
Para pelaku pengeroyokan Alan di sekolahnya itu sudah ditemukan dan mendapatkan sanksi dari sekolah. Namun Kaka dan Dania serta lainnya masih bisa bersekolah seperti biasa karena dia sudah kelas 3. Sebentar lagi beberapa ujian kelulusan akan segera dilaksanakan sehingga mereka tetap bisa bersekolah.
"Habis lulus sekolah ini, gue mau kabur ke luar negeri. Pasti keluarganya Arnold akan terus mengejar kita dan memasukkan dalam penjara sebelum kita mengaku bersalah," ucap Dania.
"Bodoh juga sih teman-teman kita itu. Masa iya ngaku kalau kita yang nyuruh," lanjutnya yang malah menyalahkan orang-orang yang disuruh mengeroyok Alan.
"Nggak usah nyalahin teman-teman gue. Mereka kaya gitu juga karena kita yang seakan cuci tangan sama masalah ini. Pasti mereka juga nggak mau di penjara," ucap Kaka yang membela teman-temannya.
Dania hanya bisa mendengus kesal melihat Kaka yang sekarang tampak tidak kompak dengannya. Akibat dari ketahuannya mereka sebagai dalang dari semua ini, orangtuanya memarahi dia. Bahkan uang saku juga dipotong karena mengakibatkan hubungan kerjasamanya dengan perusahaan Andre mengalami masalah.
"Oh ya... Kemarin aku dapat kiriman paket misterius. Apa kamu juga mendapatkannya?" tanya Dania.
"Ya. Bangkai cicak dan tikus dengan tulisan di kertas menyerah dan mengakulah," jawab Kaka dengan santai.
Sudah dua hari ini mereka mendapatkan teror dari seseorang yang misterius. Lebih tepatnya itu dari Andre melalui Bayu. Beberapa paket dikirim, bahkan rumah mereka juga ditaburi bunga mawar. Itu membuat mereka sedikit risih, apalagi surat-surat yang bertuliskan disuruh menyerah dan mengaku.
"Aku pusing. Kenapa sih harus ada teror kaya gitu? Apa mungkin itu dari keluarga Arnold? Kita lapor polisi yuk," ajak Dania pada Kaka.
"Ya sana kalau mau lapor polisi. Kita nggak ada bukti kalau keluarga Arnold yang melakukan ini. Ini sama saja tuduhan pencemaran nama baik," ucap Kaka sambil geleng-geleng kepala mendengar ide dari Dania.
"Kita itu seharusnya mendapatkan pengawalan. Bukan melaporkan semua teror ke polisi. Yang ada kita ditangkap, mana dah banyak bukti yang mengarah ke kita akibat pengeroyokan itu lagi." ucap Dania.
"Dih... Situ pejabat aja bukan, minta pengawalan." ucap Kaka dengan menyindir Dania.
Dania sudah dibuat frustasi dengan segala teroran itu. Apalagi keluarganya itu juga ikut kena imbasnya. Mereka menyalahkan Dania karena perbuatannya itu hidup mereka sama sekali tak tenang. Bahkan bisnis juga mulai goyah, membuatnya harus memikirkan cara agar keluarganya tak hancur.
***
"Ken, jenguk Arnold nggak? Agak aneh juga ya kalau nggak ada Arnold di kelas ini. Padahal Arnold jarang ikut kumpul, tapi kok ya tetap ngerasa ada yang berkurang gitu." ucap Malik, ketua kelas pada Kenny yang terlihat duduk sendirian sambil membaca buku.
__ADS_1
"Belum sadar. Mau jenguk ya nggak papa, kita ketemu keluarganya dulu." ucap Kenny yang ikut dengan teman sekelasnya.
Malik menganggukkan kepalanya mengerti. Malik segera saja memberi pengumuman di grup kelasnya dan minta daftar siapa yang mau ikut menjenguk. Tentunya dalam grup kelas itu ada Dania dan Kaka juga. Namun keduanya sudah jarang terlihat masuk kelas setelah kejadian waktu itu.
"Anak-anak banyak yang mau ikut nih. Mereka juga mau bawain buah dan makanan untuk keluarganya. Nggak papa kan ya? Kalau uang kayanya gimana gitu," ucap Malik meminta saran dari Kenny.
"Nggak papa. Kalau uang, agak sungkan sih kita kasihnya. Apalagi kan nggak seberapa. Kalau iuran pun kita nggak bisa mematok setiap orang berapa. Kasihan kalau nggak punya," ucap Kenny.
Malik menganggukkan kepalanya setuju. Mereka berencana untuk menjenguk Arnold setelah pulang sekolah nanti. Mereka akan iuran untuk membeli buah dan makanan lainnya.
***
"Bangun dong, dek. Kasihan nenek dan kakek yang harus bolak-balik ke rumah sakit. Apalgi mereka sudah tua. Hanya kamu yang bisa mengembalikan keluarga kita kaya dulu," ucap Abel yang kini bertugas menjaga Arnold.
Arnold sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Hanya saja remaja itu belum sadarkan diri hingga kini. Menurut dokter, ini hal yang wajar. Apalagi ada beberapa kerusakan pada sarafnya akibat pukulan yang sangat keras itu.
Abel yang tak melihat respons apapun dari Arnold hanya bisa menghela nafasnya kasar. Bahkan ia sudah hampir setiap hari dia mengajaknya berinteraksi. Namun tak ada perubahan signifikan. Abel segera merebahkan kepalanya di atas brankar Arnold dan memilih tidur.
"Kak Bel..." ucap seseorang lirih saat Abel sudah tertidur pulas dalam keadaan duduk.
Abel tak bergeming karena ia merasa tidurnya kali ini lebih nyenyak. Jika berada di rumah, Abel sama sekali tak bisa tidur nyenyak. Selalu kepikiran dengan kedua adik laki-lakinya dan Nadia.
Ternyata itu adalah Arnold yang sudah sadar setelah sekian hari tak sadarkan diri. Arnold melihat kakak perempuannya yang tertidur pulas dengan posisi yang menurutnya tak nyaman. Tangan Arnold yang terbebas dari infus segera saja mengelus lembut rambut Abel.
"Eh..."
Abel langsung terbangun saat merasakan ada yang mengelus rambutnya. Ia berpikir ini sudah sore sehingga ada yang membangunkannya untuk bergantian jaga. Namun dahinya mengernyit heran saat tak melihat ada siapapun di sana.
"Siapa yang ngelus rambut Abel? Kok nggak ada orang," gumamnya sambil mengedarkan pandangannya kearah ruangan itu.
__ADS_1
"Kak Bel..." panggil Arnold lagi dengan pelan.
Dengan masih dalam keadaan linglung, Abel mengalihkan pandangannya kearah Arnold. Mata Abel menatap tak percaya kearah Arnold yang sudah membuka matanya. Bahkan tangannya terlihat terlihat menggantung seperti akan mengusap rambutnya.
"Arnold, kamu udah sadar? MasyaAllah... Jadi yang ngelus rambut kakak tadi kamu?" tanyanya dengah mata yang berkaca-kaca.
Arnold hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya. Abel segera saja menghambur dalam pelukan Arnold dan menangis di sana. Abel sangat bahagia karena Arnold akhirnya sadar.
"Terimakasih sudah kembali. Terimakasih..." ucap Abel yang terus saja mengucapkan terimakasih pada Arnold.
Abel segera melepaskan pelukannya dan memberikan air minum pada Arnold. Abel juga langsung memencet tombol panggilan dokter dan perawat agar adiknya bisa segera diperiksa.
"Kak Bel, Alan sama bunda mana? Anara sama papa juga," tanya Arnold lirih setelah selesai minum.
Deg...
Jantung Abel berdetak lebih kencang akibat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Arnold. Ia kebingungan harus menjawab apa. Dalam kondisi seperti ini, tentunya ia tak boleh asal memberikan jawaban. Ia takut kalau jawabannya malah membuat Arnold kembali drop.
************
Jujur nih teman-teman, rencananya aku kemarin nggak akan lanjutin cerita ini soalnya kecewa sama aplikasi ini. Apalagi sekarang para author merasa kaya sumbang naskah ke aplikasi ini. Sebulan aja ini author nggak dapat apa-apa padahal udah 80 bab.
Nggak munafik, author butuh cuan biar bisa beli paket. Ini aja author dapat ya karena dari pembaca aja. Itu pun sehari cuma 500 perak lho, kadang cuma 200 atau 400 perak. Bayangin deh...
Tapi ya karena kalian yang setia ini, aku tetap update...
Maaf kalau sedikit curhat...
(Besok aku nggak update)
__ADS_1