
Pluk...
"Kamu ngapain di sini?" ucap seseorang dari belakang Alan dan menepuk bahu bocah laki-laki itu.
Alan yang terkejut pun langsung membalikkan badannya. Terlebih ia seperti tak asing mendengar suara yang mengejutkannya itu. Ternyata itu adalah Rivan yang tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal. Lebih tepatnya mengenal sepeda listrik yang digunakan oleh Alan.
"Astaga... Kak Ripan nih ngagetin aja. Kalau Alan latah terus orang-orang melihat kearah kita, bisa dikeroyok kita ini mah bisa-bisa." ucap Alan dengan kesalnya.
"Lah... Situ aja gerak-geriknya udah mencurigakan lho. Mana ada orang naik sepeda listrik pakai helmnya full face kaya gitu," ucap Rivan yang seakan santai.
"Ayo ikut aku. Ngapain sih ngelihatin mereka yang nggak ada ganteng-gantengnya sama sekali," ajaknya yang langsung duduk di boncengan sepeda Alan.
Alan yang melihat hal itu mendengus kesal. Sedari dulu Rivan ini memang menyebalkan sekali dan suka seenaknya saat beranjak dewasa. Padahal waktu awal bertemu dengannya, Rivan sedikit takut dan segan dengannya.
"Mending lihatin mereka, ada gunanya. Daripada ngelihatin situ yang mukanya dah kaya pantat bebek," ucap Alan.
Walaupun begitu, Alan tetap saja melajukan sepedanya pergi dari sana dengan Rivan yang berada di boncengannya. Alan menggerutu dan mengumpati Rivan dalam hatinya karena pemuda itu sepertinya sangat menikmati kebersamaan ini.
"Kak Ripan ngapain sih di sana? Kan kakak nggak sekolah di sekolahnya Abang Arnold. Seharusnya Kak Rivan itu sekolah, bukan malah keluyuran di jam segini." ucap Alan yang malah menceramahi Rivan.
"Sok tahu kamu itu. Sekolah aku itu ada di luar negeri. Lagian ini aku juga liburan ke sini, bukan buat belajar. Eh datang ke sini niat liburan, malah dapat kabar kalau ada orang yang kabur." ucap Rivan dengan sedikit menyindir Alan.
"Siapa yang kabur? Wah... Jangan-jangan Kak Ripan yang kabur dari luar negeri ya? Pasti karena nggak bisa ngomong sama bule-bule kan? Makanya sini belajar sama Alan," ucap Alan yang sama sekali tak peka dengan sindiran yang dilayangkan oleh Rivan.
Rivan memilih diam dibandingkan harus mengomentari Alan yang memang susah untuk dikalahkan jika berdebat dengannya. Setelah tak berapa lama mengendarai sepeda, mereka kini sampai di sebuah taman yang cukup sepi.
__ADS_1
"Kok jatuhnya kaya orang pacaran ya kita di sini. Mana ini sepi lagi," ucap Rivan setelah turun dari sepeda Alan.
"Dih... Maaf ya, fans saya banyak dan kebanyak cewek-cewek cantik. Masa iya saya nggak normal dan milih sama situ" ucap Alan bergidik geli dengan ucapan Rivan itu.
"Aku juga ogah kali sama situ. Ini juga masih normal," ucap Rivan yang langsung memilih duduk di bawah pohon besar.
Alan pun ikutan duduk di sana dan berada di samping Rivan. Keduanya menatap lurus ke depan tanpa ada yang memulai pembicaraan. Keduanya tengah memikirkan banyak rencana untuk masa depannya masing-masing.
"Kamu ingin balas dendam sama mereka bukan?" tanya Rivan memulai pembicaraan.
"Enggak. Aku hanya akan memberikan pelajaran tambahan saja sama mereka. Pelajaran tambahan yang takkan pernah mereka lupakan seumur hidupnya," ucap Alan dengan seringaian tipisnya.
"Kok di sini kaya ada aura-aura iblis jahat ya? Apa hanya aku saja yang merasakannya?" ucap Rivan berceletuk sambil mengusap tengkuknya yang merinding.
"Jiwa iblis seseorang juga nggak akan bangkit kalau nggak diusik duluan. Siapapun yang mengusik duluan, maka dia harus siap menerima serangan dari iblis jahat itu." ucap Alan dengan nada datarnya.
"Apa yang akan kau lakukan? Cara halus atau kasar?" tanya Rivan yang penasaran dengan rencana Alan untuk membalas orang-orang tang menyakiti keluarganya itu.
"Cara halus yang mematikan. Aku tak sebodoh papaku yang sampai masuk penjara karena memukuli pelaku," ucap Alan.
"Maksudnya?" tanya Rivan yang tak paham dengan ucapan Alan.
"Bukan urusan Kak Ripan ya. Lagian ini aku udah diajarin sama Paman Frank biar lolos dari penjara kalau mau balas orang," ucap Alan kesal dengan pertanyaan Rivan.
"Astaga... Orang lagi serius juga. Kan siapa tahu kakak bisa bantu," ucap Rivan sambil mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Bantu dengan do'a saja. Lagian Alan bisa sendiri. Sudah ayo pertemukan aku sama Opal. Aku sudah rindu dengan adikku itu," ucap Alan yang langsung berdiri dari duduknya.
Rivan mendengus kesal mendengar Alan seperti itu. Apalagi Alan yang langsung pergi menuju sepedanya. Padahal ia ingin ikut dalam rencana Alan. Setidaknya ia bisa sedikit membantu membalaskan rasa sakit saudaranya. Rivan pun langsung berlari menyusul Alan dan duduk di boncengan sepedanya.
"Cepat tunjukin arah mana ini rumahnya. Alan bukan maps yang tahu arah jalan ke rumah Opal ya," ucap Alan dengan kesal.
"Ish... Opal itu adikku ya. Kok malah nyuruh-nyuruh kakaknya sih," ucap Rivan namun tak ayal dia juga menunjukkan arah jalan ke rumahnya.
"Biarinlah. Lagian Opal itu hanya adikku. Sana kamu cari adik baru saja," ucap Alan yang tak mau kalah.
Rivan hanya bisa pasrah saja dengan ucapan mutlak Alan itu. Pasalnya apa yang sudah diklaimnya itu takkan bisa didekati oranglain. Kecuali kalau Alan sedang tak berada di dekat Nauval, ia baru bisa mendekati adiknya itu. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di rumah Rivan.
"Jauh amat dari rumah Alan. Pasti sengaja kan biar Opal nggak bisa ketemu Alan ini," ucap Alan yang menuduh Rivan sengaja ingin menjauhkannya dari Nauval.
"Astaga... Cari rumah di dekat perumahan tempat tinggal keluargamu itu mahal-mahal lho, Alan. Mana cukup uang kakak buat beli," ucap Rivan sambil geleng-geleng kepala.
"Makanya kalau disuruh tinggal di rumah orang itu jangan ditolak. Itu namanya nolak rejeki, nggak bersyukur." ucap Alan.
Sekarang Rivan tahu maksud dari Alan menuduhnya menjauhkan dari Nauval. Alan ingin Rivan dan keluarganya tinggal di rumahnya lagi. Hanya saja Rivan tak enak hati dengan keluarga Alan yang sudah baik dengan mereka. Sehingga ia lebih memilih untuk membeli rumah kecil di sini dengan uang menyisihkannya dari beasiswa yang didapat.
"Assalamu'alaikum... Opal yang gembul, adiknya Alan yang tampan. Abang Alan yang ganteng ini datang lho," teriak Alan membuat seisi rumah heboh.
Lebih tepatnya hanya Ibu Rivan saja yang keluar. Nauval sendiri sedang tak berada di rumah karena bermain di rumah tetangganya. Namun Rivan tak mengetahuinya sehingga membawa Alan ke rumah ini.
"Alan..." seru Ibu Rivan yang langsung memeluk anak majikannya itu.
__ADS_1
"Opal mana, tante?" tanya Alan langsung setelah melepas pelukan dari ibu Rivan itu.
"Opal lagi main di sebelah," jawab Ibu Rivan membuat Alan menepuk dahinya pelan dan menatap sinis pada pemuda yang masih berdiri di belakangnya itu.