Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Hilang


__ADS_3

"Bunda ke kamar mandi dulu ya. Nanti hubungi bunda kalau abang sudah dipindahkan ke ruang ICU," ucap Nadia sambil tersenyum tipis kearah kedua anak perempuannya itu.


"Biar Abel antar, bunda." ucap Abel dengan rasa sedikit gelisah yang begitu kentara.


"Nggak usah, nak. Kasihan Anara, nanti sendirian di sini. Lagi pula kamar mandinya juga nggak jauh kok," ucap Nadia.


Akhirnya Abel menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun dalam hatinya, Abel ragu dengan keputusannya membiarkan bundanya pergi sendiri ke kamar mandi. Ia gelisah, seakan khawatir kalau Nadia akan meninggalkannya.


Nadia pun langsung saja berjalan pergi dari hadapan Anara dan Abel. Sekilas, Nadia memandang intens keduanya seakan menyiratkan sesuatu. Nadia segera saja pergi menuju sebuah kamar mandi. Bukannya berjalan kearah ke kamar mandi, namun ia menuju sebuah jalan sempit keluar dari rumah sakit.


***


Sudah satu jam sejak Arnold dipindahkan ke ruang ICU, namun Nadia sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Bahkan Mama Anisa yang tadinya mencoba tenang kini malah panik. Ia yakin kalau terjadi sesuatu dengan Nadia.


"Abel, Anara... Kalian yakin kalau Bunda Nadia ke kamar mandi?" tanya Mama Anisa.


"Yakin, nek. Tadi kami lihat sendiri kok kalau bunda jalan kearah kamar mandi yang ada di dekat IGD," jawab Anara penuh keyakinan.


"Tapi Abel nggak yakin soalnya gerak-gerik bunda tuh kaya gimana gitu. Seakan memikirkan sesuatu dan tadi tatapannya sempat mengarah pada kami," ucap Abel tiba-tiba.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Abel itu, sontak saja membuat Mama Anisa terkejut. Bahkan Anara yang tadinya berwajah tenang langsung panik. Sedari tadi pesannya juga tak kunjung terkirim dan hanya menunjukkan centang satu.


"Biar nenek cek ke kamar mandi," ucap Mama Anisa.

__ADS_1


Mama Anisa langsung saja pergi dari depan ruang ICU dan mencari keberadaan Nadia. Apalagi sampai sekarang Andre dan Papa Reza juga belum memberi kabar dengan keadaan Alan. Hal ini membuat semua pikirannya menjadi campur aduk.


"Nadia, mama mohon jangan tinggalkan kami. Walaupun kamu hanya menantuku, mama sudah menganggapmu sebagai anak. Bahkan rasa sayangku padamu melebihi Andre yang notabene adalah anakku sendiri," gumam Mama Anisa dengan perasaan cemasnya.


Beberapa kamar mandi sudah diperiksa oleh Mama Anisa, namun tak kelihatan juga jejak Nadia. Pikiran buruknya semakin membuatnya kalut, apalagi cucu bungsunya juga belum ada kabar.


"Kenapa keluargaku jadi kaya gini? Ini semua gara-gara Andre. Memang dasar ya tuh anak, ingin sekali rasanya ku geprek tuh laki satu. Dari dulu kok nggak berubah. Kontrol emosi... Kontrol emosi..." gemasnya sambil meremat kedua telapak tangannya.


Mama Anisa berhenti mencari keberadaan Nadia. Ia yakin kalau Nadia tak berada di kamar mandi. Apalagi ini sudah satu jam berlalu, tak mungkin selama itu Nadia berada di sana. Apalagi tadi ia sudah melewati kantin dan beberapa tempat juga tak berhasil menemukannya.


"Apa Nadia memilih pergi sama Alan? Atau menantuku itu hilang?" gumamnya yang langsung berlari menuju ruang ICU.


Saat sampai di depan ruang ICU, di sana sudah ada Papa Reza dan Andre yang wajahnya kelihatan sangat kelelahan. Apalagi wajahnya basah dengan keringat. Namun saat melihat sekeliling, tak ada kehadiran Alan di sana.


"Kami tak berhasil menemukan Alan. Saat kami keluar dari rumah sakit ini, jejak Alan sudah hilang. Kami sampai mencari dengan mobil dan motor ke area sekitar rumah sakit namun tak ketemu juga," ucap Papa Reza sambil mengacak rambutnya frustasi.


"Lalu dimana Nadia? Tadi kata Anara, mama mencari Nadia yang belum kembali sejak satu jam yang lalu," tanya Andre dengan raut wajah yang biasa saja.


"Istrimu hilang. Mama sudah mencarinya ke kamar mandi, area rumah sakit, kantin. Tapi nggak ada semua," seru Mama Anisa yang langsung panik saat mengingat tentang menantunya.


Sontak saja Anara, Abel, dan Papa Reza terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Mama Anisa. Abel langsung memeluk Anara karena ternyata kecemasannya itu memang benar adanya. Rasa takut kalau Nadia meninggalkannya kini terbukti benar.


"Mama bagaimana sih? Sudah dibilang buat jaga Nadia aja nggak bisa." ketus Andre.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Ini semua gara-gara kamu tahu. Kalau kamu bisa kontrol emosi, pasti Alan dan Nadia nggak akan hilang. Mereka pasti pergi ninggalin kamu karena nggak kuat lagi hidup bersama orang emosian seperti kamu itu," ucap Mama Anisa tak kalah tajamnya.


Sepertinya Andre memang perlu sesuatu untuk menyadarkannya. Bahkan saat kehilangan sang istri, bukannya sadar namun malah menyalahkan oranglain. Mama Anisa melengos setelah mengucapkan hal itu kemudian duduk di samping suaminya.


"Papa, lapor polisi. Kalau perlu laporin aja tuh Andre karena melakukan kekerasan pada anaknya hingga mengakibatkan istri kabur. Penjaranya kalau bisa seumur hidup," ucap Mama Anisa.


Andre merasa bodo amat dengan apa yang diucapkan mamanya. Hatinya masih sekeras batu bahkan sangat sulit merobohkannya. Bahkan kini Andre langsung saja duduk di samping kedua anak perempuannya yang saling berpelukan.


"Jangan cengeng. Kita masih bisa hidup tanpa bunda dan adikmu itu," ucap Andre sambil melihat kearah pintu ruang ICU.


"Papa nggak punya hati. Istri dan anaknya pergi tapi malah santai-santai juga merasa nggak bersalah kaya gitu," ucap Anara yang kemudian mengajak kakaknya duduk di sebelah Mama Anisa.


Papa Reza dan Mama Anisa sedari tadi sibuk menghubungi Ridho juga teman-teman Alan. Papa Reza minta tolong pada teman-teman Alan agar mencari keberadaan cucunya di tempat tongkrongannya. Sedangkan ia dan Andre harus segera kembali ke rumah sakit untuk memastikan keadaan keluarganya yang lain.


Bukannya ia tak peduli dengan Alan, hanya saja ia kesal dengan gerutuan Andre yang menginginkan segera kembali ke rumah sakit. Ia juga merasa ada sesuatu yang membuatnya khawatir. Ternyata benar firasatnya, Nadia menghilang.


"Nenek, bagaimana ini? Apa Abel dan Anara sekarang pergi cari Alan juga bunda?" tanya Abel dengan tatapan sendunya.


"Tidak usah dicari. Nanti juga balik sendiri kalau kelaparan dan nggak punya uang," ucap Andre dengan ketus melarang kedua anaknya pergi.


"Dipikir Alan dan Nadia anak kecil yang bisa balik karena hal itu. Dasar bodoh..." ucap Papa Reza dengan ketusnya.


Andre melengoskan wajahnya dari tatapan-tatapan tajam dari keempat orang yang ada di sana. Apapun yang diucapkan oleh Andre akan salah di mata mereka. Sehingga Andre sekarang memilih diam dan menunggu Arnold saja.

__ADS_1


Mama Anisa langsung memeluk kedua cucu perempuannya itu dengan kasih sayang. Ia tak ingin kalau sampai cucunya itu kembali trauma akan masa lalu. Apalagi jika nanti Arnold sadar dan tak melihat Nadia juga Alan. Pasti akan semakin runyam keadaannya.


__ADS_2