Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Kabar


__ADS_3

Kabar mengenai Alan yang kondisinya sudah membaik itu sampai juga di telinga Andre. Ia bersyukur, setidaknya Arnold bisa lolos dari maut. Walaupun nanti saat sadarnya Arnold itu ia tak berada di sisinya.


"Makasih, Bay. Sudah memberikan informasi penting ini. Lalu bagaimana kabar dari Nadia dan Alan? Apa mereka sudah ditemukan?" tanya Andre.


Hari ini Bayu menjenguk Andre alias atasannya itu di penjara. Bayu juga yang memberi kabar tentang Arnold yang kondisinya sudah mulai stabil. Andre senang karena satu masalah perlahan selesai. Walaupun ia harus berada di dalam sini, namun ia yakin kalau para pelaku akan dapat hadiah setimpal.


"Belum, pak. Justru ada yang sedikit saya khawatirkan. Data kependudukan Bu Nadia dan Alan hilang dari negara ini. Kemungkinan ada seseorang yang sengaja menghilangkannya," ucap Bayu dengan sedikit berbisik.


"Bagaimana bisa?" seru Andre dengan sedikit terkejut.


Bayu hanya bisa mengedikkan bahunya pertanda tak tahu. Ia memang tak tahu menahu mengenai hal ini. Apalagi orang berkuasa darimana yang berani melakukan perbuatan itu. Bayu juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya akibat Andre yang masuk penjara ini.


"Nenek Hulim..." seru Andre tiba-tiba.


"Aku yakin ini perbuatan Nenek Hulim. Hanya dia yang orangnya nekat dan paling berkuasa kalau membantu seseorang. Apalagi Nenek Hulim dekat sama Alan, pasti yang menyembunyikan istri dan anakku itu juga beliau. Tapi aku sedikit lega jika mereka bersama Nenek Hulim. Berarti keduanya aman," lanjutnya penuh keyakinan.


Bayu hanya sedikit mendengar tentang sosok Nenek Hulim yang selalu membantu keluarga Andre. Bayu sedikit tak menyangka jika memang wanita tua itu yang mempunyai kekuasaan hingga berani menghapus data kependudukan seseorang dari negaranya. Menurutnya itu terlalu niat dalam menyembunyikan seseorang.


"Lalu bagaimana, pak? Apa saya perlu menghubungi Nenek Hulim itu?" tanya Bayu.


"Tidak perlu. Kita pikirkan masalah si preman-preman kecil itu dulu. Kita buat mereka mengaku dulu. Apalagi itu yang cewek cowok, melenggang bebas kaya nggak ada merasa bersalahnya." ucap Andre.


Bayu menganggukkan kepalanya mengerti. Bagaimana pun juga, Andre harus bisa keluar dari penjara ini dulu. Andre yang akan menghubungi langsung Nenek Hulim agar memberitahu keberadaan istri dan anaknya.


"Bay, buat para pelaku itu menyerahkan diri ke kantor polisi dan memilih tinggal di penjara. Saya nggak rela kalau orang yang membuat anakku terluka itu masih berkeliaran bebas. Buat juga orangtua mereka mencabut tuntutannya atasku," ucapnya dengan berbisik.

__ADS_1


"Bagaimana caranya, pak?" tanya Bayu yang tidak mengerti arah pikiran Andre.


"Teror mereka. Buat mereka menyesal dan merasa bersalah sehingga memilih hidup dengan perlindungan polisi." bisik Andre mengutarakan rencananya.


"Jangan sampai ketahuan," lanjutnya.


Bayu mengerti dengan rencana yang akan dijalankan oleh Andre. Untuk sementara ini, ia akan menekan orangtua dari pelaku pengeroyokan itu dengan kekuasaan Andre. Apalagi ada beberapa dari mereka yang mengambil bahan baku dari pabrik milik Andre. Dengan tak mendapat pasokan bahan murah dengan kualitas tinggi, tentu mereka akan merugi.


***


"Alhamdulillah... Arnold sudah membaik keadaannya. Kalian bisa tenang menjalani kehidupan baru di sini," ucap seorang wanita tua yang tak lain adalah Nenek Hulim.


Nenek Hulim juga mendapatkan informasi ini semua dari Frank. Ia langsung memberi kabar itu pada Nadia dan Alan. Kini mereka sudah berada di luar negeri. Begitu juga dengan Fikri yang memang melanjutkan kuliahnya di sini. Sebuah negara maju yang akan menjadi awal kehidupan baru mereka.


"Syukurlah. Wah... Pasti seru nih kalau abang sudah sadar. Nggak ada Alan, pasti dia bakalan cari-cari adiknya yang paling tampan itu." ucap Alan dengan percaya dirinya.


"Nenek, minta Paman Frank videoin abang yang lagi sadar dong. Alan ingin tahu reaksinya. Oh jangan lupa, waktu ada laki-laki itu juga ya," ucap Alan yang malah menyuruh Nenek Hulim.


"Dih... Malah nyuruh orangtua," ucap Nenek Hulim dengan sinis.


"Lha terus Alan harus nyuruh siapa? Kan nenek yang bawa kami ke sini," ucap Alan sambil mendengus kesal.


"Cari tahu sendiri dong," ucap Frank yang tiba-tiba saja datang.


Alan yang melihat Frank datang pun berdiri kemudian menubruk tubuh tinggi nan kekar milik laki-laki itu. Alan memeluk Frank erat bahkan kedua kakinya langsung melingkar pada tubuh laki-laki itu. Sontak saja kelakuan Alan ini membuat Frank sedikit terkejut.

__ADS_1


"Manja," sindir Frank pada Alan yang kini ada di gendongannya.


"Alan kan masih anak kecil. Wajar dong kalau manja begini," ucap Alan yang malah menduselkan wajahnya pada dada bidang Frank.


Nadia langsung mengalihkan pandangannya kearah yang lain. Matanya memanas karena sebelumnya ia tak pernah melihat Alan seperti itu dengan Andre. Bahkan untuk menggendong saja, mungkin hanya hitungan jari dia saja. Itupun saat Alan masih kecil, sekitar usia satu tahunan.


Frank langsung mengajak duduk Alan mendekat kearah Nadia. Alan masih berperilaku manja, membuat Nadia tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Nenek Hulim langsung mengelus lembut lengan Nadia agar dia tak memperlihatkan kesedihan dan rasa kasihannya.


"Iya, wajar. Ini mau makan siang, Alan mau disuapi nggak? Biasanya anak kecil suka disuapi," ucap Frank dengan sedikit meledek.


"Suapi, mandiin, terus temani bobok bareng ya, paman." ucap Alan memina.


"Dih... Ngelunjak ya. Tadi kan cuma ditawari suapu doang," ucap Nenek Hulim.


"Nenek iri sama Alan. Paman Frank, nanti suapi nenek juga makan ya. Kalau perlu jika kemana-mana tuh didorong pakai kursi roda," ucap Alan.


Nenek Hulim yang mendengar hal itu langsung saja melempar kulit kacang kearah kepala Alan. Alan tak merasa kesakitan dan hanya tertawa saja melihat aksi Nenek Hulim yang kesal padanya itu.


"Dasar cucu menyebalkan. Nenek buang ke laut juga nih kalau nyebelin," ucap Nenek Hulim.


"Wah... Nenek durhaka sama cucu sendiri," ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.


Nadia tersenyum melihat Alan yang sepertinya malah nyaman bersama dengan keluarga oranglain. Seharusnya keluarganya sendiri yang membuat nyaman. Bukan malah kaya begini. Sangat berbeda jauh interaksi antara Alan dengan Andre dan anak itu bersama Frank.


"Sudah... Sudah... Ayo buruan makan siang. Perut bunda ini cacingnya udah pada demo," ucap Nadia sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


"Apa? Di perut bunda ada cacing? Calon adik Alan?" tanya Alan dengan wajah menyebalkannya.


Nadia yang mendengar ucapan Alan itu langsung saja menggelitinya. Bahkan Frank dan Fikri juga melakukan hal yang sama. Nenek Hulim yang melihat hal itu sangat bahagia. Apalagi interaksi mereka begitu menghangatkan hati.


__ADS_2