
"Abel sekarang sudah boleh pulang. Kita kasih kejutan untuk kedua adik laki-lakimu yang jahilnya minta ampun itu ya," ucap Nadia sambil mengelus lembut rambut panjang Abel.
Hari ini Abel sudah diperbolehkan pulang setelah satu bulan lebih menjalankan pemulihan di rumah sakit. Beberapa kali terapi sudah dijalankan agar kondisinya membaik. Bahkan perlahan ingatannya pulih dan sudah bisa mengingat hal-hal kecil seperti nama saudaranya.
Nadia dan Andre berusaha keras agar anaknya itu tidak mengingat tentang kisah masa lalunya. Setiap kali Abel mengingat tentang kejadian dulu, langsung saja Nadia menceritakan hal-hal lucu. Tentunya mereka tak ingin kalau Abel terus dihantui kisah masa lalunya.
"Baik, bunda. Ayo kita pulang. Abel sudah nggaj sabar ketemu sama adek Alan dan Arnold. Pasti mereka sangat terkejut karena Abel pulang hari ini" ucap Abel dengan antusias.
Nadia menganggukkan kepalanya dengan senyum lebarnya. Bahkan Nadia dan Andre langsung membawa barang-barang milik Abel. Sedangkan Anara sendiri sudah menggandeng tangan kembarannya kemudian keluar bersama dari ruangan itu.
***
Mobil yang dikendarai oleh Andre memasuki halaman rumah keluarga Farda. Mbok Imah dan Ibu Rivan langsung menyambut kedatangan keluarga kecil itu dengan senyum sumringah. Walaupun Ibu Rivan belum pernah bertemu secara langsung, namun melihat Abel baru saja sudah membuatnya merasa senang.
"Alhamdulillah... Nak Abel sudah sembuh. Pasti ini rumah akan ramai lagi. Apalagi nanti kalau Den Alan datang, dia pasti akan ribut karena tak diberitahu tentang kedatangan Nak Abel," ucap Mbok Imah dengan mata berkaca-kaca.
Mbok Imah memeluk Abel dengan erat bahkan mencium kening anak majikannya itu. Sedari dulu keduanya sudah dekat, bahkan saat semua orang belum bangun terkadang Abel menemani Mbok Imah memasak. Abel tersenyum dan merasakan kalau di rumah ini penuh banyak kasih sayang untuknya.
Awalnya ia sedikit takut kalau akan ada orang-orang yang tak menyukainya. Namun ternyata dugaannya salah. Orang yang menjemput hingga menyambutnya ini adalah orang-orang baik. Pikirannya yang kadang berpikir negatif ini membuat ingatan baik yang terjadi dalam hidupnya menjadi tertutup.
"Kenalin, nak. Ini Ibu Rivan, dia juga baik lho dan tinggal di rumah belakang. Dan ini si kecil Naufal," ucap Mbok Imah memperkenalkan Ibu Rivan dan Naufal itu.
Abel yang melihat Naufal pun langsung mengelus pipinya lembut. Abel tersenyum begitu manis seperti Naufal yang menyunggingkan senyumannya. Nadia yang melihat pemandangan itu sungguh senang karena Abel tak takut lagi dengan kedatangan orang baru.
"Ayo kita masuk dulu. Nanti Abel bisa main sama Naufal kalau sudah istirahat," ucap Nadia.
__ADS_1
Abel menganggukkan kepalanya dengan antusias. Dengan menggandeng tangan Anara, Abel langsung meminta kembarannya itu mengantar ke kamar. Nadia dan Andre juga langsung masuk ke dalam bersama yang lainnya.
***
"Tok Alan adi ingin ulang cepat ya hali ini? Apa diwa-diwa bedboy Alan nih mulai tumbuh dalam dili ini?" gumamnya yang mengelus dadanya yang sedari tadi berdebar-debar.
Sedari tadi Alan merasakan jantungnya berdebar-debar. Ia juga mempunyai keinginan untuk segera pulang. Alan malah berpikir kalau ini merupakan jiwa badboynya yang perlahan memberontak ingin keluar. Apalagi ia sudah sering membolos dan tak mengikuti pelajaran.
Bahkan saat jam pelajaran seperti ini, semua siswa sibuk dengan mengerjakan tugasnya. Sedangkan Alan malah melamun dengan kedua tangan menopang dagunya. Alan terus memikirkan mengenai apa yang sebenarnya akan terjadi hari ini.
"Alan, kenapa itu kok gambarnya nggak diwarnai?" tegur salah satu guru, Bu Nawang.
"Alan ndak bica mewalnai dambal, bu dulu. Alan bicana mewalnai hidupna ibu dulu," ucap Alan yang malah menggombali gurunya sendiri.
"Astaga ini, anak. Gemas sekali, ingin ku cubit juga tuh ginjalnya." gumam Bu Nawang yang tengah menahan kekesalannya.
"Alan ladi mitilin apa? Pati ladi ada macalah ya, tok mutana cuntuk begitu," tanya Cia dengan berbisik pada Alan.
"Ladi mitilin tamu, Cia." ucap Alan sambil tersenyum manis.
Cia hanya bisa menahan senyumnya mendengar ucapan yang diucapkan oleh Alan itu. Dengan salah tingkah, Cia sampai bingung sendiri mau melakukan apa. Alan malah terkekeh geli melihat tingkah sahabat kecilnya itu.
Tet... Tet... Tet...
Bunyi bel pulang sekolah berbunyi, membuat semua siswa yang ada di sana bersorak. Tentunya kecuali Alan yang malah hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Walaupun dalam hati, ia sangat bahagia karena bisa segera pulang.
__ADS_1
"Den Alan..." seru Ridho sambil melambaikan tangannya kearah Alan yang sudah keluar kelaa bersama Cia.
"Ayo ulang. Cia, itu duga demputan tamu cudah datang. Atu ulang dulu ya, campe jumpa esok," ucap Alan sambil menunjuk kearah sopir yang memang dikenalinya.
"Iya, Cia ulang dulu ya Alan. Da... Da..." seru Cia yang kemudian berlari menuju mobilnya.
Alan langsung memasuki mobilnya dan membuat tas sekolahnya asal ke kursi penumpang. Alan duduk di samping Ridho yang mengemudikan mobil. Ridho juga membantu Alan memakaikan sabuk pengamannya.
"Kita ke sekolah den Arnold dulu atau langsung pulang ke rumah?" tanya Ridho pada Alan.
"Langcung ke lumah caja. Alan ladi malas temana-mana," ucap Alan.
Ridho menganggukkan kepalanya mengerti. Seakan tahu kalau mood anak majikannya itu sedang tidak baik, Ridho memilih diam saja dan tak berniat menjahili Alan. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Ridho memasuki halaman rumah Keluarga Farda.
"Tuh mobilna papa tok ada di lumah? Memangna papa ndak telja?" tanya Alan pada Ridho.
"Saya juga kurang tahu, den. Kan saya bukan asistennya bapak," ucap Ridho dengan mengedikkan bahunya acuh.
"Tamu apa cih yang bica celalu tau. Ndak pelnah apdet inpo tamu tuh," ucap Alan kesal dengan sopirnya itu.
Ridho hanya bisa menggaruk rambutnya yang tak gatal karena merasa tertohok dengan ucapan Alan. Pasalnya dia memang secuek itu untuk tidak mau mengetahui urusan oranglain. Mobil berhenti tepat di depan rumah kemudian Alan keluar setelah dibantu oleh Ridho.
Dengan langkah malasnya, Alan berjalan memasuki rumahnya yang sepi itu. Menurutnya, rumahnya itu begitu sepi karena tidak ada lagi kehangatan di dalamnya. Namun dahinya mengernyit setelah mendengar suara ramai di ruang keluarga.
"Woh... Ada malin di lumah Alan. Api tok malinna cualana banak banet. Macak iya malinna teloyokan. Ato malinna ladi dikusi?" gumam Alan.
__ADS_1
Alan yang sudah berpikiran negatif pun langsung berlari menuju ke ruang keluarga. Matanya melotot tak percaya melihat semua orang yang tengah duduk di sana.