Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Rapat


__ADS_3

Rapat sekolah yang dihadiri oleh beberapa pengurus yayasan dan dewan guru itu berlangsung mencekam. Terlebih Nenek Hulim bahkan sudah memerintahkan dengan tegas Frank untuk mengusut tuntas adanya beberapa uang dan biaya administrasi yang ada selama pergantian kepala sekolah.


Semua dibuat ketar-ketir, terlebih kini pihak kampus juga seakan menjadi tersangka akibat dari ulah mahasiswanya. Di sana ada pihak berwajib yang akan menengahi dan menjaga kasus ini. Seperti yang diketahui sebelumnya, kalau tak ada yang melaporkan kasus pembullyan itu dari pihak sekolah.


"Jadi saya minta untuk pihak kampus, silahkan lampirkan bukti kalau memang sudah memenuhi persyaratan administrasi yang diminta sekolah ini." ucap Nenek Hulim.


"Dan untuk kepala administrasi sekolah, tunjukkan semua bukti mengenai dana yang ditransfer oleh pihak kampus. Jangan lupakan tentang surat-surat dari kampusnya." lanjutnya sambil menyeringai sinis.


Dalam waktu dua jam sebelum rapat, Frank sudah menemukan banyak bukti mengenai mahasiswa magang yang ada di sekolah ini. Terlebih sesuai aturan yang diberlakukannya, tak boleh ada mahasiswa magang di sekolah ini. Bukannya sombong, namun ini demi mempertahankan kualitas sekolah ini.


Dengan tangan gemetarnya, pihak administrasi sekolah menyerahkan bukti transfer uang dari kampus. Bahkan di sana juga ada pembagian uang yang ditransfer ke beberapa orang. Frank berhasil menekan pihak administrasi untuk menunjukkan buku tabungan fiktif yang dimiliki sekolah ini.


"Ini buku tabungan sekolah kapan? Kok saya baru melihatnya. Perasaan yang dulu itu buku tabungannya berwarna biru, ini kok jadi kuning," tanya kepala sekolah sambil menunjuk kearah buku tabungan yang ada di atas meja.


"Mungkin itu buku tabungan khusus untuk beberapa orang saja, pak. Kasihan sekali bapak, sebagai kepala sekolah tapi nggak diajak." ungkap Nenek Hulim sambil terkekeh pelan.


Itu hanyalah sebuah sindiran yang ditujukan kepada orang-orang yang ternyata culas itu. Padahal gaji mereka dari sekolah ini sangat besar, namun masih saja ingin sesuatu yang lebih. Tentu saja ini termasuk tindakan korupsi dan Nenek Hulim akan memberantasnya.


"Kami juga mendapatkan surat persetujuan ini dari sekolah. Mengenai uang yang kami transfer itu, katanya untuk administrasi dan upah bimbingan dari guru di sini. Jadi bukan menyogok," ucap salah satu perwakilan kampus.

__ADS_1


Pihak kampus juga menyerahkan sebuah surat yang berisikan beberapa syarat mengenai mahasiswa magang yang bisa masuk sekolah ini. Nenek Hulim langsung membaca selembar kertas yang ada di atas meja itu. Matanya membelalak kaget karena isi sekaligus tandatangannya. Ia tak menyangka ada yang kembali menggunakan tandatangannya.


Bahkan syarat menjadi mahasiswa magang di sekolah ini harus membayar 40 juta. Walaupun sekolah pasti mendapatkan sesuatu, namun untuk sebanyak ini sepertinya sangat berlebihan. Walaupun sekolahnya tak menerima mahasiswa magang, namun seandainya diterima pun kemungkinan besar tak sebesar ini meminta biaya administrasinya.


"Siapa yang dengan berani-beraninya menggunakan tandatanganku tanpa persetujuan dariku?" seru Nenek Hulim.


"Dan siapa yang mengeluarkan surat juga persyaratan ini?" lanjutnya sambil menatap semua orang yang ada di sana.


Nenek Hulim menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ulah orang-orang yang selama ini dipercayainya. Pasalnya tak pernah ada orang yang mengingkari kepercayaannya selama ia menjabat di sini. Baru setelah adanya pergantian kepala sekolah yang baru itu sehingga ada kejadian seperti ini.


Frank berdiri kemudian menunjuk orang-orang yang berkontribusi besar dalam kejadian ini. Orang-orang yang ditunjuk itu tentunya langsung membelalakkan matanya terkejut. Mereka tak menyangka kalau Frank bisa mengetahui semuanya.


"Sepertinya mereka tengah kekurangan uang, nyonya. Buktinya dapar transferan atau bagian dari uang yang didapat dari hasil meras itu." ucap Frank dengan sinis.


Beberapa polisi yang akan membantu melakukan mediasi pun gagal. Pihak kampus tak bersalah walaupun harus bertanggungjawab atas kelakuan mahasiswanya. Mereka akan bertanggungjawab mengenai dua mahasiswa yang telah melukai Abel dan membantu biaya pengobatannya.


Sedangkan untuk semua orang yang terlibat langsung dipecat secara tidak terhormat. Bahkan Nenek Hulim telah mengajukan kepada dinas pendidikan agar nomor induk pendidik mereka langsung dicabut. Bahkan Nenek Hulim langsung menjebloskan pelaku, terutama dua mahasiswa magang itu ke penjara.


"Saya mohon, nyonya. Maafkan kami, kami melakukan ini agar seperti sekolah lainnya. Sekolah lainnya itu menerima mahasiswa magang dan justru malah dengan pemikiran anak muda kreatif itu bisa membuat sekolah ini maju lho," seru salah satu orang yang tak terima.

__ADS_1


"Kreatif? Buktinya, terlalu kreatif malah jadi bikin anak m orang tak sadarkan diri sampai beberapa hari," ketus Nenek Hulim yang menatap sinis orang itu.


Akhirnya beberapa pelaku langsung digiring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Tak ada ampun lagi bagi Nenek Hulim jika sudah menyangkut keluarganya itu. Bahkan teriakan permohonan karena mempunyai anak yang masih kecil pun tak diindahkan oleh Nenek Hulim.


"Bagi kalian yang masih ada di sini, jangan harap saya akan diam saja. Walaupun kalian tak terlibat langsung, tapi saya akan tetap memberi kalian teguran karena seperti acuh dan tak peka dengan keadaan sekitar. Ini sekolah kita, seharusnya kalian bisa tahu mengenai keanehan ini." ketus Nenek Hulim.


Bahkan Nenek Hulim segera saja berdiri kemudian keluar dari ruang rapat ini. Nenek Hulim meninggalkan semua orang yang berdiri mematung di sana. Padahal mereka tak tahu apa-apa, namun akibat kejadian ini jadi ikut disangkutpautkan. Mereka hanya bisa pasrah mengenai apa yang akan dilakukan oleh Nenek Hulim.


***


"Papa, nenek cama akek badaimana kabalna? Cehat tan?" tanya Alan pada papanya yang kini duduk di atas kursi sofa ruangan Abel.


"Sehat," jawab Andre dengan tenang.


Alan mengernyitkan dahinya heran karena jawaban yang dilontarkan oleh Andre itu. Pasalnya yang ia tahu kalau nenek dan kakeknya itu kecelakaan sehingga berpikiran kalau keadaannya sama parahnya dengan Abel.


"Talo cehat, napa ndak ulang cama papa ke cini? Woh... Angan-angan nenek dan atek ndak mau denguk Kak Bel ya?" tuduh Alan sambil menyipitkan matanya.


Andre yang mendengar hal itu gelagapan. Ia lupa kalau anaknya itu begitu kritis mengenai jawaban yang dilontarkan oleh seseorang itu. Andre langsung melirik kearah Nadia untuk membantunya memberi jawaban kepada Alan.

__ADS_1


"Bukan begitu, nak. Kakek dan nenek itu masih dalam pemulihan jadi nggak bisa pulang ke sini dulu. Tunggu sampai benar-benar sembuh dulu," ucap Nadia menjelaskan.


"Belalti papa ohong. Itu altina nenek dan atek macih akit. Ohong doca lho, papa. Cukulin anti dimalahin Allah," ucap Alan dengan menakut-nakuti Andre.


__ADS_2