
"Lan, nih rokok." Ucap salah satu teman satu gengnya dengan melemparkan sebungkus rokok padanya.
Alan mempunyai suatu geng di sekolahnya, yang terdiri dari empat orang laki-laki termasuk dirinya. Naven Adikara, Yusri Nibait, dan Lucas Diwanda merupakan tiga teman satu gengnya. Sifatnya sama-sama tengil, kecuali Lucas yang memang pendiam dan lebih dewasa.
"Sorry bos, gue nggak ngerokok. Takut diambil paru-parunya nanti sama Allah," ucap Alan sambil mengelus dadanya.
"Jangan nyuruh orang mengikuti gaya hidup loe, Naven. Setiap orang punya pilihan masing-masing untuk tidak melakukan tindakan itu," ucap Lucas memberi pesan.
"Iya elah, ini gue juga cuma bercanda. Lagian kemarin Alan tanya rasa rokok itu gimana, makanya tak kasih." Ucap Naven membela diri.
Sebenarnya Naven hanya bercanda saja dan tak berniat untuk mengajak temannya itu ikut merokok. Pasalnya Naven juga tahu kalau Alan itu hanya tengil sikapnya dan ucapannya pedas. Kalau untuk pergaulan, Alan sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
"Ven, emang loe nggak takut itu paru-parunya diambil sama Allah? Waktu lagi gini," tanya Alan dengan usilnya.
"Jangan nakut-nakutin dong, Lan." Kesal Naven kalau temannya itu sudah mulai berceramah.
"Gue nggak nakut-nakutin elah. Cuma nanya gitu doang," jawab Alan dengan santai.
Setelah mendengar ucapan Alan yang menohok hatinya itu, segera saja Naven mematikan puntung rokoknya. Ia berjanji tidak akan merokok jika berada di depan Alan. Yusri hanya bisa terkekeh pelan melihat wajah pasrah temannya itu.
***
"Ayo masuk kelas. Jangan sering bolos, nanti dapat surat cinta dari Bu Pur." Ajak Lucas pada ketiga temannya.
"Malaslah Alan ini. Lagian mau masuk atau enggak, nilai Alan paling tinggi di sekolah ini." Ucap Alan dengan bangga.
Semua guru dan teman-temannya juga heran dengan Alan. Pasalnya ia seringkali bolos pelajaran, namun setiap mendapatkan nilai selalu mendapatkan peringkat tertinggi. Bukan hanya tertinggi di kelasnya, namun satu angkatan di sekolah itu.
"Sombong..." seru Naven, Yusri, dan Lucas secara bersamaan.
Bahkan ketiganya langsung saja berjalan pergi meninggalkan Alan. Sedangkan Alan yang ditinggal sendirian pun memilih untuk mengikuti teman-temannya. Sebenarnya ia malas kalau harus masuk kelas karena pasti akan disindir oleh guru-guru yang mengajar.
__ADS_1
***
"Aduh... Tumben sekali anak gantengnya ibu sudah duduk rapi di kelas. Biasanya nongkrong dulu di kantin," ucap salah satu guru saat memasuki kelas, Ibu Neni.
Ibu Neni sedikit terkejut dengan adanya Alan dan ketiga temannya yang sudah duduk di kelas. Tadi saat upacara saja keempatnya sama sekali tak kelihatan. Alan sudah biasa kalau disindir begitu, walaupun dalam hati kesal juga.
"Iya nih, bu. Sedang dapat hidayah untuk masuk kelas," jawab Alan dengan senyumannya.
"Dapat hidayah atau takut dapat surat cinta lagi?" Tanya Ibu Neni.
"Kasihan Bu Pur, sudah tua masih harus kasih surat cinta terus sama kamu." Lanjutnya.
"Iya, kasihan sekali. Mana seringkali surat cintanya itu Alan abaikan lagi. Laki-laki tampan kaya Alan ini memang cocok kalau dapat surat cinta dari banyak orang," ucap Alan dengan santainya.
Ibu Neni mendengus kesal dengan ocehan Alan. Padahal itu sebuah sindiran agar Alan tak berulah hingga mendapatkan surat cinta alias surat panggilan dari sekolah. Namun Alan malah merasa santai saja dengan sindiran itu untuk menanggapinya.
Ibu Neni memilih untuk tak menggubris ocehan Alan dan segera memulai materi yang akan diajarkannya. Selama pelajaran, Alan dan ketiga temannya sama sekali tak mengganggu yang lainnya. Mereka akan diam, walaupun tak mendengarkan penjelasan guru.
***
"Aku harus jemput adikku," jawab Arnold dengan singkat.
Bahkan Arnold menjawab pertanyaan dari Kenny itu tanpa mengalihkan pandangannya. Arnold sedang sibuk membereskan bukunya untuk dimasukkan dalam tas. Jam pelajaran telah usai, teman-temannya mengajak dia pergi ke mall.
"Ajak saja adikmu itu," ucap Kaka, teman satu kelas Arnold.
"Iya, Arnold. Ajak saja adikmu itu. Pasti adikmu itu lucu kan? Bisalah buat hiburan kita-kita," ucap Dania.
Beberapa teman sekelas Arnold dimulai dari yang cowok hingga cewek, mereka ingin berteman dekat dengan laki-laki itu. Namun Arnold sangat membatasi pergaulannya. Ia hanya mau diajak ke kantin untuk makan bersama.
Selain itu, Arnold akan menolaknya. Ia hanya ingin berinteraksi di sekolah saja, sedangkan di luar itu memilih menjadi anak rumahan. Melihat teman-temannya yang mengajak pergi pun membuatnya hanya bisa menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
"Maaf, tapi saya tidak bisa. Lagi pula adikku itu tak seperti apa yang kalian bayangkan," jawab Arnold.
"Ayolah, lagian kita jalannya bareng-bareng. Masa cuma sekali diajak gitu aja nggak mau sih," ucap Kaka yang sebenarnya kurang suka dengan sikap Arnold itu.
"Iya, ikut aja ya. Masa kita udah 2 tahun lebih kenal nggak pernah jalan keluar sama-sama. Kita nggak akan aneh-aneh kok," ucap Dania.
Desakan terus menerus dilayangkan oleh teman satu kelas Arnold. Tiga siswa dan dua siswi berusaha terus membujuk Arnold. Laki-laki beranjak remaja itu bimbang, pasalnya nanti ia harus menjemput Alan sekalian.
"Baiklah, aku ikut tapi jemput adikku dulu." Putus Arnold.
Mereka bersorak senang mendengar keputusan dari Arnold itu. Akhirnya mereka berenam keluar dari kelas dengan senyum yang mengembang, kecuali Arnold yang wajahnya biasa saja. Ia sama sekali tak antusias, apalagi nanti ada Alan yang bisa saja membuat ulah.
***
"Alan..." panggil Arnold pada adiknya yang tengah duduk menunggu di pos satpam sekolahnya.
"Lama amat sih, bang." Kesal Alan dengan raut wajah lelahnya.
"Jangan berisik, ayo buruan." Ajak Arnold.
Alan pun hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah kakaknya itu. Alan segera saja duduk membonceng abangnya. Ia sampai tak sadar kalau di sana ada beberapa teman abangnya yang menunggu.
"Lho... Kok ini bukan jalan kearah rumah, bang?" Tanya Alan yang bingung dengan jalanan yang dilewatinya.
"Kita ke mall dulu. Temani abang ke sana sama teman-teman abang tuh," ucap Arnold denvan sedikit melirik kearah spionnya.
Sontak saja Alan mengalihkan pandangannya kearah belakang. Alan baru menyadari kalau di belakang motor abangnya itu ada beberapa orang berseragam SMA yang mengikuti.
"Huh... Pantas saja abang mau ke mall. Pasti dipaksa kan sama mereka? Awas saja mereka kalau mengusili abang dengan suruh bayar semua belanjaan," ucap Alan yang sudah berpikiran buruk tentang teman-teman abangnya itu.
"Nggak akan mereka memanfaatkan abang. Kalau sampai itu terjadi, abang kerjain balik." Ucap Arnold.
__ADS_1
Alan akan terus mengawasi teman-teman sekolah abangnya itu. Ia takkan membiarkan abangnya dimanfaatkan oleh mereka. Akan Alan usili nanti kalau sampai mereka mengganggu kehidupan abangnya. Alan yang tak pernah melihat abangnya mengajak teman-teman sekolahnya bermain pun pasti memiliki pikiran yang buruk.