Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Aksi Alan 2


__ADS_3

Ternyata beberapa oknum yang masih perlu dididik itu ingin menyerang Nadia yang sedari tadi diam. Padahal diamnya Nadia itu karena ingin melihat situasi yang tercipta di sana. Tentunya Nadia takkan pernah membiarkan anak-anaknya terluka sehingga memilih diam terlebih dahulu.


Mereka melayangkan pukulan dan mengeroyok Nadia karena melihat wajahnya yang terlihat seperti perempuan yang lemah. Namun bukannya pukulan yang didapatkan oleh Nadia, namun salah satu dari mereka. Ternyata saat salah satu diantara mereka melayangkan pukulan, Nadia dengan sigap menarik rekannya. Sehingga rekan dari merekalah yang kena pukulan pada bagian kepalanya.


Semua anak-anak berteriak memanggil bundanya karena takur kalau Nadia akan kenapa-napa. Namun dugaannya salah, justru Nadia malah baik-baik saja. Mereka semua yang ada di sana menghela nafasnya lega.


"Seharusnya yang masih magang seperti ini diawasi saat praktiknya, jangan dibiarkan jalan sendiri. Mereka juga pasti butuh bimbingan dari orang yang berpengalaman. Ini dari pihak kampusnya juga harus bertanggungjawab atas kelakuan anak didiknya," seru Nadia sambil menunjuk kearah satu orang yang kini masih mengerang kesakitan karena kepalanya kena pukul.


Semua yang ada di sana menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Nadia. Pihak kampus yang menerjunkan juga harus bertanggungjawab karena sebelumnya memang Nenek Hulim tak merasa menandatangani suarat persetujuan.


"Apa alasan kalian sekarang sampai memukul cucuku?" tanya Nenek Hulim pada dua orang yang terlihat pada video CCTV itu.


Bahkan Nenek Hulim juga langsung mendekat kearah dua orang yang tengah menundukkan kepala. Mereka menundukkan kepala bukan karena merasa bersalah, namun takut kalau wajahnya dikenali. Nadia dengan sigap berdiri di belakangan Nenek Hulim agar tak ada yang bisa melukai wanita tua itu.

__ADS_1


"Aku tahu kalau kalian ini yang telah melukai cucuku. Kalian berdua juga merupakan anak dari salah satu guru yang ada di sini kan? Oh jangan lupakan kalau dua orang oknum guru itu menginginkan posisi yang strategis di sekolah ini. Apa mungkin kalian melakukan ini karena ingin melengserkan kepala sekolah di sini? Agar kepala sekolah disalahkan lalu diturunkan jabatannya, bukankah begitu?" tanyanya sambil menyeringai sinis.


Tentu saja fakta yang baru saja mereka dengar itu membuat semuanya terkejut. Mereka semua tak ada yang tahu mengenai asal usulnya dengan jelas terutama tentang keluarganya. Bahkan kini sudah jelas bahwa semua tujuan utama mereka memang ingin melengserkan kepala sekolah agar citranya mengurus sekolah ini dianggap tak benar karena adanya kasus pembullyan.


Bahkan kedua pelaku yang semulanya menunduk kini langsung menegakkan kepalanya. Mereka seakan menantang semua orang yang ada di sana dengan tatapan meremehkan. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana benar-benar geram, terutama Andre.


"Kalian... Jangan harap keluar dari ruangan ini dengan wajah yang utuh," ucap Andre sambil menatap dengan tatapan penuh kebencian.


Nadia begitu gemas dengan apa yang dilakukan oleh Alan itu. Bahkan sedari tadi Alan sama sekali tidak takut dengan orang-orang yang sudah melukai kakaknya itu. Dengan didampingi oleh Frank, Alan mendekat kearah mereka semua.


"Talin cudah melutai Kak Bel. Angan halap talian bica lali dali Alan," ucapnya sambil menatap tajam kearah keduanya.


"Mana polici? Embak tepala meleta bial olong," lanjutnya.

__ADS_1


Sontak saja beberapa orang yang memang tak mengetahui mengenai kehadiran dari pihak yang berwajib pun begitu terkejut. Saking terkejutnya, dua orang pelaku bahkan langsung menunjukkan raut wajah paniknya. Mereka dengan segera menarik tangan Alan yang kini berdiri di dekat meja.


"Alan" seru Nadia dan Andre yang terkejut karena anaknya berada di tangan kedua pelaku.


Bahkan Frank yang masih sibuk mengamati pergerakan dari kedua pelaku pun langsung tersentak kaget. Ia merasa kecolongan karena Alan kini malah berada di tangan mereka. Nadia dilanda kekhawatiran yang luar biasa, terlebih kedua pelaku memegang bahu Alan dengan eratnya.


Sedangkan Alan yang disandera seperti masih tenang-tenang saja. Bahkan raut wajahnya tak panik dan takut sama sekali dengan bahaya yang mengancamnya. Sedangkan kedua pelaku tampak tersenyum penuh kemenangan.


Cialan...


Bugh...


Alan...

__ADS_1


__ADS_2