Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Sisi Lain


__ADS_3

Alan berlari menuju kamar mandi di rumah sakit itu. Dalam kamar mandi itu, Alan langsung meluapkan tangisannya. Alan menangis karena mengingat bagaimana keluarganya yang dulu bahagia namun sekarang malah banyak cobaan.


Dimulai dari Abel yang masuk rumah sakit dan ingatannya terganggu, sedangkan nenek juga kakeknya sampai sekarang belum ada kabar baik. Alan begitu rindu dengan suasana rumahnya yang hangat karena canda tawa semua orang. Beruntung kamar mandi itu sangat sepi sehingga Alan bisa meluapkan semua kesedihannya dengan puas.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Tembalitan bahagiana kelualga Alan, Ya Allah. Atu dah ndak nakal ladi lho cuma pedes aja talo nomong. Tapi Alan talo nomong celalu benal lho walaupun celing nakitin olang," ucap Alan dengan tangis lirihnya.


"Hei tembok... Dawab napa culhatan Alan. Tok diam caja cih, Alan dadi tayak olang dila lho ini talo nomong cendilian," kesalnya dengan menunjuk kearah tembok kamar mandi yang ada di depannya.


Kalau ada orang yang melihatnya, pasti mereka akan tertawa. Apalagi melihat Alan yang bicara sendirian dan menunjuk-nunjuk kearah tembok kamar mandi. Itu malah seperti orang yang kurang kerjaan dan tidak waras. Apalagi wajah Alan yang sudah basah dengan air mata membuatnya menggemaskan secara bersamaan.


"Tembokna ndak mawu temanan cama Alan tali ya. Ya cudah, Alan duga ndak mawu temanan cama tamu." kesalnya.


Bahkan Alan juga langsung berdiri kemudian mencuci mukanya asal. Alan segera keluar dari kamar mandi itu dengan wajah yang lebih segar. Walaupun masih terlihat jejak-jejak air mata pada kedua pipi dan sudut matanya, namun itu sudah lebih baik. Daripada tadi yang wajahnya memerah dan begitu basah karena menangis pilu.


Alan dengan santainya mengubah mimik wajahnya menjadi songong. Walaupun kali ini mukanya sama sekali tak cocok, namun itu sudah membuat Alan kelihatan seperti biasanya. Alan menatap beberapa orang yang menatapnya seperti ingin memakannya hidup-hidup.


"Napa liat-liatin Alan tayak ditu? Pada nakcil cama Alan ya. Colly... Ndak lepel," ucap Alan dengan nada songongnya.


"Duh... Kamu tampan sekali sih, mau nggak jadi anak tante saja?" seru seorang dokter yang tadi juga melihat aksi Alan di taman rumah sakit.


"Ndak minat. Undana Alan cudah yang telbaik dan tantik," jawab Alan yang kemudian berjalan pergi meninggalkan semua orang yang menatapnya tak percaya.


Pasalnya yang menawari Alan menjadi anaknya itu adalah seorang dokter yang terkenal di rumah sakit itu. Bahkan berasal dari keluarga kaya, namun sepertinya Alan tak berminat. Alan lebih senang dan bangga memiliki bundanya sendiri. Dokter yang mendengar jawaban dari Alan itu hanya bisa mengelus dadanya pelan.

__ADS_1


"Sabar, memang susah kalau mau dapatin berlian." gumamnya pelan.


***


"Ayo ulang, Alan lapal." titah Alan pada Ridho yang menunggunya dengan cemas di dekat mobil.


Tadi setelah merekam aksi Alan dan mengirimkan rekaman itu pada Andre, Ridho langsung sadar kalau anak majikannya sudah pergi. Ia pun sudah mengelilingi area rumah sakit hingga kelelahan untuk mencari keberadaan Alan, namun ternyata bocah laki-laki itu tak ketemu.


Akhirnya Ridho memutuskan untuk menunggu Alan di tempat parkir. Ridho memiliki keyakinan kalau Alan itu akan bisa menemukan dimana mobilnya. Apalagi Alan yang pemberani, takkan mudah baginya untuk takut dengan keadaan sekitar.


"Kemana saja sih, den? Paman Ridho sampai panik. Takut kalau den Alan nyasar lho," ucap Ridho sambil menghela nafasnya lega.


"Tatut Alan nyasal, apa tatut dajina dipotong talo Alan ilang?" tanya Alan sambil menaikturunkan alisnya.


Ia yakin kalau menghadapi Alan langsung pasti malah membuatnya kalah. Alan pun hanya terkekeh geli melihat tingkah Ridho itu. Alan segera masuk dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Alan duduk dengan menyilangkan kedua kakinya seperti bos-bos yang ada film-film.


"Lagaknya kaya bos. Padahal duit saja nggak punya," ledek Ridho yang melihat tingkah Alan itu.


"Ili? Bilang dong, pak copil." seru Alan dengan wajah songongnya.


Ridho hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat tingkah Alan itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Alan sedikit bersyukur karena Ridho tak menyadari matanya yang terlihat sembab. Bisa-bisa nanti malah dia diejek dan disindir oleh sopir keluarganya itu.


Sisi lain Alan yang jarang oranglain tahu. Alan bukanlah bocah kecil yang selalu ceria. Dia menyembunyikan kesedihannya itu agar orang-orang terdekatnya tak tahu kalau dia rapuh. Padahal ia seperti anak kecil lainnya, kalau ada sesuatu yang terjadi pada orang terdekatnya pasti akan merasa sedih.


***

__ADS_1


"Ini beneran mau ke rumah? Nanti kalau bundanya tanya Alan kok sudah pulang jam segini itu gimana?" tanya Ridho saat mobil sudah hampir sampai rumah Keluarga Farda.


"Bilan caja duluna lapat matana ulang cepat," ucap Alan memberi saran.


Ridho yang mendengar ucapan Alan itu langsung mengingat anak-anak jaman sekarang yang sering bolos sekolah. Alasannya yang kadang tak masuk akal hanya demi bermain atau nongkrong di luaran sana. Walaupun banyak juga yang mentaati aturan sekolah demi cita-cita mereka.


"Bibit-bibit badboy sejak dini ini kayanya," ucap Ridho sambil geleng-geleng kepala.


"Ndak papa dadi bedboy atau bed copel juda oleh, yang pentin ndak nakitin olangtua." ucap Alan dengan santai.


"Iya deh percaya. Omongannya den Alan ini memang wajib dipercaya," ucap Ridho sambil menghela nafasnya kesal.


"Oh... Halus pelcaya dong cama Alan yang tampan dan pintal ini," ucapnya.


Ridho sudah frustasi menanggapi ucapan Alan itu. Alan pun memilih rebahan saja hingga mobil yang mereka naiki sampai di depan rumah. Alan pun langsung bangun kemudian turun dari mobil. Alan masuk dalam rumahnya dengan santai.


Ternyata di dalam rumah sedang ada Nadia yang bermain dengan Naufal di ruang keluarga. Kemungkinan Mbok Imah dan Ibu Rivan sedang membereskan rumah karena ini memang masih pagi hari.


"Alan ulang... Alan atang denan membawa senum celia. Ada yang mawu minta tandatananna Jepli Nikol?" seru Alan sambil terkekeh geli.


"Alan, kenapa kamu sudah ada di rumah? Ini kan masih jam sekolah." tanya Nadia yang langsung mengalihkan pandangannya pada Alan yang baru saja datang.


Nadia bahkan tak menggubris ucapan Alan mengenai salah satu nama artis. Ia heran dengan anaknya yang jam segini sudah pulang dari sekolahnya. Alan pun yang mendengar pertanyaan itu, sama sekali tak menggubrisnya. Justru Alan duduk di samping Naufal sambil menemaninya bermain.


"Duluna pada cibuk, unda." jawab Alan seadanya.

__ADS_1


__ADS_2