Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Pelukan


__ADS_3

Andre memeluk papanya itu dengan begitu erat. Bahkan air matanya sudah meluncur begitu derasnya hingga membasahi baju rumah sakit milik papanya. Ia takut kehilangan kedua orangtuanya secepat itu. Ia ingin selalu bersama mereka saat keduanya jatuh sakit.


Namun kondisi Abel yang juga membutuhkannya, tentu menjadi prioritas utamanya. Papa Reza sampai menepuk punggung anaknya berulangkali untuk menenangkannya. Sebenarnya ia ingin bertanya banyak pada anaknya itu. Terutama tentang tak ada kehadiran istri, anak, menantu, dan cucunya saat ia membuka mata.


Papa Reza belum mengetahui bagaimana keadaan istrinya. Setiap bertanya dengan perawat yang menjaganya, tak ada jawaban pasti yang terlontar. Hal itu membuatnya kepikiran dan khawatir.


"Maafkan Andre yang nggak bisa jaga papa. Maafkan Andre di saat membuka mata nggak terlihat menjaga papa," ucap Andre dengan sesenggukan.


"Papa talo nanis tambah delek," celetuk Alan tiba-tiba.


"Bukannya papamu itu dari dulu memang sudah jelek ya, Alan." ucap Arnold menyahuti ucapan adiknya.


"Papamu duda toh," ucap Alan dengan sinisnya.


Suasana yang tadinya sedih bercampur haru kini langsung hancur. Apalagi mendengar ledekan yang dilontarkan oleh Alan dan Arnold itu. Bahkan Andre langsung melepaskan pelukannya dari sang papa dan menghapus air matanya. Papa Reza juga seperti itu bahkan masih terud menahan tawanya.


"Hei... Kalian ini anak-anakku semua. Kalau papa jelek ya kalian samalah," ucap Andre yang tak terima dengan ledekan itu.


"Dih... Citu caja tali. Delek tok ajak-ajak," ucap Alan yang langsung beringsut tubuhnya mendekati sang bunda.


"Menyebalkan sekali cucumu itu, pa. Ingin rasanya Andre buang ke jurang," ucap Andre yang mengadu pada Papa Reza.


"Nanti nanis talo tehilanan Alan," ucap Alan dengan percaya dirinya.


Andre yang begitu gemas pada Alan pun langsung mendekatinya. Bahkan kini Alan langsung dipeluk Andre erat dan menggendongnya. Saking gemasnya, Andre sampai memeluk erat dan tak memperhatikan kalau Alan kesal.


"Mati nih atu talo dipeluk tayak dini telus," seru Alan.

__ADS_1


"Papa, anaknya jangan dipeluk kencang gitu. Sesak itu nantinya," tegur Nadia.


Andre pun segera melonggarkan pelukannya dari Alan. Terlihat kalau Andre hanya cengengesan di depan anaknya yang wajahnya sudah memerah. Bahkan Alan segera saja menghirup udaranya dengan begitu rakus.


Andre segera saja menurunkan anaknya dari gendongan. Alan pun langsung mendekat pada Arnold yang mengelus lembut wajah juga punggungnya. Arnold tahu kalau adiknya itu melakukan hal konyol seperti itu karena tak ingin ada kesedihan yang melanda pada keluarganya.


"Oh ya... Ndre, mamamu kemana? Kok nggak ikut jengukin papa," tanya Papa Reza memecah keheningan di antara semua.


Andre yang mendengar pertanyaan dari papanya itu langsung saja menatap pada istrinya. Ia tak ingin kalau sampai kondisi papanya tidak stabil karena mendengar berita buruk. Sedangkan Alan langsung mendekat kearah kakeknya sambil memberi ketenangan.


"Emm... Mama lagi di ruangan sebelah, pa. Dia masih sakit," ucap Andre dengan hati-hati.


"Astaga... Papa kira kejadian itu hanya membuat papa saja yang terluka. Tapi mama juga," ucap Papa Reza yang tatapannya menjadi sendu.


"Akek dangan nanis. Nenek tuh cuma ladi tidul caja. Dia baik-baik caja," ucap Alan mencoba menenangkan Papa Reza.


Papa Reza menganggukkan kepalanya. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena dia yang ceroboh membuat istrinya sekarang tengah tak sadarkan diri. Ia tak bodoh dengan maksud ucapan anak dan cucunya yang mengatakan kalau istrinya sedang istirahat. Pasti ada hal yang membahayakan sehingga istrinya sampai sekarang belum bangun.


"Bisa antar papa ke sana?" tanya Papa Reza dengan tatapan penuh harap.


"Nanti sore ya, pa. Papa itu baru sadar semalam lho, biar nanti diperiksa dulu semua kondisinya. Persiapkan juga mental papa," ucap Andre mencoba mengulur waktu.


"Iya," jawab Papa Reza singkat.


Alan langsung merentangkan kedua tangannya pada papanya yang berada di sampingnya itu. Andre mengambil Alan kemudian meletakkannya di samping Papa Reza. Alan langsung memeluk Papa Reza yang kini tengah melamun.


"Cini... Cini... Akek bobok caja. Akek halus itilahat yang banak bial cegela cembuh dan ulang ke lumah. Di cini Alan binung talo mau kelual, cemuana patek bahaca yang ndak atu ngelti." ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Bahkan Alan langsung saja mengelus lembut pipi Papa Reza dengan lembut. Papa Reza begitu terkesiap dengan perlakuan Alan padanya. Alan yang selalu ribut dengan istrinya kalau bertemu itu terlihat dewasa sikapnya walaupun ucapannya sangat berbanding terbalik.


"Makanya sekolah yang benar, Alan. Biar kamu bisa pakai bahasa inggris. Sekolah aja bolos terus kok mau bisa pakai bahasa itu," sindir Nadia.


"Wah... Cucu kakek ini suka bolos sekolah? Gimana mau pintar ini?" ucap Papa Reza sambil terkekeh pelan.


"Bocan atu, kek. Cekolahna ditu-ditu caja. Napa ndak diajali tembak-tembakan cama main pitol tayak Pak polici?" ucap Alan.


Papa Reza yang memang tak mengetahui mengenai kejadian Abel pun langsung kebingungan. Cucunya tertarik dengan hal-hal ekstrim seperti ini pasti karena ada suatu kejadjan yang tak ia tahu. Sontak saja Papa Reza segera membenahi posisi duduknya untuk mendengar cerita Alan.


"Kenapa kamu malah mau belajar tembak-tembakan kaya Pak polisi, Alan? Itu bahaya lho kalau nggak diawasi sama yang profesional," ucap Papa Reza.


"Iya, bayaya. Api Alan ingin bica, kek. Boleh tan ya talo Alan belajal itu? Alan ingin bica melinduni cemuana dali olang dahat," ucap Alan dengan antusias.


"Nggak ada orang jahat di dekat kita, Alan. Kalaupun ada, pasti orang itu sudah hilang sama papamu." ucap Papa Reza.


"Ndak, papa mah payah. Butina Kak Bel cakit dan ndak ada yang melindunina," ucap Alan kekeh dengan keinginannya.


Mendengar ucapan Alan itu Papa Reza langsung melihat kearah anaknya yang tatapannya berubah sendu. Andre masih merasa bersalah karena dirinya tak bisa melindungi semua keluarganya. Di saat Abel sakit, justru fokusnya pada kedua orangtuanya.


"Baiklah, besok kalau kakek sudah sembuh langsung cari pelatih yang profesional untuk Alan ini. Yang penting kalau sudah bisa, jangan menggunakannya untuk kejahatan." ucap Papa Reza memberi pesan.


"Alan kan nanak baik. Alan atan mendunakan kemamuan Alan ini buat antu olang banak," ucap Alan dengan yakin.


Papa Reza begitu bangga dengan cucunya ini. Pikirannya sudah tertuju untuk melindungi keluarganya. Ia yakin ada peristiwa besar dibaliknya sehingga Alan bisa berpikiran seperti ini. Papa Reza nanti yang akan menginterogasi anaknya agar bisa menceritakan semuanya.


Kini Papa Reza memutuskan untuk tidur dengan Alan yang berada di sampingnya. Sedangkan Arnold, Anara, dan Abel sudah tidur sedari tadi. Andre mendekat kearah Nadia yang begitu terharu saat melihat Alan yang mau menjaga keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2