Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Wawat Telbang


__ADS_3

"Unda, Alan mawu naik wawat telbang buwat cuculin nenek dan akek ke lual negli. Ayo telpon Nenek Ulim, minta nenek demput Alan." ucap Alan dengan antusias.


Setelah bangun dari tidurnya pagi ini, Alan segera mandi dibantu oleh Arnold. Setelah memakai seragam sekolahnya dengan baju dikeluarkan, Alan keluar kamar dengan digandeng Arnold. Anara belum mau masuk ke sekolah kalau tidak bersama dengan Abel. Hal ini dimaklumi oleh Nadia dan Andre karena ada rasa terguncang pada psikia Anara setelah kejadian kembarannya ini.


Alan dan Arnold langsung masuk dalam ruang makan dan terlihatlah di sana ada Nadia juga Anara. Bahkan mereka tengah menunggu Alan dan Arnold yang belum juga datang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 lebih, namun keduanya seakan santai saja.


"Naik pesawat terbang? Mau ngapain nyusul nenek dan kakekmu? Mereka di sana itu lagi berobat lho. Malah keganggu nanti mereka kalau kamu datang," ucap Nadia dengan sedikit menggoda anak bungsunya itu.


"Mana ada meleta kedangdu Alan. Justlu talo Alan atang ke cana pati langcung cadal meleta itu. Pototna Alan mau ke cana. Talo ndak puna wuwang, utang bulu cama bandalana," ucap Alan.


Nadia hanya bisa menganga tak percaya mendengar apa yang diinginkan anaknya itu. Pasalnya membeli tiket pesawat dengan hutang di bandara, yang ada mereka langsung diusir atau mungkin dikira jadi orang tak waras. Aneh-aneh saja tingkah anaknya ini.


"Alan, aku punya pesawat lho. Kamu mau naik pesawat punyaku?" tanya Anara dengan tatapan polosnya.


Bahkan kini Nadia, Alan, dan Arnold langsung mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya mereka tentu tahu kalau Anara tidak mempunyai pesawat terbang. Ketiganya saling pandang karena menduga bahwa Anara tengah berhalusinasi.


"Mana wawatna?" tanya Alan dengan tatapan penasaran.


"Bentar, kamu punya kertas?" tanya Anara dengan menengadahkan kedua tangannya.


Alan dengan polosnya menganggukkan kepalanya. Ia membuka tasnya kemudian mengambil bukunya yang kosong. Bahkan Alan langsung merobek bagian tengahnya dan memberikannya pada Anara.


Sedangkan Nadia dan Arnold sudah menepuk dahinya pelan. Pasalnya kini keduanya paham kalau yang dimaksud pesawat terbang oleh Anara itu berbeda dengan yang dipikirkan Alan. Arnold pun segera duduk di kursinya sambil melihat drama yang sebentar lagi tersaji.


Anara juga langsung menerima kertas itu dan melipatnya menjadi sesuatu. Namun Anara membentuk kertas itu dengan membalikkan badannya sehingga Alan tak bisa melihatnya. Bahkan ketika Alan ingin mengintip, kakaknya itu langsung melarang.

__ADS_1


"Jangan ngintip, Alan. Nanti mata kamu bintitan lho," ucap Anara yang tahu kalau adiknya itu sangat penasaran.


"Ditila nintip wewek di tamal mandi apa patek bintitan cegala," ucap Alan nyeleneh.


Nadia yang mendengar apa yang diucapkan anaknya itu pun langsung melotot kearah Alan. Tentunya ia tak terima kalau otak anaknya itu sudah ngawur begitu. Kini Nadia langsung menggendong Alan kemudian mendudukkannya di pangkuannya.


"Dapat darimana kata-kata itu, heh." kesal Nadia pada anaknya itu.


"Dali temalin watu itut yomba ujuh belacan di tampung cebelah. Ada ibu-ibu yang biyang tayak ditu," ucap Alan jujur.


Nadia hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ternyata anaknya itu mendapatkan ilmu seperti itu dari apa yang didengarnya selama ini. Nadia hanya bisa mengelus pelan dadanya sabar karena anaknya yang memang belum bisa membedakan ucapan yang dapat ditiru dan tidak.


"Selesai..." seru Anara tiba-tiba membuat semuanya mengalihkan pandangannya kearah gadis cilik itu.


Tentu saja seruan Anara itu membuat Alan melupakan ucapannya. Apalagi kini Anara langsung menunjukkan sebuah kertas yang dilipat menjadi seperti pesawat terbang kearah Alan. Alan tentunya kesal dengan apa yang diperlihatkan oleh Anara itu.


"Mana bica Alan naik wawat telbang dali keltas ini? Yang ada wawatna lucak Alan indak," ucap Alan dengan bersungut-sungut.


Hahahaha...


Tentu saja Nadia dan Arnold langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan melihat wajah Alan yang begitu kesal dan bersungut-sungut itu terlihat sangat lucu. Keduanya tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana kesalnya Alan yang dikerjai oleh Anara.


"Ini pesawat terbang buatannya Anara lho. Seharusnya kamu menghargai perjuangan Anara membuat pesawat ini," ucap Anara dengan wajah sedihnya.


Alan hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Bahkan kini Alan mendekati Anara yang tertunduk sedih. Padahal itu semua hanya drama saja dari Anara setelah melihat kode dari Nadia untuk berakting sedih. Alan langsung memeluk Anara dari samping dan mengelus punggungnya dengan lembut.

__ADS_1


"Alan menghaldaina tok. Belapa haldana? Celibu caja ya. Api anti ada tembalianna lho ya," ucap Alan dengan sedikit bercanda.


"Astaga... Bukan menghargai dengan uang, Alan. Tapi seperti memujinya dan mengucapkan terimakasih," kesal Nadia.


"Unda napa cewot mulu cih talo nomong cama Alan? Alan tuh benal lho talo nomong. Tatana menghaldai, haldana belapa? Ya celibu caja wong Alan punana cuma itu tok. Beda ladi talo adi Kak Nala minta culuh ucap matacih," ucap Alan tak mau kalah.


Arnold yang melihat Nadia seperti kalah debat dengan Alan pun langsung mengelus lembut lengan atas tangannya. Menghadapi Alan ini harus mempunya kesabaran ekstra sehingga tidak boleh mudah terpancing. Akhirnya mereka pun memilih makan bersama daripada berdebat tentang pesawat terbang.


***


"Alan, baju seragamnya dimasukin dong. Biar rapi," perintah Nadia pada anaknya itu.


"Ndak mawu. Alan mau dadi bedboy tayak di tipi-tipi, kelen tau." ucap Alan dengan nada songongnya.


Bahkan Alan langsung menyugar rambutnya dengan tangan ke belakang. Hal itu membuat rambutnya yang tadi sudah disisir rapi oleh Arnold menjadi berantakan kembali. Arnold yang melihat gaya adiknya itu tentu ingin sekali menjitaknya.


"Tulang motol dedena nih. Becok mawu minta motol dede yang walnana pink itu," lanjutnya.


Nadia hanya bisa menganga tak percaya dengan ucapan anaknya itu. Sepertinya ia sudah mulai depresi dengan tingkah Alan yang semakin hari bertambah pintar. Tambah pintar omongan dan gayanya itu. Kemungkinan besar saat dewasa kelak, semakin harus waspada dengan pergaulannya.


"Astaga... Mana ada di TV warna motornya pink. Sudahlah... Sana berangkat, itu Paman Ridho dan Rivan sudah menunggu dari tadi. Alan, jangan nakal dan bolos sekolah lagi," peringatnya.


"Ndak danji, unda. Alan tan bedboy, macak ndak boleh atal." ucap Alan dengan santainya.


Alan langsung mengambil telapak tangan Nadia kemudian menciumnya. Begitu juga dengan Arnold yang berpamitan dengan Nadia. Mereka segera saja berangkat ke sekolah. Sedangkan Nadia sedikit merasa lega karena Alan telah melupakan keinginannya tentang pergi ke luar negeri.

__ADS_1


Anara dan Nadia hari ini akan ke rumah sakit untuk bergantian menjaga Abel dengan Andre. Andre harus bekerja sehingga kalau pagi sampai sore tidak bisa menemani anaknya.


__ADS_2