
"Tidak, ini semua memang kesalahan dia. Nggak usah kalian dekat-dekat dengan dia. Bisa bikin sial hidup kalian," seru Andre yang baru saja datang bersama sang papa.
Mendengar seruan itu sontak saja membuat semuanya mengalihkan pandangannya. Apalagi Alan yang masih berlutut di depan keempat perempuan yang sangat ia sayangi itu. Alan menatap papanya dengan sorot mata kebencian yang mendalam.
Andre yang melihat tatapan Alan itu langsung melengoskan wajahnya. Ia tak mau melihat anaknya yang justru sekarang membenci dirinya. Egonya masih tinggi walaupun sudah dinasihati papanya, bahkan ditampar oleh Papa Reza. Terlihat kalau pipi Andre memerah akibat bekas tamparan papanya itu.
"Andre, apa-apaan kamu? Dia itu anak kandungmu. Kamu itu yang pembawa sial," teriak Mama Anisa yang tak terima cucunya dikatai seperti itu.
"Iya, mas. Kamu itu yang sebenarnya bawa sial dalam keluarga kita. Bukannya kita duduk bicara baik-baik malah main fisik dan mengatai orang seenaknya. Emangnya kamu tahu duduk permasalahannya itu apa? Punya otak buat mikir, jangan cuma jadi pajangan." sentak Nadia menatap Andre dengan kesal.
Andre meraup wajahnya kasar. Inginnya dia memberi pelajaran kepada anaknya agar tak lagi pecicilan atau membahayakan yang lainnya. Namun malah semua berbalik mendukung Alan dan menyalahkan dirinya. Andre memilih mendekat pada Alan kemudian menarik kerah seragam anaknya.
"Andre..." seru Nadia, Papa Reza, dan Mama Anisa.
"Diam..." sentak Andre dengan mata berkilat tajam.
Papa Reza meminta Anara dan Abel untuk sedikit menjauh. Biar itu menjadi urusannya, ia juga sudah memberi kode pada ketiga teman Alan agar berjaga di sekitarnya. Tak mau kalah dari papanya, Alan juga menatap Andre dengan tatapan tajamnya.
"Jangan pikir kau sudah menang karena membuat istri dan orangtuaku membelamu. Saya takkan pernah lupa kalau kau sudah membuat anakku terluka hingga kritis begini," ucap Andre dengan penuh penekanan.
"Saya cuma mau mengingatkan, saya ini juga termasuk anak anda. Semoga anda tidak melupakan itu," ucap Alan dengan nada formalnya.
__ADS_1
"Saya tidak akan melupakan fakta itu. Tapi entah setelah ini, saya seperti tak merasa mempunyai anak pecicilan dan suka berbuat onar seperti kamu." ucap Andre dengan ucapan sadisnya.
Alan menganggukkan kepalanya sambil terkekeh pelan. Sepertinya memang kehadirannya di dunia ini sama sekali tak diinginkan oleh papanya. Sejak kecil, ia hanya dekat dengan nenek, kakek, juga ketiga saudaranya. Ia tak pernah merasakan kehadiran sosok orangtua seperti Andre.
Nadia yang melihat tatapan anaknya seperti ini pun sudah bercucuran air mata. Ia tak menyangka kalau luka hati Alan yang ditimbulkan oleh ucapan Andre akan sebesar ini. Ia tak menyangka kalau Andre bisa membeda-bedakan kasih sayangnya pada keempat anaknya.
"Baiklah, kalau begitu jangan anggap saya anakmu lagi. Saya juga tak sudi menjadi anakmu. Bahkan sedari kecil, anda juga tak pernah kan memberikan kasih sayang pada saya. Walaupun saya tak ingat, saya bisa merasakannya. Terimakasih kakek, nenek, Kak Nara, dan Kak Bel atas kasih sayangnya selama ini." ucap Alan yang langsung menatap orang-orang yang selama ini ada di sisinya.
"Dan terimakasih juga untuk Bunda Nadia. Berkat bunda, Alan bisa merasakan kasih sayang juga kepedihan dalam hidup ini. Sampaikan rasa sayangku pada Abang Arnold saat dia membuka mata nantinya. Oh ya... Terimakasih Tuan Andre sudah memberi tumpangan kepada saya di rumah anda itu sekaligus membiayai sekolah juga makan saya. Suatu saat nanti saya akan menggantinya," lanjutnya seperti orang berpamitan.
Alan langsung menyentak tangan Andre yang memegang erat kerah seragamnya. Alan membawa tasnya kemudian berjalan pergi meninggalkan keluarganya. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Alan ucapkan untuk sebuah kalimat perpisahan.
"Alan, mau kemana kamu? Bunda ikut," seru Nadia yang langsung ditahan oleh Andre.
"Itu anak aku. Jangan pernah kau pisahkan aku dengannya," sentak Nadia yang memberontak dalam pelukan Andre.
"Biarkan dia pergi. Toh dia bakalan balik lagi. Mau kemana dia? Nggak punya apa-apa tapi sok-sokan mau pergi," ucap Andre tak punya hati.
"Kamu tidak tahu tentang Alan. Dia bisa nekat dan punya cara sendiri untuk bertahan hidup," sentak Nadia.
Papa Reza, Cia, dan ketiga teman Alan langsung berlari mengikuti bocah laki-laki itu. Mereka sedikit tak sadar akibat ucapan perpisahan itu hingga malah berdiri mematung. Mereka harus cepat menemukan Alan agar tak terjadi sesuatu dengannya.
__ADS_1
"Papa jahat. Alan itu adik kami. Kami takkan pernah bisa hidup terpisah. Kita belum dengar penjelasan Alan juga teman-temanya. Kalau Arnold sadar, pasti dia akan benci sama papa. Papa tahu sendiri kalau Arnold itu sangat menyayangi Alan," seru Anara.
"Jangan berani meninggikan suaramu di depan papa, Anara." ucap Andre penuh penekanan.
Plakkk...
Tamparan langsung dilayangkan oleh Mama Anisa kepada Andre. Ia tak menyangka kalau anaknya malah membuat keluarga ini menjadi terpecah belah. Seharusnya dalam kondisi seperti ini itu saling menguatkan dan do'a bersama. Bukan malah saling menyalahkan dan pergi sendiri-sendiri.
"Kau membiarkan anakmu yang masih di bawah umur pergi begitu saja? Dia anak kandungmu juga. Jangan jadi orangtua yang bodoh kau, Ndre." sentak Mama Anisa.
"Kalau memang Nadia mau mengejar Alan, itu sudah benar apa yang dilakukannya. Mana ada seorang ibu yang mau anaknya jauh darinya?" lanjutnya dengan sorot mata kekecewaan yang sangar kentara.
Andre hanya bisa menghela nafasnya lelah. Ia mengusap pipinya yang begitu perih karena tamparan mamanya tak main-main. Abel dan Anara saling memeluk untuk menguatkan hati mereka. Keduanya melihat secara langsung bagaimana kehancuran keluarganya karena kesalahpahaman ini.
"Kejar, bodoh..." sentak wanita paruh baya itu pada Andre.
"Tapi Arnold..."
"Kau tak lihat kalau ada kami yang juga keluarganya? Kau pikir kami tak menyayangi Arnold hingga tega meninggalkannya di saat kondisi kritis seperti ini?" kesal Mama Anisa dengan pikiran anaknya itu.
Andre pun segera pergi dari depan ruang IGD untuk ikut mencari keberadaan Alan. Walaupun Andre sebenarnya belum sadar dengan kesalahannya. Ia hanya mengikuti perintah dari sang mama saja. Arnold akan dipindahkan ke ruang ICU sekitar setengah jam lagi karena ada administrasi yang baru akan diurus oleh Mama Anisa.
__ADS_1
"Kamu yang sabar, nak. Kita pasti bisa melewati ujian ini bersama-sama. Biarkan papa mengurus Alan, kita yang jaga Arnold di sini ya. Papa takkan membiarkan Alan pergi dari keluarga kita," pesan Mama Anisa yang melihat Nadia dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Mama Anisa segera saja pergi dari hadapan Nadia, Anara, dan Abel ke ruang administrasi. Anara dan Abel langsung memeluk Nadia dengan eratnya. Mereka takut kalau Alan sampai pergi berarti Nadia akan lebih mengikuti adiknya itu. Apalagi Alan merupakan anak kandung Nadia sendiri.