Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Sadar


__ADS_3

"Mama..." seru Andre dengan nata berkaca-kaca.


"Nenek..." panggil Arnold sambil mengelus kaki Mama Anisa.


Perlahan mata Mama Anisa terbuka dengan pelan. Bahkan Alan yang melihatnya begitu takjub dan tak lepas menggenggam tangan Mama Anisa. Ia ingin saat neneknya ini sadar, Mama Anisa langsung melihat dirinya.


Bahkan saat Andre ingin mendekat kearah wajah Mama Anisa, langsung ditendang kakinya oleh Alan. Andre tak berani memarahi Alan yang sudah melotot tajam kearahnya. Apalagi anaknya itu memang yang paling banyak berkontribusi dalam sadarnya sang mama.


"Wah... Nenek angun. Dah ndak nantuk lagi, nek? Talo macih nantuk, tidul ladi dih." ucap Alan yang malah menyuruh Mama Anisa kembali tidur.


"Jangan ngada-ngada kamu tuh, dek. Nenek baru bangun lho, masa iya tidur lagi." kesal Arnold.


Penantian mereka tentang sadarnya Mama Anisa adalah hal yang paling ditunggu. Namun malah Alan kini menyuruh tidur kembali. Mengesalkan sekali adiknya itu. Alan juga tak menggubris ucapan Arnold karena terlalu senang dengan sadarnya Mama Anisa.


"Air..." ucap Mama Anisa pelan.


"Nenek mau ail? Ail klan apa ail laut, nek?" tanya Alan membuat Andre melotot tak percaya.


Anaknya ini bercanda dalam kondisi yang tidak tepat sekali. Bahkan Mama Anisa hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Alan. Tenggorokannya begitu kering dan ingin segera minum. Andre yang mengerti kalau mamanya kehausan pun langsung mengambil gelas berisi air mineral di dekat brankar.


Tak lupa Andre memencet tombol panggilan dokter dan suster agar memeriksa keadaan Mama Anisa. Andre juga langsung membantu mamanya minum dengan sedotan. Arnold menarik tangan Alan agar menjauh karena papanya yang ingin memberikan air minum pada sang nenek.


"Ish... Main ucil-ucil Alan caja," gerutu Alan yang kesal dengan papanya.


***


"Bagaimana, dok?" tanya Andre penuh harap.

__ADS_1


Mereka semua kini tengah berada di luar ruangan khusus itu. Bahkan Papa Reza juga berada di sana dengan duduk di kursi roda. Sedangkan Mama Anisa dibiarkan istirahat dulu setelah diperiksa.


"Keajaiban Tuhan. Nyonya Anisa kondisinya sudah stabil. Kita akan lihat selama 6 jam ke depan, kalau memang tak ada masalah apapun segera kami pindahkan ke ruangan biasa." ucap dokter itu.


Semuanya menghela nafasnya lega karena mengetahui kondisi Mama Anisa yang perlahan membaik. Walaupun mereka harus menunggu sampai 6 jam ke depan untuk dilakukannya observasi. Apalagi Nadia yang sudah rindu dengan mertuanya itu.


"Kalau bisa, satu ruangan dengan saya. Biar anak dan menantu saya kalau mau jaga bisa sekalian," ucap Papa Reza.


"Alacan caja akek ini. Mauna dua-duaan cama nenek telus pati," tuduh Alan.


"Iri ya? Makanya cepat gede," ucap Papa Reza yang kini malah meledek cucunya.


Alan hanya bisa mendengus kesal dengan ledekan dari kakeknya itu. Kalau bisa sih, dia ingin segera cepat besar agar tak perlu sekolah lagi. Apalagi harus bermain seperti anak kecil lainnya. Dokter dan perawat segera pergi dari sana setelah memberikan hasil pemeriksaan.


Sedangkan Andre segera membawa papanya masuk dalam ruangan lagi. Semuanya ikut ke ruangan Papa Reza untuk istirahat. Mengingat sekarang jam sudah menunjukkan waktu sore hari. Mereka akan istirahat dan mandi sebentar kemudian makan malam bersama.


***


"Nenek, tangen ndak cama Alan ini? Pati tangen tan? Watu tidul itu, temu Alan di mimpi ndak?" tanya Alan beruntun saat keesokan paginya.


"Nggak tuh," ucap Mama Anisa dengan suara yang pelan.


Mama Anisa memang masih lemas, bahkan setiap dua jam sekali pasti akan langsung tidur kembali. Alan yang mendengar ucapan Mama Anisa itu hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal. Padahal ia sudah sangat berharap untuk dimimpikan oleh neneknya.


"Ndak cuka Alan dengalna. Cunduh nenek ndak belpelikenenekan," ucap Alan mendramatisir.


"Cucuku kan hanya Arnold, Anara, dan Abel tuh." ucap Mama Anisa sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Alan cucu ndak diandap. Kacian cekali tamu tuh, Alan. Cali nenek balu aja yuk," ucap Alan yang berbicara pada dirinya sendiri.


Hahahaha...


Mereka semua yang ada di ruangan itu tertawa karena mendengar celotehan Alan. Ruangan yang begitu ramai dengan celotehan Alan yang menghibur. Diam-diam, Alan tersenyum begitu manis karena keluarganya kini berkumpul kembali. Ingin rasanya Alan menangis haru, namun ia malu. Pasti semua orang akan meledeknya habis-habisan karena menangis itu.


"Nenek, tok tidul ladi cih? Ndak cuka atu nih," protes Alan yang melihat neneknya akan memejamkan matanya kembali.


"Biarkan saja, Alan. Nenek kan mau istirahat, badannya masih lemas lho." tegur Nadia pada anaknya itu.


Pasalnya Mama Anisa yang tadinya mau memejamkan mata malah membukanya kembali akibat seruan Alan. Mama Anisa juga ingin untuk tak tidur dan bercanda dengan cucunya, hanya saja badannya masih lemah. Bahkan setelah meminum obat pasti ia akan tertidur.


"Napa cih? Alan mau najak main lompat tali lho ini," ucap Alan dengan asal.


"Mana bisa nenek main lompat tali? Kakinya aja masih lemas gitu," kesal Nadia dengan anaknya itu.


"Didendong papa dong. Ditu caja tok ndak nelti," ucap Alan sewot.


Nadia hanya bisa menghela nafasnya sabar menghadapi anaknya yang menyebalkan ini. Apalagi melihat sikap Alan yang ternyata bersumbu pendek seperti Andre. Baru ngomong sedikit saja sudah emosi dan mengomelinya. Astaga... Duplikat Andre sebelum menikah dengan Nadia tercipta pada Alan.


"Heh... Kalian ini pada ngeributin apa sih? Noh... Orang yang kalian ributin sudah masuk alam mimpi," ucap Andre menyela perdebatan keduanya.


"Aish... Menebaltan. Alan mau itut tidul cajalah talo ditu," ucap Alan yang langsung merebahkan dirinya di atas karpet.


"Nah... Lebih baik kamu tidur saja, dek. Berisik soalnya. Ini kakak lagi sekolah online, kamu ganggu." ucap Arnold.


"Cok pintal abang Anol tuh. Napain cekolah, bitin bolos wuwang." ucap Alan dengan cuek.

__ADS_1


Alan yang memang malas berdebat dengan Arnold pun memilih tidur. Alan juga diberi tugas secara online kemudian nanti difoto dan dikirim pada guru untuk hasilnya. Namun yang namanya Alan, dia malas mengikuti perintah dari gurunya itu.


Setiap kali dihubungi oleh gurunya untuk diberi tugas, pasti Alan akan langsung pura-pura tidur atau menyibukkan diri. Alhasil... Ia tak pernah mengerjakan tugas yang diberikan. Guru pun memakluminya, apalagi sudah tahu bagaimana tingkah Alan itu. Di sekolah saja tak mau mengerjakan, apalagi ini di luar tanpa diawasi guru.


__ADS_2