
Nadia hanya bisa menahan tawanya melihat Andre yang pasrah saja diomeli oleh Alan. Apalagi anaknya itu masih tak terima jika dirinya dibilang badut di keluarganya. Omelan Alan pada papanya itu membuat yang lainnya juga begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Unda juda nih. Nanakna dibilang dadut tok malah diam caja. Halusna unda juda malahin papa tuh," ucap Alan yang kini justru menyalahkan Nadia juga.
"Bunda saja tidak tahu kalau yang dimaksud itu adalah Alah lho. Kan kelihatan tadi kalau bunda bingung," elak Nadia sambil geleng-geleng kepala.
Alan yang malas dengan kedua orangtuanya pun memilih untuk berjalan kearah saudaranya yang masih menatapnya. Alan langsung saja meminta pada pada saudaranya itu untuk tak dekat-dekat dengan Nadia dan Andre.
"Dangan detat-detat cama unda dan papa. Hancul hati Alan nih talna meleta ndak belpeliteanatan cama nanakna cendili," ucap Alan mulai dengan dramanya.
Bahkan raut wajahnya terlihat sendu, seakan dirinya begitu terluka oleh ucapan orangtuanya. Sedangkan Nadia yang termakan dengan drama anaknya itu langsung saja berjalan kearah Alan. Nadia langsung memeluk anaknya itu dari samping sambil mengelus lembut punggungnya.
"Bund, jangan terkecoh sama itu drama Alan. Dia cuma akting, lihat saja tuh bibirnya cengar-cengir seakan meledek bunda." ucap Andre mencoba menyadarkan istrinya.
Namun tak ayal Andre juga langsung mendekat kearah semuanya. Andre duduk di ruang keluarga bersama dengan yang lainnya. Matanya masih menatap Alan yang seakan memberinya kode untuk diam saja. Namun Andre takkan membiarkan anaknya itu menang dengan mudah dan lebih memilih menggagalkan rencana Alan.
"Ish... Kamu akting lagi ya, Alan? Kesal bunda nih, selalu nggak bisa bedain kamu yang cuma akting dan beneran. Nggak usah ajak Alan ke luar negeru aja deh, pa. Ngeselin soalnya," ucap Nadia yang kini langsung berjalan menuju samping suaminya.
Nadia duduk di samping suaminya dan menatap kesal pada Alan. Sedangkan Alan sendiri rasanya ingin sekali mengomeli papanya yang menghancurkan rencananya. Apalagi tadi tentang ucapan bundanya tentang pergi ke luar negeri, ia takkan membiarkan mereka ke sana tanpa dirinya.
"Iya, papa juga malas ngajak Alan. Ngeselin soalnya," ucap Andre yang kini balik menjahili anaknya.
__ADS_1
"Ndak ajak Alan ya ndak papa. Alan puna banak uwang tok, cantai. Bica beli atu tuh talo cuma titet wawat telbang. Tecil," ucap Alan sambil mennjetikkan jarinya.
"Memangnya uang celenganmu itu cukup buat beli tiket pesawat, dek?" tanya Arnold.
Pasalnya uang yang kemarin dibongkar Alan dari celengannya itu jumlahnya tak sampai satu juta. Arnold bingung adiknya ini nanti akan membeli tiket pesawat dengan uangnya siapa. Yang lainnya memilih diam, mengamati drama Alan yang semakin hari bertambah membuat pusing orang itu.
"Nenek Ulim tan ada. Napa lepot-lepot," ucap Alan dengan santainya.
Bahkan kini Alan menunjukkan ponsel milik Arnold kearah orangtuanya. Tadi ia meminjam ponsel kakaknya itu untuk menghubungi Nenek Hulim. Alan minta tolong dengan beliau agar dibawa bertemu dengan nenek dan kakeknya. Bahkan tanpa sepengetahuan atau seijin orangtuanya terlebih dahulu.
"Jadi kamu sudah minta buat ke luar negeri sama Nenek Hulim?" tanya Nadia dengan mulut menganga.
"Iya dong. Napa? Cilik ya cama kepintalan Alan ini. Emang cuma Nenek Ulim yang baik cama Alan tuh," ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.
"Huft... Sudahlah, iya kami kalah. Alan memang pintar, cerdas, dan licik." ucap Andre dengan mendengus kesal.
"Licik itu pelu, apaladi talo mau pelang. Talo ndak puna lencana celdik dan licik, pati talah." ucap Alan sok tahu.
Bahkan kini raut wajahnya begitu songong setelah Andre mengakui kepintarannya. Bahkan ia dinobatkan sebagai pemenang dari drama ini. Arnold pun juga mengakui bahwa ia kalah dari adiknya. Tadinya Arnold pikir adiknya itu akan menggunakan ponselnya untuk melihat kartun. Namun ternyata malah menghubungi Nenek Hulim.
"Sok tahu kamu, emangnya kamu mau perang apaan. Sudahlah... Jadi Alan, Arnold, Abel, dan Anara, kita akan menjenguk nenek dan kakek di luar negeri. Mungkin kita akan pergi kalau beberapa dokumen kalian lengkap dulu. Papa minta sama kalian untuk membantu pemulihan nenek dan kakek. Siapa tahu kalau kalian datang, mereka langsung bisa sehat." ucap Andre dengan pancaran mata penuh harap.
__ADS_1
Andre begitu berharap dengan kehadiran ketiga anaknya itu bisa membuat orangtuanya segera pulih, terutama sang mama. Walaupun kedua orangtuanya tak melihat, namun kehadiran cucu-cucunya pasti bisa dirasakan. Arnold, Abel, dan Anara langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Berbeda dengan Alan yang tampak berpikir.
"Minta cehatna tuh butan cama tita, tapi cama Allah. Muclik tahu," ucap Alan memperingatkan.
"Iya, kami juga tahu. Maksudnya itu kalian sebagai pendukung dan penyemangat, urusan langsung sembuh atau sehat itu biar Allah yang tentukan." ucap Andre yang sepertinya geregetan jika berbicara dengan Alan.
"Nah ditu dong. Dangan belhalap cama manucia, nanti bica tecewa. Itulah tata Ustadz Alan," ucap Alan mengakhiri ceramahnya.
Andre dan Nadia hanya bisa menepuk dahinya pelan. Mereka berdua memilih pergi saja dari ruang keluarga daripada frustasi kalau berbicara dengan Alan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Alan itu, namun kepercayaan dirinya itu lho membuatnya ingin sekali mencubitnya.
"Napa pada peldi, Abang Anol?" tanya Alan yang bingung dengan kepergian orangtuanya.
"Sebal sama kamu, dek." jawab Arnold seadanya.
"Calah apa diliku ini? Tenapa cebal cama Alan yang dantengna ndak tetulunan ini? Calah apa atu?" tanya Alan dengan raut wajah tak bersalahnya.
"Mau tahu kamu salah apa?" tanya Anara yang mulai menanggapi ucapan Alan.
Alan pun menganggukkan kepalanya dengan mantap. Bahkan matanya langsung menatap kearah Anara yang ada di depannya. Sedangkan Arnold dan Abel langsung memberikan tatapan saling kode agar setelah ini segera pergi dari ruang keluarga. Begitupun Rivan yang bersiap menggendong Naufal.
"Salah kamu itu adalah banyak ngomong," seru Anara yang langsung berdiri.
__ADS_1
Bahkan Anara langsung pergi berlari keluar dari ruang keluarga diikuti oleh yang lainnya. Alan berada di ruang keluarga sendiri sambil memikirkan ucapan kakaknya itu. Padahal ia banyak ngomong itu karena rumahnya sangat sepi tanpa ada ocehan darinya.
"Anti talo atu ndak nomong pada ngilana Alan cakit didi atau ladi dalo tayak putus cinta," ucap Alan sambil menepuk dahinya pelan.