
Semuanya kini berkumpul di meja makan. Alan yang sudah bangun dari tidurnya dan membersihkan diri, ikut berkumpul bersama. Bahkan di sana ada Naufal, Rivan, dan ibunya juga. Mbok Imah tak ikut makan malam bersama karena harus menjaga suaminya di rumah.
"Ayo matan. Lama cekali cih, kebulu pelut Alan tempes lho ini." ucap Alan yang langsung menyendokkan nasi kearah piringnya.
"Eits... Biar papa dan yang dewasa dulu yang ambil," ucap Nadia menegur anaknya.
"Alan duga cudah dewaca tok ini. Ladian papa lama, pati nundu diambiltan unda tan? Manda..." ucap Alan dengan santainya mengambil nasi yang ada di atas meja.
"Sudah biarkan saja. Suka-suka tuh anak," ucap Andre yang memang malas kalau sudah berdebat dengan Alan itu.
Nadia hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Sepertinya ia harus menasihati dan bicara dari hati ke hati dengan Alan. Agar anaknya itu bisa bertingkah dan bersikap sopan. Nadia khawatir kalau kelak dewasa anaknya itu akan menjadi seorang yang urakan. Tak peduli dengan tingkahnya yang merugikan oranglain dan tidak mau bersekolah.
Semua makan dengan hening, kecuali Alan yang terus mengajak berbicara Naufal. Berulangkali Alan ingin menyuapi nasi dan ayam dalam jumlah banyak namun dihalau oleh Nadia. Anaknya satu ini memang perlu pengawasan yang lebih.
***
Satu minggu sudah keluarga Andre pulang ke rumahnya. Bahkan Andre sudah kembali bekerja dan anak-anak berangkat sekolah. Walaupun sebenarnya hanya Arnold yang berangkat sekolah, sedangkan Anara dan Abel diputuskan untuk homeschooling.
"Maaf, bu Nadia. Ini Alan kok seringkali keluar kelas saat jam pelajaran dan tidak kembali sampai jam pulang selesai ya," ucap Ibu Ningsih selaku kepala sekolah tempat Alan menuntut ilmu.
Sudah berulangkali Ibu Ningsih mendapatkan aduan dan laporan dari beberapa guru yang mengajar di kelas Alan. Bocah laki-laki itu selalu saja ijin ke toilet saat jam pelajaran berlangsung namun tak kembali ke kelas hingga bel pulang berbunyi. Setiap ditanya, Alan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.
"Pandilan alam, bu dulu. Ndak bica ditunda-tunda," ucap Alan setelah ditanya alasan tak masuk kelas kembali.
"Memangnya tadi pagi Alan makan apa? Kok sampai di kamar mandinya lama sekali," tanya guru yang masih menunggu di kelas.
__ADS_1
"Matan cabe dua latus," jawab Alan asal yang kemudian mengambil tasnya dan keluar kelas.
Selama seminggu ini begitu terus hingga memilih untuk bertanya pada orangtuanya. Apalagi setiap Alan ditanya, jawabannya tak pernah serius dan malah terkesan asal. Nadia yang mendengar aduan dari kepala sekolah anaknya itu pun hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Maaf, bu. Saya itu juga nggak paham kenapa itu Alan seperti itu. Padahal saya sudah bilang untuk nurut sama guru dan rajin belajar," ucap Nadia yang kini wajahnya terlihat frustasi.
"Mungkin bisa diberi pengertian lagi, bu. Ajak ngobrol dengan pelan," ucap Ibu Ningsih memberikan saran.
"Iya, bu. Setelah ini akan saya coba ajak ngobrol," ucap Nadia.
Nadia pun keluar dari ruang kepala sekolah kemudian pergi menuju kelas Alan. Sesampainya di sana, ternyata Alan memang tidak ada di kelasnya. Padahal ini masih masuk jam pelajaran. Akhirnya Nadia memutuskan untuk mencari keberadaan Alan di sekolah itu.
Nadia hampir saja frustasi karena harus mencari keberadaan Alan di sekolahnya yang begitu luas itu. Rasa kesal mendominasi namun ada sedikit perasaan khawatir. Nadia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan anaknya itu. Setelah memutari hampir satu sekolah, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok anak kecil yang tiduran di atas rumput halaman belakang.
Nadia segera mendekat kearah Alan kemudian duduk di sampingnya. Nadia melihat kearah Alan yang ternyata memejamkan matanya. Dilihat dari matanya yang bergerak-gerak, Nadia yakin kalau anaknya itu tidaklah tidur.
"Ijinnya ke toilet, eh malah datang ke taman. Masih kecil udah berani bohong," sindir Nadia.
"Cudah tahu talo Alan ndak mau cekolah, eh tetap dicekolahin. Dadi dini deh, Alan tidulan caja di belakang cekolah." jawab Alan tanpa merasa bersalah.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Alan itu. Ia berusaha untuk mengorek informasi tentang anaknya yang sangat luar biasa kalau berucap. Apalagi kini Alan sedang dalam fase yang sulit setelah banyak kejadian dalam keluarganya.
"Jadi Alan beneran sudah tak mau sekolah lagi? Kalau sekolah, nanti kamu bisa ikut pendidikan polisi. Bisa lho jadi salah satu aparatur negara itu," tanya Nadia.
"Olang Alan mauna dadi penucaha. Alan tuh cuma cuka tembak-tembakan butan buat dadi polici," kesal Alan yang seakan menuduh Nadia hanya asal menebak saja.
__ADS_1
"Tapi kalau menembak begitu kan harus punya profesi yang seperti itu dan wajib sekolah. Nggak boleh tuh yang namanya asal main nembak gitu," ucap Nadia berusaha meluruskan pikiran anaknya.
"Talo nembak wewek, apa halus cekolah dulu?" tanya Alan yang langsung saja bangun dari posisi baringannya di atas rerumputan.
Sontak saja mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alan itu membuat Nadia kesal. Padahal sedari tadi tak ada yang menyinggung masalah cewek. Namun bisa-bisanya Alan ini malah menanyakan hal itu kepadanya. Ingin sekali dia menjitak anaknya itu karena malah ngomong asal.
"Kabul..." seru Alan setelah melihat bundanya melotot tajam kearahnya.
Kini Alan langsung saja berlari pergi dari halaman belakang sekolah. Ternyata Alan memilih masuk kelasnya walaupun jam pulang sekolah tinggal 5 menit lagi berbunyi. Guru yang mengajar hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala saja.
"Alan, besok kumpulkan tugas kamu yang menggambar itu ya. Ibu mau membuat penilaian dengan karya yang kamu buat," ucap guru itu saat Alan akan beranjak keluar kelas setelah bel pulang berbunyi.
"Alan becok ndak belangkat cekolah. Tacih nilai celatus caja cudah, ndak ucah patek tumpul-tumpul dambal." ucap Alan dengan santainya.
"Eh... Kok nggak berangkat sekolah?" tanya guru itu kebingungan.
"Becok Alan cibuk. Ada mici pentin," ucap Alan dengan semangatnya.
Alan pun langsung keluar dari kelasnya, meninggalkan gurunya yang menganga tak percaya. Ingin rasanya ia menyerah menjadi guru dari seorang Alan ini. Padahal bukan hanya dia saja yang sudah frustasi menghadapi Alan namun guru lainnya juga.
"Ayo pulang, unda. Tapek nih Alan cekolahna," ucap Alan dengan santainya mendekat kearah sang bunda yang menunggunya.
"Capek apaan? Tidur di halaman belakang sekolah aja bilangnya capek," kesal Nadia yang langsung menggandeng tangan anaknya.
"Calah ladi... Calah ladi... Celba calah Alan ini talo nomong. Tayak laduna Laisa," gumam Alan sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1