuat.
Saat ini Nadia tengah mengantar Alan untuk kembali ke sekolah. Nadia bahagia karena anaknya kini dapat kembali bersekolah lagi. Walaupun sekolah ini merupakan pilihan dan paksaan dari Nenek Hulim.
"Bunda akan sangat bangga dan bahagia jika Alan sukses dengan caranya sendiri. Tapi ingat, suksesnya bukan karena menjatuhkan oranglain." ucap Nadia membuat Alan menganggukkan kepalanya.
"Paman Frank, jangan lupa nanti pulang sekolah ya. Ku tunggu janjimu," ucap Alan pada Frank yang mengemudikan mobil.
Frank menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan Nadia bingung dengan kode yang disampaikan oleh keduanya itu. Namun Alan sudah keburu keluar dari mobil setelah kendaraan itu berhenti. Mau bertanya pada Frank pun dia agak sedikit kikuk.
***
"Hello... My name is Alan. Do you know Alan? Alan is cowok paling tampan se-Indonesia. Kalian semua biasa saja karena di sini wajah Alan yang tampan sekali. Bahkan yang paling eksotis," ucap Alan dengan percaya dirinya memperkenalkan diri pada teman-teman bulenya.
Tentu saja mereka tak paham dengan bahasa yang digunakan oleh Alan itu. Mayoritas siswa di sana memang dari negara itu sendiri. Bahkan kulit semua siswa juga putih, berbeda dengan Alan yang sedikit gelap.
Akhirnya semua siswa di sana malah memilih duduk di tempatnya masing-masing. Apalagi melihat penampilan Alan yang tidak rapi itu tentu membuat penilaian mereka juga berbeda. Alan melihat penampilannya sendiri yang sama sekali tak aneh menurutnya.
"Alan masih tetap tampan kok. Kenapa mereka lihatinnya kaya gitu amat ya?" gumamnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa aku bertingkah kaya pemuda cool atau ketua geng yang cuek gitu ya? Biar orang-orang di sini pada berkesan dan mau berteman dengan Alan," lanjutnya mencoba memikirkan beberapa rencana.
Tanpa peduli dengan tatapan aneh semua orang kepadanya, Alan duduk di kursinya. Ternyata di sampingnya itu ada seorang siswa yang sedang membaca buku. Bahkan semua siswa yang ada di sana juga memilih membaca buku yang ada di mejanya.
"Nggak asyik. Nggak ada yang ajak bolos gitu? Masa iya semuanya pegang buku," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Tak berapa lama, guru memasuki kelas. Tak ada perkenalan khusus siswa baru seperti saat dirinya berada di negaranya. Bahkan guru menjelaskan dengan bahasa Inggris yang membuat Alan sedikit pusing. Bahkan modulnya saja menggunakan Bahasa Inggris.
__ADS_1
(Percakapan menggunakan Bahasa Indonesia)
"Silahkan kerjakan semua soal yang ada di tablet kalian dalam waktu 10 menit," titah guru itu.
Semua siswa yang ada di sana langsung mengambil sebuah ponsel berlayar besar di atas meja. Alan mengikuti mereka kemudian mengerjakannya asal. Sungguh aneh sekali sekolah ini, pikir Alan.
"Hei... Sudah 10 menit. Letakkan tabletmu," titah guru itu menunjuk Alan.
Brakkk....
Alan yang terkejut dengan seseorang yang menunjuknya pun langsung melempar tablet itu ke atas meja. Guru itu sampai melotot tak percaya karena melihat layar tablet itu sedikit retak. Apalagi Alan tadi melemparnya dengan keras.
"Kan bisa sih ngomongnya pelan-pelan, bu. Bukan salah Alan dong kalau tabletnya jatuh karena dikagetin," ucap Alan sambil mengelus dadanya sabar.
"Huh... Saya maafkan karena kau sepertinya siswa baru. Kalau sampai kejadian ini terulang lagi, kamu harus mengganti 15 juta tablet ini." ucap guru itu.
"Astaga... 15 juta mah bisa buat beli nasi padang setiap hari dalam setahun. Lagian apaan sih ngerjakan soal pake tablet, kapsul, atau apa ini. Bikin orang susah saja," gerutu Alan pelan.
Semua hasilnya sudah diperiksa oleh guru itu. Ternyata Alan mengerjakan semua soal dengan benar. Walaupun tabletnya retak, namun jawabannya sudah masuk dalam sistem.
"Siapa di sini yang namanya Alan? Kenapa bisa mengerjakan soal ini dengan jawaban yang benar semua?" tanya guru itu membuat Alan sedikit aneh dengan pertanyaannya.
"Seharusnya guru itu senang kalau siswanya jawab benar semua. Masa ini dipertanyakan sih," ucap Alan yang kesal dengan gurunya.
Namun tak ayal Alan mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Guru itu menatap Alan sambil menganggukkan kepalanya. Namun guru itu tak memberinya selamat atau tersenyum, hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Semuanya aneh. Alan nggak betah..." seru Alan tiba-tiba membuat semua orang yang ada di kelas itu melihat kearahnya.
__ADS_1