
"Dimana talo tita panting meleta tuntuk kelual. Alan anti yang adi pantinganna," ucap Alan dengan penuh percaya diri.
"Tidak!" seru Arnold, Anara, dan Ridho secara bersamaan.
Tentunya mereka takkan mau untuk mengorbankan Alan dalam masalah ini. Bahaya, apalagi orang-orang yang dihadapinya itu lebih besar dibandingkan dengan Alan. Alan yang keci, bisa saja tertangkap kalau larinya tidak cepat. Bahkan ketiganya yakin kalau Alan yang akan berulah aneh dan itu membuat mereka justru khawatir.
"Olang dikacih ide tu dengaltan bulu campe abis. Angan langcung olak," kesal Alan.
Arnold dan Anara hanya bisa menggaruk tengkuknya tak gatal melihat Alan yang sepertinya begitu kesal dengan kedua saudaranya. Terlebih kini wajahnya yang sudah menatapnya dengan sinis membuat mereka was-was. Ridho bahkan segera saja mengalihkan pandangannya karena tak mau mendapatkan tatapan tajam dari Alan.
"Makanya kalau kasih ide itu yang benar. Jangan ide aneh," kesal Arnold.
"Huft... Bedini lho Bang Anol. Adi tita tetap caja tepon polici dan papana Kak Ilam buwat antu. Ntal Alan yang panting meleta telual, talo meleta kejal Alan lancung caja polici angkat cemuana. Acal Alan ndak diinggal-inggal caja watu lali," ucap Alan menjelaskan rencananya.
Ketiganya langsung terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Alan. Memang benar itu ide yang sangat bagus, namun jika menggunakan Alan sebagai pancingannya sudah pasti nanti ada drama. Itu juga sangat membahayakan Alan apalagi kalau polisi dan yang lainnya lengah. Mereka yang membantu harus siap siaga.
"Dimana? Ide yang badus tan?" tanyanya dengan raut penasarannya.
Ketiganya langsung menganggukkan kepalanya setuju. Tentu hal itu membuat Alan tersenyum bangga sambil menepuk dadanya dengan telapak tangan berulangkali. Namun mereka masih ragu kalau Alan yang dijadikan pancingannya. Mereka harus menemukan rekamana CCTV nya terlebih dahulu kemudian menjalankan apa yang diucapkan oleh Alan.
"Nemangna tita ndak oleh minta lekaman pipitivi itu cendili?" tanya Alan.
__ADS_1
"Minta bantu Papa Nilam pada pihak sekolah untuk rekaman CCTV nya. Tapi itu juga malah membuat pihak sekolah curiga pada kita. Pasti mereka berpikir kalau kita meminta rekaman CCTV itu untuk menindaklanjuti kasus Nona Abel," ucap Ridho yang langsung berpikir mengenai kemungkinan apa yang akan dilakukannya.
"Culi caja lekaman pipitivi tu," ucap Alan menyampaikan idenya.
Mereka yang mendengar saran yang disampaikan oleh Alan pun langsung menatap kearah bocah laki-laki itu. Ternyata Alan yang masih kecil begitu saja sudah bisa berpikir licik. Padahal mereka yang lebih tua pun tak mampu kalau harus berpikir sampai sana. Hal ini membuat Arnold dan Anara sedikit takut dengan cara berpikir adiknya yang sudah berada di luar nalar.
"Itu berdosa, dek." ucap Arnold menanggapi saran yang diberikan oleh adiknya itu.
"Ndak ada doca tutuk menungtaptan apa yang teljadi. Apaladi nih tacian cama pelatu, tekalang elum tobat ingga docana macih umpuk," ucap Alan mengelak.
Tentunya Arnold hanya bisa menepuk keningnya pelan mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya. Arnold sampai tak bisa berkata-kata lagi mendengar apa yang diucapkan oleh Alan. Ia yakin kalau adiknya itu saat dewasa nanti akan pintar berdebat dan sangat cocok menjadi penerus pemimpin perusahaan keluarganya.
"Baiklah, abang setuju dengan apa yang diucapkan oleh Alan. Kita akan mengambil rekaman CCTV saat kejadian dan saat ada di gudang. Ini bisa membuktikan kalau orang-orang itu sedang berkumpul untuk membahas sesuatu. Apa kita perlu meminta tolong teman papa atau kakek yang seorang hacker?" tanya Arnold yang kini menyetujui ide yang diucapkan oleh Alan.
"Papa Kak Ilam," seru Alan.
Seruan dari Alan itu membuat semua orang disana matanya langsung berbinar cerah. Ternyata mengajak Alan berdiskusi itu adalah keputusan yang tepat. Awalnya mereka tak akan mengajak Alan membicarakan tentang masalah ini namun kalau tidak diberitahu pasti bocah laki-laki itu akan marah. Alan yang begitu cerdik walaupun awalnya pasti ide aneh yang selalu disampaikan bocah itu.
Mereka menganggukkan kepalanya mengerti. Bahkan Arnold langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi papa dari sahabatnya itu. Anara langsung memeluk adiknya yang ternyata lebih genius dibandingkan dirinya. Walaupun Alan kadang menyusahkan, namun disaat kondisi seperti ini bisa diandalkan juga.
"Terus belajar ya, dek. Biar kamu tambah pintar dan cerdas. Selanjutnya, biar kami yang terus menyusahkanmu," ucap Anara sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Alan yang mendengar kakaknya berniat untuk memanfaatkannya pun langsung menatap sinis kearah Anara. Ia sedikit tak terima kalau disuruh belajar namun kakaknya hanya ingin memanfaatkan kepintarannya.
"Kak Nala tu halus pintal uga. Belajal yang benal, angan pacalan telus." ucap Alan memperingati kakaknya itu.
Anara yang mendengar ucapan Alan tentu tak terima. Pasalnya selama ini dia belum pernah pacaran dengan siapapun. Yang ada malah kedua adik laki-lakinya itu kecil-kecil namun sudah tahu tentang cewek dan pacaran. Alan menghela nafasnya lelah karena merasa disindir oleh kakaknya yang tak tahu apa-apa mengenai hubungannya dengan Cia.
"Kak Nara belum punya pacar ya. Jangan suka nuduh," ucap Anara tak terima.
"Agus, ndak ucah pacalan. Talo cudah becal anti balu boleh pacalan," ucap Alan dengan ucapan sok menasihatinya.
Anara sangat kesal dengan Alan yang seakan membenarkan dia yang pacaran. Sedangkan bocah laki-laki itu tak membolehkannya berpacaran. Sikap Alan dan Arnold itu sama, sangat posesif kepada kedua saudara perempuannya. Bahkan saat ada teman laki-laki yang mendekat langsung waspada.
"Sudah, kenapa kalian malah ribut begini. Lihat tuh Mas Ridho yang bingung dengan perdebatan kalian," ucap Arnold sambil geleng-geleng kepala.
Pasalnya Arnold yang baru saja menyelesaikan panggilannya kepada Papa Nilam segera melihat kearah Ridho yang kebingungan dengan perdebatan kedua saudaranya itu. Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai ide dari Alan, akhirnya Arnold segera mengakhiri panggilannya.
Beruntung Papa Nilam mau membantu, bahkan untuk rekaman CCTV yang mengarah pada kejadian Abel terluka itu sudah ada di tangannya. Beliau memang langsung menghubungi temannya yang juga seorang hacker untuk mengambil rekaman CCTV. Papa Nilam sudah meminta baik-baik pada pihak sekolah, namun mereka malah beralasan kalau CCTV nya mati.
"Jadi gimana?" tanya Anara mengalihkan pembicaraan.
"Papa Nilam mau bantu, semua aman." ucap Arnold dengan senyum misteriusnya.
__ADS_1
Anara dan Alan langsung melakukan tos setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Arnold. Mereka begitu bahagia karena akan ada yang membantu memecahkan permasalahan kasus Abel.